Category Archives: Thoughts

Falling down is part of life…

…but getting back up is living.

Hari ini Hari Kebangkitan Nasional. Sejarah bilang bahwa satu abad yang lalu, beberapa pemuda ‘tercerahkan’. Mereka merasa udah saatnya kita nggak dipecah-belah terus-terusan oleh Belanda. Mereka merasa udah saatnya kemerdekaan Indonesia diperjuangkan. 30-an tahun kemudian cita-cita itu terwujud.

Apakah sepenuhnya terwujud? Ya nggak tau juga. Saya, karena satu dan lain hal, merasa Indonesia belum pernah bener-bener merdeka, dan masih terpecah-belah oleh kepentingan pribadi.

Tapi, dalam konteks yang lebih pribadi, saya menganggap hari ini cukup penting untuk saya tandai dengan satu janji, yaitu untuk bangkit lagi setiap kali terjatuh. Udah. Sesederhana itu aja.

Gambar diambil dari: http://chalkboardquotes.wordpress.com/2012/12/04/falling-down/falling-down-and-getting-up/

Selamat hari kebangkitan, Teman-Teman. Semoga semangat kita terbangkitkan lagi setiap pagi.

Ruang kerja itu…

…emang nggak perlu gede-gede.

Gambar diambil dari: http://nnxinhua.com/small-home-office-design-ideas/31/small-office-design-for-effective-workspace-my-office-ideas/
Gambar diambil dari: http://nnxinhua.com/small-home-office-design-ideas/31/small-office-design-for-effective-workspace-my-office-ideas/

Yang penting bukan seberapa gede ruangan kerjanya, tapi seberapa gede niat kerjanya.

Tapi, nggak nolak juga kalo dikasih tempat kerja di sini:

Gambar diambil dari: http://www.thepicketfence.com/blog/2013/02/guest-blog-rooms-with-a-view/
Gambar diambil dari: http://www.thepicketfence.com/blog/2013/02/guest-blog-rooms-with-a-view/

Yuk, deh. Mari kerja lagi, sambil berdoa suatu saat dikasih kesempatan ngeliat menara itu dari deket.

Korupsi adalah korupsi. Berapa pun jumlahnya. Apa pun niatnya.

Dalam beberapa hari ini, saya melihat sendiri betapa pedulinya masyarakat Indonesia pada kejadian Kompol Novel Baswedan (moga-moga nggak salah sebut, ini) yang ditangkap polisi. Penangkapan ini berhubungan dengan penyidikan kasus korupsi yang dicurigai dilakukan pihak polisi.

Saya bangga, begitu banyak lapisan masyarakat yang mendukung aksi  #SaveKPK, baik offline maupun online. Saya sendiri termasuk yang bersemangat menandatangani petisi offlinenya.  Tapi setelah tandatangan, saya jadi berpikir lagi, saya sendiri bersih korupsi nggak ya? Kayaknya sih nggak. Nilainya memang nggak milyaran sih, tapi, walau malu, saya harus jujur, saya juga sering melakukan korupsi.

Saya pernah ngantor selama belasan tahun. Fasilitasnya banyak. Salah satunya, ponsel dan pemakaiannya. Saya beruntung dibebaskan menggunakan ponsel sesuka saya. Bisa dibilang, nyaris tiap bulan penggunaan pulsanya berlebih dibandingkan yang seharusnya. Karena saya menelpon rumah, menelpon teman, mengundang presentasi MLM, dan lain-lain menggunakan telpon kantor itu. Pernah ada satu masa di mana para pegawai diminta membayar sendiri pemakaian pribadi. Walhasil, beramai-ramai kami mencontrengi mana-mana saja pemakaian telpon yang bukan tentang urusan kantor. Tapi toh laporan kami ini nggak pernah bener-bener diperiksa juga. Jadi sebenarnya itu hanya untuk formalitas. Akhirnya, ya kami sesuka hati juga mengakuinya. Dan setelah sekian bulan, mungkin karena admin kantor jadi lebih repot akibat tugas tambahan ini (baca: terpaksa nyediain uang kembalian), kegiatan ini berhenti.

Apa lagi yang dikorupsi? Oh, banyak. Printer kantor dipakai untuk mencetak berbagai hal di luar urusan kantor. Nyetak undangan ulang tahun anak-anak, misalnya. *gedumbreng*

Mesin foto kopi, dipakai untuk fotokopi entah apa aja. SIM, KK, KTP, sertifikat rumah. :p

Internet kantor, dipakai untuk browsing online shopping dan friendster. Iya, masih ada friendster waktu saya ngantor, hehehehe…

Mobil kantor. Ini juga seru nih. Pakai mobil kantor untuk urusan pribadi. Nganter pulang ke Serpong (bukan, ini bukan saya, karena dulu rumah saya deket kantor). Nganter ke mal padahal masih jam kantor. Nganter interview ke kantor lain. Hohoho… Hebat kan? Eh, tapi, ini juga bukan saya. Dulu kalau saya interview di jam kantor, naik taksi. Soalnya takut ketauan. ;p

Nah, jam kerja pun juga dikorupsi dong. Saya sekarang udah nggak ngantor. Dan kalau saya ada di mal di bilangan jalan TB Simatupang, pagi-pagi sekitar jam 10, malnya juga baru buka, berapa sering saya ketemu mbak-mbak berpakaian kantor berseliweran di shoes and bag department? Sering banget. Kalau dibilang mereka mau brunch meeting, ya nggak juga, wong nggak bawa apa-apa selain ponsel dan dompet. Kadang-kadang ada yang cuma bersandal pula.

Dulu, saya sering tuh sampai kantor jam 10, tapi pulang tetap jam 5 teng. Atau datang dan pulang tepat waktu. Jam 8 sampai jam 5. Tepat waktu sih, tapi udah kabur makan siang dari 11.30 dan baru sampai di kantor lagi jam 14.00. Ini saya. Ini saya banget.

Saya beruntung akhirnya diPHK. Bukan, bukan karena korupsi kecil-kecil ini, tapi karena perusahaannya bangkrut. Eh, tapi bangkrutnya mungkin juga gara-gara rame-rame dikorupsi pegawainya kali ya. Hehehehehehe… Setelah diPHK, nggak ada lagi kan yang bisa saya korupsi.  Eh, kata siapa?

Ceritanya, kami kan punya usaha laundry kiloan nih. Lho, itu kan nggak bisa dikorupsi? Masak bisnis sendiri dikorupsi? Hehehe… Jangan salah. Kadang tergoda juga lho untuk ngelondriin baju sendiri (yang berkilo-kilo itu) dan nggak bayar. Padahal, toh kalo bayar ya sama aja dengan mindahin uang dari kantong kanan ke kantong kiri juga sebenarnya, kan. Alias, sama aja gitu. Yang nggak sama justru ya itu tadi, memakai jasa pegawai-pegawai kita untuk kepentingan pribadi, dan NGGAK BAYAR. Atau pakai uang laundry dulu untuk keperluan lain, dan NGGAK DIBAYAR-BAYAR. Kalau jangka pendek, mungkin nggak akan berasa efeknya. Tapi jangka panjang?

Pertama, lama-lama kita akan pusing dengan cashflow kita sendiri. Kita akan selalu merasa punya uang, padahal sebenarnya itu uang bisnis kita. Ah, tapi kan jumlahnya kecil. Bayarnya nanti-nanti ajalah. Nah, ini masalahnya dengan mengentengkan hal yang kecil-kecil. Kita jadi tergoda untuk melakukan yang lebih besar. Sering menunda membayar yang kecil-kecil akan membuat kita berani meminjam dalam jumlah lebih besar. Lama-lama kita nggak segan lagi menunda bayar ‘pinjaman’ yang lebih besar. Akhirnya? Begitu terus, kayak bola salju yang digulingkan. Kecil awalnya, tapi kalau diluncurkan terus, makin lama akan makin besar.

Kedua, pegawai-pegawai juga jadi nggak respek sama kita. Gue kerja keringetan capek-capek, dia yang enak-enakan nikmatin profitnya. Sekarang, tenaga gue nggak dibayar, lagi. Coba, jika pegawai kita udah berpikir seperti ini tentang kita, kualitas kerja seperti apa yang kita harapkan bisa dia berikan untuk bisnis kita?

Orang dengan integritas tertinggi yang pernah saya temui adalah @muadzin. Beliau kerja kantoran 14-15 tahun, dan nggak pernah sekali pun dia memakai telpon kantor untuk urusan pribadi. Dulu, kalau dia telpon saya, dia telpon pakai handphonenya sendiri. Setiap terpaksa numpang fotokopi di kantor, beliau bayar sendiri. Dan, yang saya tau, sejak beliau sibuk menjalankan bisnisnya @SemerbakCoffee sambil masih tetap ngantor, beliau hampir nggak pernah tidur di bawah jam 2 pagi setiap malamnya. Kenapa? Karena @muadzin ini menyelesaikan hutang kerjaan bisnisnya malam setelah anak-anak tidur. Setelah istrinya tidur. ;)

Selama di kantor, waktunya ya untuk kantor. Suami saya ini nyaris nggak keluar makan selama istirahat kantor, karena dia mengerjakan urusan bisnisnya ya selama jam istirahat itu. Untuk makan siang, dia pesan dibelikan Office Boy. Beliau makan sambil mengerjakan tugas bisnisnya. Begitu istirahat selesai, bisnis pun selesai, dan kembali lagi ke pekerjaan kantor.

Dulu, kita ke kantor naik kereta. Dan jadwal kereta itu aneh sekali. Dari Depok, satu-satunya jadwal kereta yang memungkinkan kita sampai di kantor sebelum jam 8 adalah kereta 06.25. Jadi, jam 6 pagi, suami saya sudah terbirit-birit ke stasiun untuk sampai di kantor sekitar jam 7 lewat sedikit. Pagi banget kan? Pagi banget. Mestinya bisa dong, pulangnya nggak persis jam 5? Ya nggak bisa. Karena jam kantornya kan selesai jam 5.

Dan Pak Muadzin ini nggak peeeeeernah sekali pun pulang di bawah jam 5, kecuali kalau ijin sama bosnya. Padahal, dulu nih, jadwal kereta pulang dari Sudirman ke Depok yang di bawah jam 6 sore itu cuma ada 3. Kalo nggak salah nih ya.. 16.57, 17.21, dan 17.50. Ah, lupa deh. Ya kira-kira jam segitu. Nah dua yang terakhir, yang setelah jam 5, itu penuh minta ampun. Sedangkan yang 16.57 biasanya lebih kosong. Maksud saya nih, kan nyampe kantornya juga jam 7 gitu lho. Masak sih pulang lebih cepet sedikit dari jam 5 aja nggak boleh. Supaya masih sempet dapet yang kereta awal. Tapi nggak, lho. Nggak pernah suami saya ini mau pulang sebelum waktunya. Jadi, walhasil, kita sering deg-degan karena beliau sering hampir ketinggalan yang 17.21. Sebel nggak sih?

Tapi itulah integritas.

Sekarang, beliau kan udah resign tuh dari kantornya. Cerita lengkapnya ada di sini. Sekarang nih, walau baru jalan ke head office @SemerbakCoffee sekitar jam 10, tapi beliau ini di rumah udah utak-utek utak-utek kerjaan sejak jam 8. Kira-kira beberapa menit setelah anak-anak dijemput mobil jemputan masing-masing.  Dan nggak pernah, sekali lagi yaaa, NGGAK PERNAH, setiap malam, sebelum tidur, dilewatkan tanpa mengerjakan dulu apa-apa yang berhubungan sama bisnisnya. Entah balas email, entah ngurusin facebooknya SemerbakCoffee, entah ngeblog di http://muadzin.com . Pokoknya ada aja.

Jadi, apa saya bangga sama integritas bapak yang satu itu? Iya.

Apa saya malu dengan korupsi-korupsi kecil yang dulu saya lakukan? Mmm… iya juga, sih. Tapi berhubung banyak temennya, jadi ya nggak terlalu malu.

Kalau disuruh balik lagi ke masa lalu, apa itu semua masih akan saya lakukan? To be really, really, honest… I don’t know. *tutupmuka* *bukalagi*

Apakah itu berarti saya nggak mendukung gerakan #SaveKPK? Ya nggaklah! Masak korupsi ratusan milyar didiemin aja? Saya sudah tandatangan petisi offlinenya di sini: http://www.change.org/id/petisi/serahkan-kasus-korupsi-polri-ke-kpk-hentikan-pelemahan-kpk

Kenapa saya nggak ikutan demo di mana pun yang lagi ramai berkumpul orang-orang untuk #SaveKPK? Ya bukan karena saya nggak peduli, tapi karena saya ini pemalas. Dipanggil meeting urusan kerjaan aja masih suka ngeles, apalagi diajak demo. Saya salut banget sama kelas-kelas menengah yang begitu peduli sama masalah ini dan bersedia turun ke jalan. That takes courage. That shows responsibility.

Tapi bagi saya, yang nggak seneng panas-panasan ini, demo ke jalan adalah salah satu cara untuk membersihkan Indonesia. Salah satu cara kecil yang bisa saya pribadi lakukan dari rumah sebagai warga negara ini adalah mengajarkan anak-anak saya untuk meniru integritas bapaknya. Iya, hanya bapaknya. Karena ibunya udah terbukti nggak punya integritas sebesar itu. Sulit, pastinya. Sulit dong, ngajarin orang lain sesuatu yang nggak pernah kita lakukan sendiri. Nggak pernah practice what I preach. Tapi ya itu aja target jangka menengah saya sekarang ini. Ngajarin anak-anak untuk jujur, untuk nggak mengambil apa pun yang bukan haknya.

Karena korupsi adalah korupsi: nggak bersih. Berapa pun jumlahnya. Apa pun niatnya.

Memilih Bahagia

Beberapa waktu lalu, saya pulang setelah acara reuni makan malam dengan teman-teman lama. Di perjalanan, di sebuah sudut jalan, saya melihat sesosok balita berdiri di sebelah ibunya dalam kegelapan. Kalau melihat cara berpakaiannya, kemungkinan ibunya berprofesi sebagai peminta-minta pinggir jalan.

Pemandangan yang saya lihat sebenarnya sangat biasa. Kita menemukannya setiap hari di setiap sisi Jakarta. Yang membuat pemandangan itu menarik adalah karena balita itu dari jauh terlihat sama persis dengan anak saya yang paling kecil. Sama-sama kelihatan baru belajar jalan, dengan tinggi dan ukuran badan yang sama.

Namun yang paling menarik perhatian saya, kedua ibu dan anak itu sedang berpelukan dan tertawa bahagia. Entah karena apa. Dan saat itulah, ketika mobil saya melaju menjauh, saya menangis.

Saya menangis, karena saya tahu, inshAllah anak saya sedang tidur dengan nyaman di rumah. Saya tahu, inshAllah anak saya besok pagi bisa minum susu dan makan makanan bergizi. Sedangkan, pada saat yang sama, saya tidak tahu besok pagi akan bagaimana nasib anak di pinggir jalan itu – anak yang dari jauh tampak seperti anak saya itu.

Saya menangis, karena bahkan dalam ketidakpastian itu, ibu dan anak tadi masih memilih untuk tertawa.

Saya jadi takjub sendiri. Saat seseorang dalam keadaan nyaman, seorang lainnya bisa berada dalam ketidaknyamanan. Saat seseorang diuji dengan kemudahan, seorang lainnya diuji dengan kesulitan. Dan suatu saat, keadaan bisa berubah 180 derajat. Tidak ada yang mutlak. Tidak ada yang pasti. Hidup ini justru ‘hidup’ karena ketidakpastian.

Namun satu hal saya tahu pasti. Di tingkat manapun kita berada dalam kehidupan ini, kita selalu bisa putuskan untuk merasa bahagia. Karena merasa bahagia adalah sebuah pilihan.

To forgive. To move on.

Ada kejadian kecil di sekolah anak saya baru-baru ini. Seorang anak, sebut aja Atika, terjepit tangannya di pintu mobil jemputannya. Pasalnya, temannya, Denaya (bukan nama aslinya) nggak sengaja menutup pintu dengan tergesa. Akibatnya, jari-jari Atika bengkak.

Kenapa saya bisa tau? Karena ibu Denaya meminta maaf dengan tulus dan terbuka di BBM grup kami. Mama Atika, tadi Denaya cerita kalau jari Atika kejepit. Denaya minta maaf ya ma, katanya dia nggak sengaja..

Terharu nggak sih, anak kelas 1 SD sudah berani jujur mengakui kesalahannya dan minta maaf. Tapi yang lebih terharu lagi adalah saat ibunya Atika menjawab, Nggak apa Ma. Atika juga bilang Denaya nggak salah, karena dia nggak sengaja..

Hangat rasanya hati saya. Anak-anak 6 tahun ini sudah bisa saling memaafkan. Tak menyimpan dendam.

Saya jadi ingat kutipan dari film Georgia Rule (diperankan Lindsay Lohan): To forgive is to move on with your life.

Saya termasuk yang masih suka memelihara kesumat pada orang-orang yang ‘bersalah’ pada saya. Kadang, bertahun-tahun saya masih sebel, eh yang disebelin sudah dengan santainya minta maaf dan melanjutkan hidupnya. Nggak enak sekali kan rasanya?

Karena esensi dari memaafkan sebetulnya bukan agar kita berdamai dengan orang lain. Memaafkan adalah berdamai dengan diri sendiri.

So forgive. And move on.

Saat ‘musibah’ datang minta dipelajari..

Seorang teman sedang ditantang ujian. Anak se-matawayang-nya  – setelah melalui berbulan-bulan rangkaian tes – didiagnosa mengidap leukemia. Seorang gadis kecil 5 tahun, seusia Arkana saya, sekarang sedang menghadapi puluhan jadwal kemoterapi.

Sejak saya mendengar berita ini beberapa hari yang lalu, sampai saat ini, saya bahkan belum menanyakan kabarnya. Boro-boro menelpon. Saya bahkan belum sekedar mengirimkan SMS.

Karena sungguh, apa yang bisa saya katakan? Apa yang bisa saya katakan tanpa merasa bersalah?

Apa yang bisa saya sampaikan? Bahwa ia harus bersabar? Tidakkah ia tau bahwa ia memang SEDANG bersabar? Tidakkah ia geram mendengar saran bertubi-tubi dari berbagai orang yang isinya sama. Sabar ya.... Betulkah kalimat penghiburan standar seperti ini bisa menghibur? Bisa meringankan beban? Mungkin bisa. Saya nggak tau.

Saya ingin bersyukur bahwa kejadian ini tidak saya alami.  Tapi sungguhkah perlu bersyukur di atas kejadian sedih yang dialami orang lain? Betulkah ‘musibah’ yang sedang ia alami ini benar-benar sekedar musibah? Atau jangan-jangan itu semua justru penghargaan terbesar yang bisa Allah berikan padanya? Saya betul-betul nggak tau.

Yang akhirnya saya lakukan adalah berdoa. Agar teman baik saya ini dikuatkan. Agar anaknya dikuatkan. Agar apa pun hasil perjuangan mereka akan membawa mereka lebih dekat padaNya. Agar siapa pun yang disentuh oleh kejadian ini bisa belajar sebanyak apa yang sedang mereka pelajari.

Saya janji, saat saya (akhirnya memberanikan diri) menjenguknya dan anaknya, saya janji, saya hanya akan memeluknya. Mungkin saya akan menangis. Mungkin juga tidak. Tapi saya akan memeluknya. Agar ia tau ada orang yang sedang ikut belajar bersamanya.

Is it really never too late to learn?

Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya siang ini: Apa udah terlambat untuk mulai menulis di usia gue ini?

Saya sempet terkesima. Kalau sekedar saya jawab tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, walaupun memang bener, tapi klise banget kan ya.

Saya jadi mikir, saya juga nggak muda-muda amat sih waktu mulai belajar menulis skenario film. Umur saya 36 tahun waktu itu. Saya sih nggak merasa tua, tapi jelas 36 tahun itu sedikit lebih senior dibandingkan temen-temen seperjuangan saya yang usianya 20an tahun.

Malah, guru saya, Titien Wattimena (@tinut) memperkenalkan saya ke koleganya sambil cekikikan, Kenalin nih, penulis tua berbakat, sebagai pelesetan dari ‘penulis muda berbakat’. Oh ya, btw, berbakat atau nggaknya, sepenuhnya bukan saya yang menilai ya, tapi orang lain. Walau sebenernya buat saya nggak penting sih penilaian orang lain, yang penting cuma penilaian bu guru saya yang baik hati itu.

*tiba-tiba pengen nyinyir hehehe*

Owwkeeyy.. jadi kembali ke pertanyaan teman saya ini tadi, saya jadi tiba-tiba teringat sama David Seidler, penulis The King’s Speech. Skenarionya menang di Oscar 2011. Dan berapa usianya saat mendapat penghargaan ini? 73 tahun!

Barusan saya baca lagi profilnya di wikipedia. Kalau saya nggak salah ngerti, beliau baru mulai mengejar mimpi Hollywoodnya di usia 40. Beliau menulis berbagai film, tapi baru dengan film The King’s Speech-lah beliau memenangkan Oscar.

Perjuangan beliau dalam menulis TKS pun nggak main-main. Sejak 1970an beliau sudah bercita-cita menuliskan film ini dan mulai melakukan berbagai riset. Tapi di tahun 1981, Ratu Inggris memintanya melupakan ide itu. Dan proyek itu pun resmi ditutup di 1982.

Ibu Ratu meninggal di 2002. Tapi Seidler tidak langsung memulai penulisan filmnya, sampai akhirnya di tahun 2005 ia didiagnosa mengidap kanker tenggorokan. Diagnosa itu malah membuatnya teringat bahwa ada mimpinya yang belum terlaksana, yaitu menulis tentang Raja George VI (si tokoh dalam film tsb).

Dan kita semua tau akhir cerita ini. Ia adalah pemenang Oscar dengan usia tertua, kategori penulis skenario.

Inspiratif? Sangat.

Apakah saya bisa seperti beliau? Yah… Kalau saya bisa mencapai sepersepuluh saja dari apa yang beliau capai, saya anggap diri saya penulis skenario yang berhasil.

Tapi apakah saya jadi merasa muda? Udah pasti.. :)

Jadi, apa bener tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar? Bener. Kecuali buat yang merasa tua dan memang sengaja mengizinkan dirinya terlambat. :)))