Category Archives: Short stories

Kuning

Jum menghela nafas panjang. Ia sandarkan punggungnya lekat di dinding kusam rumah kontrakannya. Alu dan lumpang yang menguning teronggok lelah di hadapannya, letih akibat dipakai belasan tahun. Jam dinding putih bercetak nama sebuah apotik, pemberian salah satu pelanggannya, berdetak seakan lebih cepat dari seharusnya. Jam 5, batin Jum, pesanan Bu Mita saja belum sempat aku jerang.

Ia angkat tubuhnya yang berat, lalu terseok menuju kompor minyak tanah yang berjarak dua langkah dari tempat ia duduk tadi. Desis uap panas dari jerangan air di panci membubung ke langit-langit rumahnya, langit-langit yang sekelabu selaput tipis di matanya. Peluh menderasi jarik yang terkalung kuyu di lehernya yang berlipat menghitam. Terakhir ia mencuci jarik itu mungkin sekitar dua tahun yang lalu, dan jarik itu sekarang berbau asam pahit. 

Bunyi denting botol-botol yang saling beradu menyelingi sengal nafas Jum. Jari-jarinya yang gemuk dan kuning oranye perlahan mengatur letak botol itu di dalam bakul gendongnya, hati-hati sekali karena uang sekolah anaknya di kampung ditunaikan oleh isi botol-botol tadi.

Ia lingkarkan jarik kumal itu ke sekeliling bakul tadi. Dengan sekali sentak, bakul itu terangkring kencang di pinggulnya. Seiring sentakan itu, Jum merasa lantai di bawahnya sedikit bergoyang. Nanar, ia raih cepat dinding yang terdekat. Engahan nafasnya menderu. Akhir-akhir ini ia memang merasa tak sehat, entah sebab apa. Seakan tubuhnya gamang terus, terayun. Jum menguatkan tekadnya. Langkahnya lambat menyusuri jalan setapak kampungnya yang riuh rendah.

Ia tiba di gerbang sebuah perumahan. Betapa damainya lingkungan ini, pikirnya, untuk entah yang keberaparatus kalinya. Satpam-satpam di gerbang depan terlihat sibuk menyapa mobil yang lalu lalang. Ia mengangguk pada salah satu dari mereka, yang kebetulan beradu pandang dengannya, sambil mengingat-ingat, masih berapa ribu lagi sisa hutang para satpam itu padanya.

Ia berhenti di depan sebuah rumah. Rumah besar yang terdengar sungguh ramai dari luar. Suara anak-anak berkelahi dan menangis riuh di dalam tiris sampai ke tempat ia duduk di teras depan. Ia meluruskan sendi kakinya yang kaku. Jariknya yang sangit disekanya sepanjang dahinya. Ibu pemilik rumah itu keluar. Tumben, pikirnya, biasanya mbaknya yang keluar. Wah, aku bau sekali ini, pikirnya lagi.

Biasa ya, Mbok.. Ibu muda itu menyorongkan gelas mug besar berwarna putih yang bersablon foto anak-anaknya. Jum tersenyum. Pake pahitan juga, Bu? Si ibu muda mengangguk. Dalam diam, Jum menuangkan berbagai cairan ramuan ke gelas putih itu. Ibu itu memperhatikan dengan penuh minat, seakan baru sekali itu melihat seorang mbok jamu meracik ramuannya.

Mbok tangannya kuning bener, katanya sambil menerima gelas yang penuh terisi. Jum tertawa kecil, sopan. Bisa hilang nggak kuningnya, Mbok? Jum terkekeh. Yaa, selama masih nggerus kunyit ya nggak bisa, Bu.. Ibu itu tersenyum sambil meneguk habis isi gelasnya.

Berapa, Mbok? Tanyanya sambil beranjak masuk. Tiga ribu, Bu.. sahut Jum sambil membereskan isi bakulnya. Ibu muda itu tak lama keluar, menyorongkan lembar biru. Lima puluh ribu. Jum mengernyit, Waduh, saya belum ada kembaliannya, Bu.. Ibu itu menghela nafas, lalu menghilang lagi ke dalam rumah, dan tak lama muncul dengan lembar biru yang sama. Saya juga nggak ada uang kecil, Mbok.

Dengan berat, Jum akhirnya berkata, Ya udah, nggak apa-apa, besok aja Bu.. Dan dengan ringan, ibu muda tadi mengganguk, berkata terima kasih, dan meninggalkannya di teras. Membawa lembar biru tadi. Sama sekali tak sadar betapa uang tiga ribu itu sungguh berarti bagi Jum saat itu.

Ah, Tati sudah berkirim SMS padanya tadi pagi. Batas pembayaran uang sekolah Diman, cucunya, adalah Jumat ini. Berarti Kamis malam uang sudah harus sampai di tangan Tati. Berarti paling lambat Rabu siang sudah harus ia kirimkan. Dan ini sudah Senin, pikirnya, pening. Ia beranjak dari sana, menggendong bakulnya. Punggungnya letih. Hatinya lebih letih.

Jamu, Buuu…. ujarnya di depan sebuah rumah kecil yang asri. Rumah kesekian puluh yang ia singgahi sepagian itu. Rumah itu nampak sepi, hanya seorang asisten rumah tangga terlihat sedang menekuni wajan di dapur. Asisten yang manis itu melongok ke luar jendela dapur, lalu membuka pintu. Bu Mitanya kan ke kantor, Mbok, ujarnya sambil tersenyum. Ah, ya, tentu saja, ini kan Senin. Iya, sahut Jum, aku nitip ini aja Mbak, kemarin Ibu pesen, tho.. ia sorongkan sebotol cairan kuning ke asisten tadi. Si asisten menerimanya sambil masih tersenyum. Iya nanti aku sampein, Mbok. Suwun yoo..

Jum ragu. Tak yakin apakah harus menunggu upahnya. Sepuluh ribu, Mbak’e.. akhirnya ia berkata ragu. Asisten itu hanya mengangguk pendek, bersiap menutup pintu.

Uangnya udah ada, Mbak?  tanya Jum kembali, memberanikan diri. Aku nggak dititipin eh, Mbok.. Sesuk yo.. si asisten menjawab halus, menyudahi pembicaraan, dan perlahan menutup pintu dapur.

Jum termangu. Mata kelabunya redup. Namun tak lama, mata itu kembali memancarkan sedikit semangat, mengingat pangkalan ojek persinggahannya yang berikut.

Biasa, Mas? ia menyapa halus sambil mengurai jarik dari bakul dagangannya. Serta-merta sekian pengemudi ojek itu meriung di sekitarnya. Sebagian besar berharap jamu kuat. Sebagian butuh ditolak anginnya. Maklum, Mbok, sering masuk angin, kekeh salah seorang dari mereka sambil melepas kacamata hitamnya, namanya juga tukang ojek.., lanjut pria itu, menenggak habis gelasnya.

Duh, kok ya ada aja yang masih kas-bon, keluhnya pilu dalam hati. Nggak wong kaya, nggak tukang ojek kok ya sama aja suka ngutang.. Mungkin aku perlu punya buku hutang ya..

Ia menyeret tubuh gemuknya perlahan meninggalkan perumahan itu, kembali menuju pos satpam yang ia lalui tadi. Beberapa satpam menghampirinya.

Biasa, Mas? sapanya tersenyum. Jum sibuk menuang dan mengaduk.

Ngebon lagi ya, Mbok, seru seorang dari mereka. Jum merasa nafasnya sesak. Kan yang kemarin aja belum dibayar, Mas.. ia memberanikan diri menolak.

Ya udah, kalau nggak boleh ngebon, situ bayar bulanannya sekarang deh, sahut pria itu tanpa beban. Tengkuk Jum terasa panas. Lho, piye tho? Ini kan baru tanggal tiga, Mas. Biasane boleh sampe tanggal sepuluh kan.. 

Terdengar seseorang dari kejauhan berseru, Peraturan baru, Mboook! Masa nggak boleh bikin peraturan baru, ujar pria itu, sayup tergelak.

Jangan gitu dong, Mas, kita kan sama-sama orang kecil, sama-sama susah… Jum mendengar dirinya menghiba, suaranya tercekat di pipa lehernya.

Dikalahkan telak, Jum beranjak berdiri, pasrah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan haknya. Terbayang SMS Tati yang belum jua bisa ia balas karena belum ada dana untuk pulsa.

Bakul gendongnya terasa lebih berat dari pagi tadi, walau botolnya sudah banyak yang kosong. Jari-jari kakinya yang kering dan berkerak sekuat tenaga mencengkeram tali sandal jepitnya yang meregang hampir putus. Urat-urat di tengkuknya mengeras, menjalar bertimbulan hingga ke pelipis. Kerongkongannya kering, sekering sakunya. Terik matahari tajam menghunjam rambut tuanya yang keperakan. Selapis kelabu di matanya mengerut menghalau silau.

Aspal yang ia pijak terasa bergoyang. Jalan raya lebar itu didesingi ratusan mobil dan motor. Sepasang sandal usang itu melangkah maju, lemah dan gugup. Kelebat berbagai warna logam yang bising di hadapannya mendadak membuat Jum panik. Dunianya sekonyong berputar. Matanya berkerjap nanar. Tak sadar, jemarinya menggapai mencari pegangan. Tanpa hasil. Dan tiba-tiba, dalam dunia Jum, semua warna mengelam. Semua suara teredam. Gelap. Hening.

Berbagai suara. Logam-logam berhantam. Tulang-tulang berderak. Jerit tinggi dalam berbagai frekuensi. Klakson adu gaduh. Berbagai warna. Aspal abu-abu. Rambut keperakan, merah dan basah. Ponsel kuno hijau, pecah. Dan jemari gemuk yang kotor, tergeletak kaku di sebelahnya. Kuning.

Senda

Sen berlari sepanjang jalan panjang yang menurun itu. Beberapa kali kaki kecilnya yang telanjang tersandung aspal yang tercungkil di sana sini. Adiknya, Da, seorang bayi laki-laki berusia 1.5 tahun, terlontar-lontar di punggung kecil Sen. Kain batik kumal yang mengikat pantat Da bergeser sedikit setiap kali Sen terjegal jalan.

Maaf ya Da! nafas Sen memburu, tapi kita harus tetap lari. Belasan orang yang tadinya berada di belakang Sen, berhasil lari mendahuluinya. Sama terengahnya. Sama paniknya. Ada yang menggendong anaknya. Ada yang menggendong buntalan pakaian. Ada yang menggendong seekor kambing.

Suasana kacau balau. Riuh. Ayam kampung berkotek pating serabut, menghambat penduduk kampung yang lintang pukang melindas mereka. Leteran bebek terdengar bersahutan dengan teriakan panik manusia dan tangis bingung para bayi. Geraman motor yang dipacu kaki-kaki tak sabar berusaha mengalahkan kegaduhan lainnya.

Sen terus berlari. Sesekali menengok ke sekitar, seakan mencari sesuatu. Atau seseorang. Da sudah mulai menangis panjang di punggung Sen, ketakutan dengan berbagai kekacauan di sekitarnya. Sen berhenti, memutar belitan kainnya sehingga sekarang posisi Da berada persis di bawah ketiaknya. Ssh ssh.. bujuknya tergesa, sabar ya Da.. Sebentar lagi kita sampai di bawah. Dan dengan Da dalam pelukannya, Sen berlari lagi.

Cepet! Cepet! teriak seorang ibu yang menggandeng dua orang anak lelaki kecil, Asap panasnya sudah makin deket! Sen mempercepat pacuannya. Lengan kirinya, tempat adiknya bersandar sepenuh beban, mulai tak terasa. Ujung kain batik yang terlalu panjang untuk tubuh kecilnya, terseret-seret di belakangnya. Butiran peluh yang besar-besar luruh di sepanjang sisi-sisi wajahnya. Demikian keras dadanya berdentam, Sen merasa jantungnya bisa pecah kapan saja.

TONG TONG TONG TONG TONG! Terdengar talu kentongan yang datang dari sebuah tempat di ujung jalan menurun itu. Beberapa truk kecil terlihat berkejaran ke arah atas, ke arah datangnya Sen. Tak lama, truk-truk itu disusul ambulans dan truk tentara yang sama gaduhnya. NGUING NGUING NGUING… WIING WIING WIING WIING! Da yang tadi sudah hampir berhenti menangis, sekarang menjerit lebih kencang.

Mata Sen mulai terasa panas. Sebagian karena sesak asap yang mulai memadati udara, sebagian karena jalaran ketakutannya. Ia ingin sekali, saat itu juga, berhenti berlari, dan duduk melesak di atas aspal rusak itu. Ikut menangis bersama Da, meringkuk memeluknya. Dan menyerah pada apapun saja yang  akan terjadi pada mereka. Tapi ia ingat perkataan mendiang ayahnya, satu-satunya nasihat ayahnya yang ia ingat, bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Ayahnya bilang, itu janji Allah. Dan Allah tak pernah ingkar janji. Bisa ditepati sekarang, bisa ditepati nanti. Tapi pasti ditepati. Maka, lari Sen yang tadi sempat melambat, mulai berkejaran lagi.

Alam nashrah laka sadrak.., lafaz bibir kecilnya. Wawada’na anka wizrak.., Sen terus berlari.

ALLAHU AKBAAAAAAR! lengking seorang Bapak. Sen menengok ke belakang. Bapak itu sedang jatuh tersungkur. Puluhan manusia di belakangnya tak satupun peduli, tak satupun berhenti dan membantunya berdiri. Mereka terus berlari, menghindar dari tubuh yang terguling itu. Menginjak kakinya. Menginjak dadanya. Menginjak tangannya. Menginjak kepalanya. ALLAHU AKBAAAR! teriak Bapak itu lagi, sesaat sebelum dua pasang kaki meretakkan tulang kepalanya. Sen menutup matanya ngeri. Meneruskan larinya. Ia tak tahu, mana yang lebih memedihkan. Mati tergilas alam, atau mati tergilas manusia-manusia yang mungkin pernah jadi tetangga kita.

Alladhi an kada zahrak.. warafa’na laka dhikrak..

Sen! Da! panggil seorang ibu yang menggendong seorang perempuan kecil. Ibu Tarni, tetangga Sen. Suaminya, Jono, memburu di belakangnya, membopong seekor kambing betina yang sedang bunting. Ayo, cepat! Asap panasnya sudah satu kilo di belakang kita. Sen mempercepat langkahnya. Tak mungkin lagi. Kakinya sudah lelah dibebani tubuh adik bayinya dan tubuhnya sendiri, berlarian sejauh 3 kilometer.

Ibumu tadi kena asap panas, Sen, teriak Ibu Tarni sambil terus tergopoh. Nggak jauh dari sawah.., suara Tarni lagi, tersedak karena berlari dan karena menelan isaknya. Maaf aku nggak bisa nolong ibumu Sen..

Fa inna ma’al usri yusran.. Gadis 6 tahun itu terus melafaz. Berlari. Terpental-pental. Tersedan. Inna ma’al usri yusra..

Gunung Merapi yang agung masih mengamuk di belakang mereka.

Citos, Jul 9, 2011

Karaoke

Umurnya sudah tidak terlalu muda. Tidak muda, jika batas mudanya seorang wanita adalah 35 tahun. Dora namanya; sebuah nama yang tidak terlalu ia sukai, terutama sejak duabelas tahun terakhir, saat sebuah filem kartun anak-anak menggunakan nama itu sebagai nama tokoh utamanya. Ia membayangkan bahwa jika seseorang sekarang mendengar namanya disebut atau menyebut namanya, maka yang pertama terlintas dalam benak mereka adalah gambar si karakter kartun tadi.

Sudah tigabelas tahun terakhir ia merasa hidupnya terombang-ambing. Antara ada dan tiada. Ada, berbagai rutinitas yang membuatnya lintang-pukang setiap hari. Namun tiada tujuan. Tiada makna. Begitu selesai kuliah dan masuk ke dunia kerja, ia merasa hidupnya melompong. Seperti setangkup kulit kacang; kosong dan kering setelah ditinggalkan isinya.

Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Ia tak tahu apa namanya. Ia hanya tahu dari berbagai isyarat tak enak yang digeletarkan oleh tubuhnya bahwa apapun yang sedang ia jalani sekarang bukan sesuatu yang ingin ia lakukan dengan hidupnya. Orang-orang menyebutnya ‘gairah’. Ada yang menyebutnya ‘semangat’. Tapi bukan itu. Bukan itu tepatnya yang menghilang dari kesehariannya.

Sudah lima belas tahun ia bekerja, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Bukan mencari sesuatu yang hilang itu. Bukan. Ia tahu sesuatu ‘itu’ tak akan ia temukan selama ia masih mengerjakan yang ia kerjakan. Ia berpindah semata karena yakin, yah – separuh yakin, bahwa dengan berpindah ia akan bisa menghapus sedikit jejak rasa kehilangan itu dengan imbalan uang yang sedikit lebih besar.

Tapi toh akhirnya akan sama saja. Setelah beberapa bulan di tempat yang baru, ia merasa semakin tersesat. Ingin pergi, tapi tak ingin pergi. Ingin lari, tak tak mau lari.

Maka ia putuskan untuk tidak mengambil keputusan.

Suatu hari, suatu sore yang tidak istimewa. Ia duduk di ruangan kantornya yang tidak istimewa. Memandang dengan kening berkerut pada sebuah diagram di hadapannya. Ia membenci diagram-diagram seperti ini, gambar-gambar kecil yang tidak ia mengerti, yang memaksanya duduk diam berpikir dan pada akhirnya hanya memperdalam rasa tidak percaya dirinya. Setelah beberapa menit, ia menyerah, melemparkan pena di tangannya dengan putus asa ke atas meja kerjanya.

Ia melirik jam tangannya. Sudah lewat waktu pulang, dan ia masih berkutat dengan diagram itu. Langit malam merangkak masuk melalui celah-celah jendela.

Seorang pria, teman kantornya, mengetuk pintu ruangannya. Ia tersenyum kecil, memberi temannya isyarat untuk masuk.

“Bu, tolongin gue dong,” temannya tersenyum. Senyuman yang biasa disunggingkan oleh orang-orang yang butuh bantuan di saat-saat terakhir.

“Ada apa?” sahut Dora, tak bersemangat.

“Malem ini gue nggak bisa nemenin orang-orang itu, Bu.. Gue ada acara.”

“Waduh.. ya gue juga nggak bisa dong. Masak gue yang nemenin?”

“Ada Pak Toro, kok,” lanjutnya. “Lo tinggal dateng aja sebentar, pastiin semuanya terbayar.”

Ia melenguh kesal. “Kenapa nggak Pak Toro aja yang bayarin dulu terus klaim balik ke kita? Jadi kan gue nggak harus ke sana.”

“Nggak bisa, Bu. Kali ini bujet Pak Toro nggak diappove sama bossnya. Jadi harus kita yang tanggung.”

“Ya kalo gitu besok aja lah, pas elo bisa.”

“Waduuh.. itu kastemer udah bolak-balik reschedule terus, Bu. Kalo dijadwal ulang lagi, gue takut mereka keburu kabur…”

Dora membuang nafas panjang, sengaja lebih keras dari biasanya, menunjukkan keberatannya terang-terangan. Aroma kekesalannya menggulung-gulung di ruangan kecil itu.

——-

Jam delapan, malam itu. Sebuah mobil hitam meluncur masuk ke dalam pekarangan panjang sebuah gedung berkelip yang penuh ditumbuhi pohon palem. Mobil itu berhenti di depan lobi yang ditunggui sepasang pemuda pribumi berpakaian gaya seribu-satu-malam, dengan sepatu lancip dan sorban emas. Dora memperhatikan semua itu dari balik jendela mobilnya, dan mengeluh dalam hati. Selintas terbayang betapa akan senangnya kedua anak balitanya jika melihat pemandangan ajaib yang disajikan dua pemuda itu.

Sesaat terbersit pikiran untuk menepuk pundak sang supir dan mengajaknya menjauh dari sana, namun ia urungkan. Ia minta sang supir menunggunya. Lalu dengan enggan, ia buka pintu mobilnya. Perlahan menaiki tangga menuju lobi.

Kedua pemuda tadi menatapnya dengan pandangan aneh. Namun, dengan gaya sopan yang berlebihan, salah satu dari mereka mengantarkannya masuk lebih dalam. Lagu gurun pasir menyambutnya. Bau sesak dari puluhan batang rokok yang menyala menyekat tenggorokannya.

Dora mengedarkan pandang sekilas ke sekeliling area lobi yang ia lewati. Beberapa lelaki paruh baya sedang berkumpul di salah satu meja di sudut, berlomba mengepulkan asap rokok ke udara sembari tertawa lepas. Selarik asap tipis menggantung melapisi langit-langit. Di tengah ruangan, di atas sesuatu yang nampak seperti podium kecil, bertahta sebuah bangku panjang berkain keemasan, yang dipenuhi bantal merah dan hitam dalam berbagai ukuran. Seorang lelaki tua, ternyata teman rombongan pria yang tadi, sedang tergolek di atasnya, tertawa-tawa. Dua gadis dengan kostum penari perut dan cadar tipis sedang mengipasinya dengan kipas besar dari bulu sintetis berwarna ungu cerah. Dora mengalihkan pandang. Bukan karena jengah. Tapi lebih karena khawatir akan menyesal jika melihat wajah yang ia kenal di antara para pria itu.

Di sepanjang lorong, ia berpapasan dengan beberapa wanita dengan kostum yang sama. Semuanya bercadar. Semuanya  mengenakan celana gembung dan sepatu lancip keemasan. Semuanya  menampakkan sedikit kulit di dada dan perut. Semuanya berambut dengan poni. Ia menghembuskan nafas diam-diam, menggerutu dalam hati menyesalkan betapa miripnya rambut mereka dengan rambut tokoh kartun yang menyandang namanya.

Pemuda bersorban tadi mundur dengan sopan setelah menghantarnya ke depan pintu yang dimaksud. Setengah berteriak, Dora memintanya kembali, memohon untuk memanggilkan orang yang dicarinya yang ada di dalam ruangan tertutup itu.  Kami tak bisa mengganggu privasi tamu, Ibu, tolaknya halus dengan senyum manis yang entah kenapa membuat Dora merasa tersinggung. Silakan ditekan saja belnya, ujarnya dengan kesopanan palsu, mengulang instruksinya tadi, sambil sekali lagi menunjuk bel  di pintu dengan ibu jarinya.

Sekali. Dua kali. Seseorang mengintip dari kaca kecil bulat yang ditempel di tengah-tengah pintu. Dora membuang wajahnya dengan gaya menyebalkan. Seorang lelaki kecil berkacamata, dengan rambut yang menipis di atas dahi, dan pipi yang sedikit bergelambir, melongokkan kepalanya, sedikit terengah. Suara beberapa pria yang sedang menyanyi ke dalam sebuah mikrofon menyelinap dari sisi-sisi pintu. Sumbang. Terdengar cekikik geli dari beberapa wanita muda.

Dora mengulurkan selembar amplop coklat yang agak tebal pada lelaki kecil itu. “Tolong tanya sama boss kamu, komisi sepuluh persennya dikemanain aja?”

Lelaki itu tersenyum lebar. Giginya yang menghitam karena racun tembakau berjajar rapi. “Yah, jangan galak-galak Bu, nanti situ saya bagi juga deh”, candanya sambil menutup pintu bersamaan Dora  memutar badannya pergi. Dari dalam, terdengar seseorang berteriak parau, Udaaaah, lanjutin di kamar mandi sanaaaa…, yang disambut pekikan kecil seorang wanita.

Sambil bergegas menjauh, Dora membetulkan posisi tas cangklong di pundaknya. Ia hampir bertumburan dengan seorang pria. Wajah pria itu yang ia kenal baik membuatnya hampir saja tersenyum sopan. Refleks bersiap menyapa, saat ia ingat bahwa ia seharusnya ‘tak kenal’ siapa pun di situ. Pria tadi bersikap seakan tak melihat Dora atau mengenalnya, dan bergegas menyusup melalui pintu ruangan tadi, setelah menekan belnya cepat berkali-kali.

Duduk kaku di jok belakang mobilnya, Dora menunduk memegangi telepon genggamnya yang bercahaya redup di kegelapan. Suaminya. Meneleponnya lagi. Tadi ada panggilan masuk yang beberapa kali terabaikan olehnya. Ya Sayang.. jawabnya lembut. Habis meeting. Maaf ya.. 

Dora menempelkan telinganya di telepon itu dalam diam, mendengarkan tanpa kata, lelah. Matanya kosong menatap punggung kursi di depannya. Di seberang telpon, ia bisa mendengar suara bayinya yang menangis hilang timbul di sela-sela pertanyaan cemas suaminya. Wajah pria yang berpapasan dengannya tadi berkelebat di  matanya.

Ia kenal istri pria itu. Ia kenal anak-anaknya. Anak-anak pria itu bersekolah di sekolah yang sama dengan anak sulungnya. Istrinya mengaji di pengajian yang sama dengan mertua Dora. Dora tak terkejut, ia tahu sejak awal siapa dan bagaimana pria itu. Tapi melihatnya di tempat tadi, mengkonfirmasinya secara langsung, membuat kaki Dora lemas. Seakan sebuah simpul besar yang berpusat di perutnya menarik lepas otot-otot kakinya. Wajah sederhana seorang wanita cantik dengan hidung mancung, berkerudung sedikit acak-acakan, melintas berganti. Wajah istri pria itu.

Saat merebahkan dirinya di tempat tidur malam itu, memeluk perut bayinya yang turun naik dengan irama yang teratur, menghirup harum rambut halusnya yang tanpa dosa, Dora diam-diam menangis. Sebuah buku kecil, belum terjamah, masih dalam bungkus plastik toko, ditumpuk paling atas di meja sebelah tempat tidurnya. Rapi. Berdebu. Lampu kamar yang temaram menjatuhkan sinarnya dengan lembut di atas plastik buku itu, memantul sehingga tulisannya yang hitam tebal terbaca: Your Job is NOT Your Career.

Sebelum jatuh tertidur, ia teringat bahwa esok pagi, pukul 9, ia sudah harus mengirimkan revisi diagram tadi siang yang sama sekali belum sempat tersentuh.

Depok, pertengahan Maret 2011

Love Means…

Jakarta.  17 April 2010. Pukul 3 sore.

Kanti termangu memandangi layar laptopnya. Ia klik ulang icon Yahoo Messenger, ingin memastikan YahooID karinamochtar memang masih offline. Ternyata masih offline. Ia tutup jendela YM dengan sekali klik.

Entah kenapa, ia bukan penggemar Blackberry. Menurutnya, desain telepon genggam yang satu itu terlalu standar. Ia menyukai desain anggun sebuah smartphone cantik besutan Amerika, yang tipis, langsing, dan manis. Dan sejak dua tahun terakhir, ia memutuskan memilih smartphone cantik itu. Ia yakin tidak akan pernah butuh apapun fasilitas yang disediakan Blackberry. Namun saat itu, ia sungguh menyesali keputusannya. Seandainya saja ia bisa ber- BBM….

Ketika membereskan tasnya, selapis bening menggenangi kedua matanya. Ia mengangkat wajahnya, setetes air jatuh di atas cangkir bekas kopinya. Gusar, ia hapus matanya yang basah. Dengan sekali sentak, ia angkat tasnya dan keluar dari cafe itu dengan tergesa.

———

Jakarta. 10 April 2010. Pukul 10 malam.

karinamochtar: BUZZ!

karinamochtar: Mom, wat  u doin?

Kanti tergesa menuju ke meja kerjanya, menyeret-nyeret mukenanya. Sambil tersenyum, jarinya perlahan mengetik balasan.

soekanti59: hey there, cantik.. just finished solat isya. How r u?

karinamochtar: am ok, mom. Baru dtg dari kampus nih.

karinamochtar: brsn makan rendang yg kmrn mama titip ke Asti. enak bgtttttt maaaa… duh jd kngn bgt pngn pul neeeehh…

Kanti tersenyum. Kerut di sisi-sisi bibirnya bermunculan.

soekanti59: lho, rendang itu kan udh obat kangen.. masa masih kangen jg?

karinamochtar: mestinya yg dititipin ke Asti itu bkn cuma rendangnya, tp yg bikinnya jg. LOL

soekanti59: lho, yg bikin kan uni Asma, berat deh ngongkosinnya.. hehe..

Kanti menunggu jawaban dari seberang dalam diam. Ia berdiri, membereskan mukenanya perlahan sambil sesekali melirik layar laptopnya. Tak lama..

karinamochtar: uni Asma? lho, aku pikir mama yg bikin

soekanti59: ngga lah, syg.. kpn sih mama bikin rendang lg sejak papa ngga ada..

Setelah memencet tombol Enter, Kanti tercenung.

karinamochtar: mulai deeehhh…… udah ah, ntar nangis lagiii…

Kanti tak bergerak. Ia berniat mengetikkan sesuatu, namun jemarinya berhenti di udara.

karinamochtar: mom? tuh, bener kan! ayo lah, ma, it’s been 7 years

karinamochtar: ngga baek ditangisin terus

karinamochtar: he wouldnt like it

Kanti memandangi barisan kalimat itu dalam diam. Ia mengetik perlahan.

soekanti59: i know, sayang

soekanti59: maaf ya..

karinamochtar: ain tau mama pasti kangen bgt sama papa. tats why im here for u mom! :)

Kanti tersenyum kecil.

karinamochtar: mom, i gotta go. barusan dosenku bbm.

karinamochtar: tugasku ada yg kurang. c u tmrw ya mom.

karinamochtar: smooches!

karinamochtar: oya btw, ampir lupa. kpn sih mau pake bb maaaa? ribet nih musti ym-an mluluu.. enakan bbm tauuu…!

karinamochtar: bye now!

karinamochtar has already signed-out muncul di layarnya.  Kanti menghela nafas berat.

Tiba-tiba.. karinamochtar just signed-in.

karinamochtar: mom, td ada yg kelupaan

karinamochtar: i forgot to tell you I LOVE YOU

Kanti tersenyum lebar sekali. 

soekanti59: I LOVE YOU TOO..

karinamochtar: I LOVE YOU THREE!

soekanti59: AND I LOVE YOU EVEN MORE..

karinamochtar: EEMMMWWWWAAAAAAAHHH!!! Luv u mom! Bye!

karinamochtar has already signed-out.

Sesaat, Kanti duduk dalam hening , lalu ia menjauh dari mejanya. Perlahan, ia menggapai ranjang, menyalakan lampu baca di sisi tempat tidurnya, dan menjangkau sebuah novel. Lalu direbahkannya tubuhnya yang penat. Sambil meluruskan kedua kakinya, ia melafaz lirih, “Allhamdulillah..” . Tak lama, ia terlelap.

Malam itu, ia tersentak bangun, dan memburu ke meja kerjanya. Membuka lagi layar YM, dan melihat bahwa karinamocthar masih offline.

———

Singapore. 13 April 2010. Pukul 6 sore.

Ain sedang terguncang-guncang di kereta MRT yang penuh dengan orang-orang yang memburu pulang dari pekerjaannya masing-masing.  Wajah-wajah lelah dan suram memenuhi kereta itu.

Tak lama, MRT itu berhenti di stasiun Bugis Junction. Segerombolan buruh India mendorong masuk melalui  pintu yang terbuka. Ain terdesak ke tengah, dan ia kehilangan tali pegangannya. Ia terpaksa berdiri tanpa berpegangan pada apapun.

Bau tak sedap langsung menguar di kereta ber-AC itu. Ain bersin kencang sekali, sebelah tangannya menutup mulutnya. Blackberry yang sedang ia pegang terlempar ke lantai. Seorang lelaki India memungutnya dan menyerahkannya pada Ain tanpa berkata apa-apa.

“Thank you..” lirih Ain, tidak berusaha memandang wajah pria itu.

“Duh, lecet deh..” gumamnya, mencermati sudut-sudut telepon pintarnya itu.

PING. Bunyi BBM masuk.

leeck: karina, i got good news 4 u

leeck: its abt yr postgrad submission

leeck: they approved it. just rcvd the letter

Ain membelalak. Blackberrynya terus berdenting dari runtutan pesan Mr. Lee Chong Kiat, dosen pembimbingnya.

leeck: congrats! so proud of u! *clap*

leeck: they just need some addt’l documents

leeck: must be ready by nxt week

leeck: come see me in my office tmrw

Tanpa sadar, Ain tersenyum lebar sekali. Saat mengangkat kepalanya, matanya bersirobok dengan pria India yang tadi memungut Blackberrynya. Ia tak sempat menghapus senyumnya. Pria itu memandangnya heran, dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Ain tak peduli, ia tersenyum terus sepanjang sisa perjalanannya.

———

Jakarta. Malam itu, pukul 7.

Kanti sedang di kamar, membereskan beberapa dokumen di meja kerjanya. Ia mengenakan gaun malam  hitam selutut, buatan seorang designer terkenal dari Jepang. Rambutnya yang beruban di sana-sini, nampak anggun tertimpa sorot lembut lampu mejanya.

karinamochtar: BUZZ!

karinamochtar: mom, u there?

Buru-buru Kanti meninggalkan kertas-kertasnya.

soekanti59: ya sayang

soekanti59: baru sampe ya?

karinamochtar: u got time for skype?

soekanti59: mama ada makan malem sama pemegang saham abis ini, nak. mgkn nanti malem jam 11-12 gitu?

karinamochtar: ee.. kemaleman ah. skrg aja deh, ga usah lewat skype

karinamochtar: ada good news nih

karinamochtar: mama inget lamaranku utk S2 ke inggris kan, ma?

soekanti59: waaaaaaaaahhh! kamu lulus tes???

karinamochtar: alhamdulillah, ma… :))))

soekanti59: alhamdulillaaaaaahh! kapan mulainya syg?

karinamochtar: coming july, mom

Kanti mengetikkan jawabannya secepat kilat. Sebelum ia selesai mengetik..

karinamochtar: but ive got something to tell u mom

Kanti diam, memperhatikan. Menunggu.

karinamochtar: ain dptnya bkn di fak. Manajemen, ma

karinamochtar: tapi di literature…

Kanti menelan ludahnya. Ia terdiam agak lama, lalu memberanikan diri mengetik lagi.

soekanti59: how come?

Lama, tak ada jawaban dari ujung sana. Setelah beberapa saat..

karinamochtar: i couldnt pass for management, mom

Kanti mengetik cepat.

soekanti59: kok bisa ngga lulus? dan kenapa kok malah nyasar ke literature?

soekanti59: semacem sastra kan itu?

karinamochtar: something like that, mom

Wajah Kanti memerah.

soekanti59: what do u mean something like that? kamu sengaja daftar utk jurusan literatur atau gimana? kok bisa ngga masuk prog. manajemen?  kamu kan dari fak. Ekonomi?

Tak ada jawaban.

Kanti mengetik lagi. Saking gusarnya, beberapa kali ia salah ketik.

soekanti59: dif

soekanti59: did u rvrn

soekanti59: did u efven

soekanti59: did u even apply????

40 detik kemudian.

karinamochtar: apply ke mana, mom?

soekanti59: what do you mean apply KE MANA? Ya kemana lagi! MANAGEMENT

Jawaban Ain muncul semenit kemudian.

karinamochtar: i didnt mom

karinamochtar: im sorry

Kanti terbelalak memandangi layar laptopnya.

soekanti59: skype. NOW.

Tak lama, mereka telah bertatap wajah menggunakan Skype. Bandwidth internet di Indonesia tidak sanggup berkejaran dengan kalimat Kanti yang meluncur deras.

“Mom, mom, mom.. slow down. Slow down.. Please..” ujar Ain menghiba.

“I dont get it, Ain. Explain to me!” sergah Kanti.

“Sebenernya Ain udah sempet nyiapin diri untuk daftar ke manajemen, Ma. Tapi terus Mr. Lee nyaranin Ain untuk ikut finger print test dulu. Jadi..”

“Finger WHAT test?” sela Kanti.

“Finger-print test, Ma. Semacam tes minat.”

Kanti menepuk dahinya, kesal. “What the..  WHY??“

“Denger dulu, Ma. Jadi Ain ikut tes itu, dan ternyata Ain lebih cocok di dunia bahasa, Ma. Tulis menulis. Terus Mr. Lee kasih info bahwa di Inggris kelas literaturnya bagus-bagus, Ma.”

“OFCOURSE! Tapi I didn’t send you all the way to Singapore untuk akhirnya belajar bahasa, Ain.”

Pintu kamar Kanti diketuk dari luar. Seseorang melongok masuk, hati-hati sekali, “Bu, Pak Sukatman sudah siap di depan, Bu..”

Kanti menoleh kesal. Ia mengangguk sekilas pada mbok tua di pintunya.

“Akhirnya Ain coba daftar untuk program literatur, Ma. Dan ternyata tanggapan mereka bagus sekali.” lanjut Ain pelan.

“Tapi kenapa Pak Lee itu pake usul aneh-aneh begitu? Dia dosen pembimbing kamu kan? Dosen manajemen kan? Apa urusannya pake nyuruh tes bakat segala? Untuk milih program S2, lagi!” suara Kanti semakin tinggi. Ia menoleh pada mbok tua yang masih berdiri di ambang pintu. “Mbok, saya bilang nanti. Tolong bilang Pak Sukatman isi bensin aja dulu, nanti jemput saya lagi.” Mbok itu langsung beringsut mundur diam-diam.

“Ain. Kenapa?” lanjutnya, memburu Ain.

“Because I’m not that good at management, Ma..” Ain berujar pelan.

Kanti tertegun. “Kata siapa?” tanyanya kemudian.

“Kata Mr. Lee, Ma..  Skripsi Ain cuma dapet B. Itu juga setelah direvisi tiga kali. Mr. Lee bilang, lebih baik Ain nggak nerusin ke manajemen..”

Wajah Kanti mengeras. Ia diam.

“Ma..”

“I’m not going to pay for anymore of your tuitions.” geram Kanti.

“You don’t have to Mom,” Ain tergugu, “I won a scholarship..”

Kanti tertegun. Ia merasa matanya menghangat.

Namun ia lalu berujar dingin, “Kamu tau kan Mama butuh kamu untuk ngebantu perusahaan Papa. Sejak Papa pergi, Mama tunggang langgang ngurusin perusahaan ini sendirian. Buat siapa? Buat kamu. Biar apa? Biar kamu bisa sekolah. Untuk apa kamu sekolah?”

Ain memotongnya cepat, “Untuk bantu bisnis Papa?”

Kanti diam.

Tiba-tiba wajah Ain menghilang dari layar. Tak lama ia muncul lagi. Beberapa pasang sepatu ia sorongkan ke depan webcamnya.

”Ma, these… are the shoes that YOU bought.”

Lalu, “These… are the bags that YOU chose.” ia mengangkat beberapa tas bermerek.

“And these.. are the clothes that YOU made me wear.”  Ia menumpahkan beberapa helai baju ke atas mejanya. Ia terisak,  “Bukan Ain yang mau pakai baju-baju ini, Ma.. Bukan Ain..”

Mata Kanti berkaca-kaca. Ia gigit bibirnya dalam-dalam.

“I love you very much, Ma. But it’s MY life.” lanjut Ain, “Let ME run my own life, just like you run yours..”

Kanti menutup layar Skypenya, memutuskan hubungan begitu saja. Ia berlari ke cermin, menutupi jejak air matanya dengan bedak. Ia memandang dirinya dalam cermin, menarik nafas dalam, menyambar tas clutchnya, dan memburu keluar pintu.

Sesampainya ia di mobil, “Ke Wisma Mandiri, Pak Sukatman.”

Kanti duduk diam memandang keluar jendela, ke langit Jakarta yang gemerlap. Lalu ia meraih smartphone cantik itu dari tasnya, dan membuka laman twitter. Dalam gelap, ia menulis, “I wanna know what LOVE means..”

Tak lama, tweet dari @ainmoch muncul. “LOVE means… never having to say you’re sorry – Ali McGraw (Love Story, the movie)”.

Kanti terpekur. Beberapa butir air menetesi smartphonenya.

———

Singapore. 14 April. Pukul 9 pagi.

Ain duduk tegak di depan Mr. Lee. Lelaki Cina berbadan kecil itu sibuk menderetkan beberapa formulir. Ia menggumamkan beberapa kata sambil menunjuk-nunjuk ke lembar-lembar tadi.  Tak bersuara, Ain membubuhkan tandatangannya di berbagai formulir itu. Disorongkannya mapnya yang berwarna transparan, dokumen keperluan kuliah masternya.

Tak lama, Ain berdiri sambil menyalami Mr. Lee. Ia lalu melangkah menuju pintu.

“Karina,” panggil Mr. Lee. Ain berhenti, menoleh. “I know you will do wonders there.” Mr. Lee  tersenyum.

Ain membalas senyumannya. Dan keluar tanpa berucap apa-apa lagi.

Dalam perjalanan pulangnya dengan MRT pagi itu, Ain duduk di salah satu pojok kereta, memainkan Blackberrynya. Ia termenung, berpikir untuk mengakses YM dan Twitternya. Namun niat itu ia urungkan. Air matanya menetes saat ia lempar pandangan ke luar jendela, ke langit Singapore yang bahkan awan-awannya saja nampak tertata sedemikian rapi.

———

Jakarta.  17 April 2010. Pukul 5 sore.

Kanti mendorong pintu kaca kantornya. Seorang pegawai resepsionis sedang menyisir rambutnya, bersiap pulang. “Sore bu..”

Kanti tersenyum, mengangguk. “Hati-hati di jalan, Fi..”, ujarnya berlalu ke dalam.

Ia menghempaskan tubuh di kursi besar di ruang kerjanya. Tas jinjingnya ia geletakkan begitu saja di atas meja, di atas beberapa dokumen.

Ia menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya, menangis tersedu-sedu.  Sejak tiga hari lalu, Ain tak bisa ia lacak. YM-nya tidak pernah aktif lagi. Twitter dan Facebooknya juga. Handphonenya juga tak pernah diangkat. Kadang-kadang malah non-aktif. Telepon di apartemennya tak pernah ada yang menjawab, padahal Ain tinggal dengan dua orang temannya di sana. Kanti menyesali adanya teknologi Calling Line ID.

Dan sore itu, ia tak tahan lagi. Maka ia tumpahkan seluruh gumpalan hatinya di ruang kantornya, ruang yang berkaca bening sehingga seluruh pegawainya bisa melihat tangisannya. Tersedak dan tersedan tanpa peduli lagi pada siapapun.

Pegawai resepsionis tadi  mengetuk pintu ruangannya perlahan. “Bu, maaf Bu….”

Kanti masih terisak, mengangguk dan melambai memintanya masuk. Resepsionis itu masuk berhati-hati, setengah berjingkat. “Bu, kiriman ini datang tadi siang.”

Kanti tak mengacuhkannya, tetap terisak. “Dari Singapur, Bu….”, ujar resepsionis tadi nyaris berbisik.

Kanti terdiam. Ia segera meraih amplop coklat itu, tak sadar bahwa resepsionis tadi sudah undur diri. Tak ada nama pengirim. Ia sobek tergesa. Sebuah buku kecil terjatuh ke atas mejanya. LOVE STORY – judul buku itu, karangan Erich Segal. Selembar kertas berwarna pink melayang keluar, jatuh di pangkuan Kanti. Tertulis di kertas pink itu, “Love means…”

Pada saat yang sama, resepsionis tadi sampai di mejanya sendiri. Terburu-buru ia mengirimkan pesan di YM-nya.

ppeeppooo: SEKARANG, mbak!

karinamochtar: ok! tks ya fiii! :)

PING. PC Kanti berdenting. PING. PING. PING. PING.

karinamochtar: … never

karinamochtar: having

karinamochtar: to say

karinamochtar: you’re sorry….

karinamochtar: just I LOVE YOU

Kanti tertawa, menghapus airmatanya yang berlelehan bersama maskaranya.

soekanti59: I LOVE YOU TOO..

karinamochtar: I LOVE YOU THREE!

soekanti59: AND I LOVE YOU EVEN MORE..

Kanti terisak. Tersenyum pada Fifi, sang resepsionis, yang melambai dari kejauhan.

soekanti59: I hate my iPhone…. :’)

karinamochtar: no u dont

karinamochtar: u just need a blackberry now

——

Depok, pertengahan Februari 2011

PS: Cerita ini pernah dimuat di buku ke-19 proyek E-Love Story (nulisbuku.com)

Pemulung

Di sebuah jam makan siang, foodcourt itu penuh manusia. Meja-meja dipadati berbagai macam kepribadian. Yang periang, yang pemarah, yang pemurung, yang pendiam. Berbagai macam perasaan. Yang senang, yang sedih, yang bahagia, yang kesal, yang menyesal. Dan berbagai macam keadaan. Yang terpuruk, yang menang, yang terkenal, yang terkalahkan, yang terbuang, yang tertinggal.

Karsih bergerak beringsut di antara meja-meja, di antara tubuh-tubuh gelisah, di antara perut-perut  yang sedang terpuaskan oleh  beberapa suap makanan. Ia mengangkat piring-piring bekas, menyeka tumpahan dan noda di meja. Menyiapkannya untuk dipakai membahagiakan perut yang lain.

Sebuah meja yang baru saja ditinggalkan tiga orang, penuh terisi piring dan nampan kotor. Tisu lecek dan basah berserakan di sekujur meja. Gelas-gelas plastik, biasanya masih terisi cukup banyak air (Karsih selalu heran dengan sedikitnya jumlah air yang dikonsumsi orang-orang ini saat makan besar seperti itu). Kertas bon-bon makan ditinggal begitu saja di atas nampan. Tusuk gigi kotor yang rusak salah satu ujungnya tergeletak di atas nampan. Selalu, selalu ada pekerjaan tambahan untuk Karsih. Ia tak pernah bisa sekedar mengangkat nampan dan piring kotor saja. Ia masih harus menyisihkan berbagai macam peninggalan manusia-manusia jorok itu.

Sejak bekerja di sana, bisa dibilang Karsih tak pernah tersenyum. Hampir tak pernah tertawa. Matanya hanya bergerak lesu, berpindah dari satu meja ke meja lain, mencari pekerjaan baru. Kadang ia beruntung jika ada yang meninggalkan beberapa lembar dan keping uang sisa kembalian. Ia tahu ia harus memasukkan uang itu ke kotak tip di ruang ganti, dan ia selalu melakukannya. Walau tak bergairah pada pekerjaannya, ia selalu patuh pada peraturan. Semua peraturan. Kecuali satu: peraturan untuk tidak boleh membawa pulang makanan sisa.

Siang itu sebuah meja meninggalkan dua buah piring kotor. Seonggok udang goreng terkulai di sana, memelas tak ikut disantap. Sepintas terlihat oleh Karsih bon pembelian orang itu. 36,000 tulisan di sana. Sedikit rasa sakit mencubit bagian dada Karsih yang terdalam. Jika ia bagi rata, maka per hari gajinya tak sampai 17,000. Dengan 17,000 ia harus menyekolahkan dua anak, membelikan susu untuk satu balita, dan masih membayar tagihan ibunya, yang menurutnya terlalu sering menghutang rokok batangan di warung.

Karsih tak pernah tahu lagi indahnya rasa saat memilih-milih baju di pasar. Tak pernah ingat lagi parasnya yang dulu sering berbedak bergincu. Yang ia tahu persis adalah bahwa sepotong udang goreng itu bisa ia pakai untuk dicincang-cincang dan dicampurkan di tumisan tempenya besok pagi. Sambil menyeka meja, nyaris tak terlihat, Karsih menyambar halus sebuah tisu bekas dan menangkupkannya di atas udang tak berdaya itu. Lalu mengantonginya.

Ia tak pernah terlalu berdebar lagi kala melakukan pencurian-pencurian kecil seperti itu. Bunyi debar jantung anaknya yang melemah kala kekurangan makan, bergaung lebih kuat, sehingga ia menutup matanya. Menutup hatinya. Menutup mata hatinya.

Cekatan ia angkat nampan-nampan kotor, membuang berbagai limbah yang melimpah di atasnya, dan menyorongkan nampan-nampan itu ke dalam sebuah troli. Mendorongnya berpindah ke meja lain. Sebelah tangannya memastikan hasil jarahannya aman di kantongnya.

Suatu sore Karsih mengangkati piring-piring kotor di atas sebuah meja yang sudah keburu diisi dua orang baru. Mereka sedang berpacaran nampaknya. Pria muda itu meraih tangan gadis di hadapannya dengan sepenuh rasa, menatap mata gadis itu dengan binar yang pernah dikenal Karsih sesaat lalu. Saat hidup belum terlalu payah menempa tulang-tulangnya. Ia memalingkan wajah tanpa ekspresi, dengan satu gerakan cepat mengangkat piring-piring itu. “Kamu cantik sekali, Sayang..”, gumam pria itu tertangkap telinga Karsih. Tanpa disadari, Karsih menatap sekilas pada kaca-kaca yang ditempel melintang di dinding-dinding. Menatap bayangannya yang kuyu. Layu. Lesu. Dan ia tergugu. Malu. Malu melihat bayangannya sendiri. Sebuah piring hampir terlepas dari tangannya.

Hampir setiap hari Karsih melihat seorang ibu yang sedang makan dengan anak-anaknya. Kadang mereka ditemani seorang asisten rumah tangga. Hampir selalu, si ibu atau si mbak asisten sedang kewalahan membujuk anak-anak itu untuk memasukkan beberapa suap makanan. Karsih sadar, dengan kesadaran yang membuat perutnya terasa diaduk seperti adonan kue, lengket dan menggumpal, bahwa ternyata beberapa anak memang hampir tak pernah kelaparan.

Saat sebuah baso sengaja dimuntahkan dari mulut kecil anak berusia empat tahun itu, diiringi tumpahnya sebagian besar mie dari mangkuk di hadapannya, pelan Karsih membersihkan bekas-bekas ceceran itu. Pada saat yang sama membersihkan kilatan dengki yang menodai matanya yang tak jernih lagi. Ia teringat dua anaknya, berjongkok di depan seorang tukang baso kampung yang sedang dirubung anak-anak tetangga, menelan ludah diam-diam. Di usia seawal itu, anak-anaknya sudah mengerti bagaimana menahan keinginan. Dengan jumlah yang sama dengan mie yang tumpah tadi, ia bisa membariskan anak-anaknya, berderet-deret ke samping, berusaha menyuapkan setiap mulut kecil mereka dengan porsi kecil yang adil dan rata, mengenyangkan lapar mereka.

Sambil menyeberang ke arah belakang, ia melintasi sebuah meja yang penuh manusia-manusia pintar. Pintar, dalam definisi Karsih adalah berkacamata, berbicara serius dan dengan bahasa yang tidak Karsih mengerti, serta menggunakan berbagai macam alat elektronik yang canggih. Sesekali Karsih melirik pada alat-alat itu, ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh mereka. Ia kagum dengan kecanggihan alat-alat tersebut, yang bisa untuk bertelepon, bisa untuk SMS, bisa untuk internetan (kata orang-orang pintar itu), bisa untuk ceting (betul ya, ceting tulisannya?). Sering pula ia melihat orang-orang itu saling berbagi foto, melihat video, atau game? Karsih tak tahu betul. Tak terlalu merasa perlu tahu, karena tahu tak akan pernah merasakannya.

Orang-orang pintar itu kadang berbicara tentang pemerintah, tentang kepedulian sosial, tentang anggota dewan yang terhormat (begitulah persisnya ucapan mereka), tentang korupsi, tentang koruptor, tentang uang yang digunakan koruptor untuk menyuap. Ah, perlukah Karsih peduli pada itu semua. Ia hanya peduli pada apa yang bisa ia suapkan ke anak-anak dan balitanya besok pagi. Besok siang. Besok malam. Hidup baginya terasa seperti disambung, ditisik, dan dijahit seperti kain sobek. Sobek di sini, jahit di sini. Sobek baru di tempat lain, jahit lagi di tempat itu. Tak pernah benar-benar bisa utuh. Tak pernah benar-benar bisa merasa aman. Aman dan yakin bahwa baju itu tidak akan terkoyak menganga saat ia salah bergerak sedikit saja.

Suatu hari, Karsih ternganga melihat sebuah blekberi (atau beginilah yang sering didengarnya) ditinggal oleh tuannya, sebatang kara nelangsa menunggu ditolong. Karsih melongok, ke kiri, ke kanan, untuk memastikan pemiliknya memang sudah pergi, dan bukannya sedang ke toilet, misalnya. Seksama, ia menyapu meja dengan matanya. Nampaknya memang siapa pun yang tadi makan di sini memang sudah pergi.

Wah, berapa ya harganya telepon ini, batin kirinya. Di lantai ini banyak konter handphone, ia bisa dengan mudah menentengnya ke salah satu konter. Tak ada yang melihat. Tak ada yang akan tahu.

Tapi Karsih yang lugu ini takut. Ah, nanti gara-gara ini, aku didatengi polisi. Di-PHK. Masuk penjara…, batin kanannya. Dengan sekali sentak, takut pikirannya berubah lagi, diangkatnya telepon tadi, dan bergegas menuju kantor sekuriti. Menyerahkannya secara resmi pada satpam-satpam muda itu. Petugas-petugas muda yang pada saat tertentu terlalu ingin menunjukkan kekuasaannya.

Seperti misalnya saat itu. Karsih tidak mengerti mengapa niat baiknya menyebabkan ia diinterogasi juga. “Kan saya sudah bilang, Pak, saya nemuin ini di meja sembilan belas. Ya mana saya tahu itu punya siapa. Saya kan nggak nanya namanya waktu orang itu masih makan!”, sergahnya ketus. Keketusan ini jugalah yang mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa sekarang Karsih membesarkan anak-anaknya tanpa suami. Salah seorang satpam muda, paling muda dari ketiganya, menghardik, “Heh! Kamu jangan kurang ajar ya!”. Karsih tak mau kalah, membalas sengit, “Siapa yang kurang ajar? Situ yang pertanyaannya nggak wajar!”. Di dalam hati, ia merasa geli sendiri saat menyadari umpatannya yang seperti berpantun. Ah, aku memang sebenarnya cukup pintar untuk melanjutkan ke SMP dulu.., membatin memuji kecerdasannya.

Intuisi tak enak menyelubungi Karsih. Sudah lebih dari setengah jam ia berada di ruang itu, diputar-putar dengan pertanyaan-pertanyaan konyol. Ia merasa hari itu akan menjadi sangat panjang baginya, saat mendadak pengelola gedung masuk ke ruang sekuriti bersama seorang lelaki muda bercukuran plontos. Langsing, begitu sepadan dengan kaos hitam bersablon merek sebuah kopi ternama, yang kafenya sering dilalui Karsih saat keluar gedung mengejar angkot. Lelaki pemilik blekberi itu.

Lelaki itu sungguh berterima kasih. Dan tentu saja yang mendapatkan penghargaannya adalah si pengelola gedung dan tiga satpam muda tadi. Ia tersenyum lebar pada pengelola gedung, dan menyelipkan beberapa lembar uang pada para satpam. Karsih memperhatikan, tersenyum sinis.

Saat pemilik handphone tadi pergi, pengelola gedung menanyakan namanya. “Karsih, Pak.”, jawabnya tegas. Salah satu satpam, bukan satpam yang paling muda, melambaikannya selembar duapuluhribuan. Karsih tak bersedia menerimanya. Ia keluar ruangan, dipenuhi rasa bangga dan terhormat. Hampir yakin bahwa bulan depan gajinya akan dinaikkan.

Sore itu. Di  hari yang sama.

Sepasang suami istri di meja empat belas (nampaknya suami istri, batin Karsih), menunjukkan bahasa tubuh yang tak enak satu sama lain. Karsih beringsut pelan di antara meja di dekat mereka, bukan dengan maksud untuk ingin menguping. Tapi toh kegusaran sang wanita tertangkap juga.

“Kan aku sudah bilang kita harus hati-hati! Jangan SMS ke nomerku yang itu kalau aku tidak menjawab di se-de-em-a-ku!”, begitulah terdengarnya di telinga Karsih. “Sekarang Dodo jadi curiga!”, sambung wanita itu, “Dan dia tak mengijinkanku keluar-keluar rumah kalau bukan dengan anak-anak!”, sergahnya sambil meneteskan air mata. Pria di depannya tergagap menenangkannya, bergumam tak jelas. Karsih mengeluh pelan, teringat pada suatu kejadian pahit di masa lampau. Kejadian yang berusaha ia sisipkan dalam belitan kusut hidupnya, karena ia tahu tak akan pernah bisa menghilangkannya.

Wanita itu bangkit tergesa. Minuman dingin yang belum ia sentuh terguling, menumpahkan genangan air ke atas meja. Sebagian mengalir ke lantai. Pria itu tergopoh-gopoh bangkit sehingga bangku besi tempa itu tergeser dengan suara berkerit dan berkarat. Keduanya menghilang dalam satu adegan kejar-mengejar dramatis yang hanya bisa disaingi film-film Indonesia tahun 70an.

Dua porsi makanan yang sudah terlanjur diantar, mengepul di atas meja. Berdesis dengan langgam yang demikian merdunya di telinga Karsih, menderaskan berdenyut-denyut sinyal cepat tak wajar ke jantungnya, yang diteruskan dengan sekali hantaran listrik ke otaknya. Memerintahkan syaraf-syaraf tangannya untuk bergerak cepat mengangkat kedua piring itu. Bayangan kerongkongan anak-anaknya yang turun naik berkelebat di matanya.

Tergesa ia selipkan kedua piring itu ke bagian bawah trolinya. Beberapa gelas plastik kotor yang ia baru angkut dari meja sebelah ia tumpukkan di atasnya untuk menutupi. Dengan gerakan setenang dan seanggun mungkin, ia dorong troli itu pelan ke tempat pembuangan di belakang. Ia bisa merasakan suhu dingin menjalari tangan dan kakinya. Terasa seperti ada yang berdentum di kepalanya, yang kemudian ia sadari berasal dari dadanya.

Begitu sampai di belakang, Karsih mencari waktu yang tepat untuk menyelamatkan temuannya. Tapi ia juga harus cepat, kalau tak mau tertangkap kamera sekuriti. Ia mengambil piring dan nampan kotor di bagian atas troli, berjongkok di samping trolinya, berusaha menghalangi troli itu dari sorotan kamera, persis di belakangnya.

Biasanya semua sisa di atas piring kotor harus langsung dibuang ke kantong hitam besar khusus sampah. Tidak boleh terlihat ada tindakan memasukkan apapun ke dalam plastik bersih. Sambil mengeluarkan pelan sebuah kantong hitam kecil yang selalu ia kantongi, ia menuangkan isi dua piring baru tadi ke dalamnya, persis di atas kantong sampah, seakan-akan ia sedang membuang seluruh isinya. Sebuah nampan ia gunakan untuk menipu kamera saat ia berbalik menjinjing kantong kecilnya.

Aman..  ia yakinkan dirinya. Harusnya aman. Lantai yang licin membuatnya berjingkat, berniat segera ke ruang ganti agar bisa menjejalkan plastik itu di tasnya.

Saat hampir sampai di depan kamar ganti, pintu ruang sekuriti terbuka dengan sentakan yang mengagetkan. Karsih terpeleset saking terperanjatnya. Separuh karena suara pintu yang keras, dan separuh karena antisipasi berlebihan yang didorong perasaan bersalahnya. Plastik hitamnya terlepas dari jinjingannya, bunyi nampan berkelontangan mengalahkan bunyi menjeplak cairan kental yang menampar lantai. Satu tatapan tajam dari satpam muda tadi membekukan otot-otot jantung Karsih.

Waktu seakan terperangkap dalam ruang sekuriti tadi saat akhirnya Karsih benar-benar diposisikan sebagai terdakwa. Pengelola gedung datang lagi. Ia memandangi Karsih dengan tatapan heran, sekaligus iba. Sedih, tapi tak berdaya.

“Maaf, bu Karsih, ini peraturan perusahaan….”, ujarnya lemah. “Tapi saya kan nggak merugikan perusahaan, Paaak.. “, Karsih terisak keras. “Saya kan nggak nyolong henfon….”, rintihnya lagi. “Anak-anak saya kelaperan, Paaak…”, ia meronta saat pergelangan tangannya dicekal dan ditarik keluar ruangan. “Saya pengen mereka makan enak sekali-sekaliiiii….”. Pengelola gedung itu menunduk, menghindari tatapan mata Karsih yang meluap air mata. Di belakang mereka, sebuah TV 14” sedang menayangkan gambar seorang koruptor pajak yang disinyalir sering bepergian keluar negeri walaupun sedang dalam tahanan.

Karsih sudah tak terlalu bisa menangkap apa pun yang dibentakkan satpam padanya. Kegalauan membuntukan lubang telinganya. Ini untuk sepuluh hari kerja dari tanggal 1.., sayup-sayup suara pengelola gedung. Ia mematung saat membiarkan tasnya diperiksa petugas sebelum ia diijinkan angkat kaki.

Dalam perjalanannya turun meninggalkan gedung, pijar silau dari barisan neon yang terpasang di konter-konter henpon menembus lapisan air di matanya. Selarik cahaya merenggut sebutir tetes, jatuh di pipinya yang tak berbedak. Dan di lantai bawah, saat ia lewat di depan kafe yang menjual kopi mahal itu, gambar putri duyung hijaunya tersenyum kecil padanya.

Depok, pertengahan Maret 2011

Ben 10

Sebuah cermin. Bayangan sebuah wajah terpapar di sana. Wajah berkulit relatif putih, namun dirambahi tonjolan-tonjolan merah besar, penuh merangkai di sekujur bidang pipi. Sepasang tangan putih mulus mengelus kedua belah pipi itu perlahan. Terdengar helaan nafas yang berat dari pemilik wajah itu.

Perlahan, tangan-tangan itu mengancingkan bagian atas baju hijau muda yang ia kenakan. Lalu menyisir perlahan rambutnya yang hitam tebal, dan menekuknya menjadi gelungan kecil yang rapi dan sempurna menempel di tengkuknya. Tak ada sehelaipun rambut yang keluar dari jalurnya. Sepasang tangan yang sama itu kemudian memasang topi kecil yang terbuat dari kain berwarna hijau yang sama, meletakkannya persis di tengah kepalanya. Lalu tangan-tangan itu berpegangan pada meja kaca di depannya, sedikit mencengkeramnya. Sekitar semenit kemudian, kedua tangan itu menghela tubuh pemiliknya. Berdiri.

Astri melihat bayangan dirinya utuh di meja cermin riasnya. Seragam hijaunya yang terseterika rapi, nampak halus dan renyah. Lembut, ia mengibaskan-ngibaskan kedua tangannya di seragam itu, seakan menghalau pergi beberapa titik debu yang menempel. Lalu tangan-tangan itu terjatuh begitu saja, menggantung lemas di kedua sisi badannya. Bahunya melorot, menayangkan perasaannya terang- terangan.

Sambil menghembus nafas kencang, ia memajukan wajahnya dekat sekali dengan cermin, memiringkannya sedikit ke kiri. Lehernya terjulur panjang. Sekali lagi ia mengelus pelan pipi kanannya yang bertimbulan. Setetes air mengalirinya diam-diam.

Sore itu. Ruang tunggu poliklinik rumah sakit itu penuh manusia. Belasan ibu hamil tua duduk bersandar terengah di bangku-bangku hijau tua yang kulit murahannya mengelupas. Sebagian sibuk berkipas, karena beberapa pendingin di ruang itu nampaknya sudah lama merindukan perhatian. Beberapa ibu dengan perut yang belum terlalu besar bersandar mesra pada pria-pria di samping mereka. Pria-pria yang masih bersedia membawakan tas tangan para wanita ini, patuh mengekor kemana pun wanitanya ingin pergi, patuh melakukan apapun yang wanitanya inginkan. Sebagian pasangan yang membawa anak, terduduk lesu, dengan mata kosong memperhatikan anak-anak mereka yang berlarian dan berteriak-teriak.

Astri berjalan cepat dengan langkah kecil yang ringan. Ia membawa beberapa buku hijau tua dan kartu-kartu lebar berbagai warna di tangannya, menuju sebuah kamar. Sopan, ia ketuk pintu kamar di hadapannya. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, ia memutar ganggang bulat pintu itu lembut, lalu meninggalkan buku dan kartu tadi di atas meja di kamar tersebut. Ia berlalu dengan cepat, secepat ia datang. Nyaris tak diperhatikan oleh siapapun.

Ia sedang menyesap air dari sebuah gelas saat seorang gadis berseragam sama dengannya menghampiri. Dipanggil dokter Aida. Si Reni nggak bisa, perempuan itu berujar singkat. Astri bergegas meletakkan gelasnya yang masih penuh dan menumpahkan sedikit air. Sambil menarik selembar kertas tisu, ia berdiri, menghapus tumpahan tadi. Lalu berlari kecil mengejar ke dalam ruangan dokter itu.

Tolongin Reni tuh, tuju dokter wanita berkerudung itu padanya, tanpa mengangkat wajahnya dari buku yang sedang ia tulisi. Astri mengangguk pelan sambil berlalu, walau tahu dokter itu tak melihatnya.

Kenapa? bisiknya pelan pada gadis yang disebut Reni. Reni menunjuk pada wanita hamil yang terlentang di atas tempat tidur dengan perut yang terbuka. Suntik ACA, bisik Reni nyaris tak terdengar, gue gak bisa. Wanita di atas tempat tidur itu melirik Reni dengan kesal. Saat matanya tertumbuk pada Astri, kekesalan di wajahnya menghilang, berganti sebuah ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Astri berani bersumpah ia melihat bahu wanita itu sedikit bergidik setelah barusan melihatnya.

Astri mengulurkan tangan pada jarum suntik yang masih dipegang Reni. Tahan ya buuu.. ia mendengar dirinya sendiri berkata tanpa emosi, menenangkan si wanita hamil yang sedang erat mengatupkan matanya. Ia juga mendengar Reni menahan nafas di sebelahnya, juga suara bolpen dokter wanita tadi yang diguratkan keras di atas kertas. Ia arahkan ujung jarum itu ke dekat pusar si wanita, menekannya masuk dan menariknya hanya dalam beberapa detik.

Wanita itu menghembuskan nafas lirih, pelan membuka matanya, menatap Astri, nampaknya sedang berniat untuk mengatakan sesuatu. Setelah sekilas melihat Astri, mata wanita itu terlihat seperti teringat sesuatu, lalu ia berpaling dan mendesiskan ucapan terimakasihnya sambil menatap langit-langit putih di  tasnya. Astri tersenyum kecil, menyerahkan kembali jarum suntik tadi pada Reni. Udah Tri? Makasih ya.. dokter wanita itu, masih sambil menulis. Ia mengangguk halus pada si dokter wanita.

Besok kamu gantiin Sofi di perawatan ya, seseorang yang berseragam sama dengannya namun  nampak jauh lebih berumur berujar sambil memperhatikan beberapa lembar kertas di tangannya. Sampai Kamis  aja, total tiga hari jadinya. Perawat tua itu mengangkat wajahnya, sekilas matanya bersirobok dengan wajah Astri. Dalam hitungan detik, mata itu beralih kembali ke kertas-kertas tadi, secara halus memberi isyarat menyudahi pembicaraan.

Keesokan paginya. Lorong pendek itu terang dan bersih. Di atas setiap beberapa jengkal keramik putih memantul sinar lampu neon yang juga putih. Sepasang sepatu putih bersol karet melangkah pendek- pendek di atasnya, tak bersuara. Sepatu itu sampai di depan sebuah pintu, terdiam sejenak.

Selamat pagi, sapa lembut suara Astri sambil melongok ke dalam kamar itu, menahan tangannya di daun pintu. Tak ada jawaban. Ia masuk lebih jauh, sambil menahan ayunan kotak kecil yang dijinjingnya. Seorang bapak tua sedang tidur menganga dengan selimut yang terlipat ke bawah kaki kanannya. Tak ada siapapun di sana selain pria itu.

Satu-satunya meja beroda di ruangan itu telah dipenuhi nampan berisi sebuah piring besar dan beberapa piring kecil. Astri memikirkan betapa pucatnya sup ayam itu pagi ini dan bahwa potongan tempe itu terlalu besar untuk dihidangkan bersama bubur layu yang hanya sekepal begitu.

Ia menggeser nampan itu sedikit menjauh, memberikan ruang pada mangkok kecil berisi beberapa butir obat yang akan ia tinggalkan. Terdengar suara mendecap dari mulut menganga pria tua itu, nampaknya rongga mulutnya kering. Dengan mata setengah terpejam, pria itu menjangkaukan sebelah tangannya ke meja tinggi di sebelahnya, meraih gelas air. Astri memburu ke arah yang sama dan berhasil menggapai gelas itu lebih dulu. Disorongkannya perlahan bibir gelas itu ke arah si pria.

Diperlukan kekuatan luar biasa bagi pria itu untuk membuka matanya dan menyadari bantuan Astri. Mata kirinya seperti direkat lem penguat. Ia melirik sekilas pada gelasnya, lalu pada Astri. Mata tuanya yang redup mendadak sedikit menyundutkan sinar terkejut, berangsur terbuka penuh. Sambil mengucapkan terima kasih, tangan keriputnya yang penuh flek hitam melambai-lambai meminta Astri pergi. Astri mengangguk takzim, dan melangkah mundur.

Astri mendorong troli berisi dua buah baskom kosong. Pantulan lampu neon yang terang pada pinggiran baskom itu membuat baskom itu nampak seperti lingkaran cahaya yang cekung. Suara rodanya berderak-derak di lantai, sesekali ditingkahi suara logam baskom yang bersinggungan dengan besi troli yang menyangganya. Astri kesal memikirkan sol karetnya yang akhirnya sia-sia saja berusaha meredam suara.

Ia mendorong lebar pintu sebuah kamar, hati-hati menyelipkan trolinya di antara daun pintu dan dinding. Seorang wanita muda sedang termangu di bangku kecil di sebelah tempat tidur, menerawang keluar jendela. Kain putih tipis berongga kecil-kecil dan berbordir halus yang tergantung cantik di jendela dibiarkan menghalau sinar matahari yang menerobos masuk. Astri melirik sekilas pada papan status yang tergantung di kaki tempat tidur, membaca nama pasien pertama yang akan ia basuh pagi itu. Dokter Danu, pikir Astri, spesialis darah anak, subspesialis thalasemia.

Suara roda troli yang bergulung-gulung masuk menyadarkan wanita tadi dari lamunannya. Ia menoleh pada Astri yang tersenyum ramah padanya. Astri melihat sulutan rasa heran di mata itu. Selamat pagi, mas Ardi mandi dulu ya.. sapa Astri pada pria kecil yang terbaring di ranjang, sebelum ia sempat melihat mata wanita itu berpaling darinya.

Pria kecil itu sudah tidak tidur, matanya menatap lekat pada televisi besar yang menggantung di dinding, dua meter di atas lantai. Astri menoleh ke arah TV yang sama. Wah, Ben 10 ya.. ia berujar sejuk. Kok kayak keponakan tante aja seneng nonton Ben 10. Pria kecil itu masih tak menoleh. Yuk buka bajunya, Astri mengulurkan tangannya ke bawah ketiak si anak.

Sambil tetap tak melepas pandang dari layar besar TV, anak itu menurut saat bajunya diloloskan melalui kepala dan rambutnya yang kusut kaku. Astri membiarkan celana piyamanya menetap di tempatnya.

Astri menuju kamar mandi membawa sebuah baskom, mengisinya hampir penuh dengan air keran. Ia memasang airnya sekecil mungkin agar suara alirannya tidak mendistorsi suara TV. Saat ia kembali ke dalam, ia melihat wanita tadi sedang melirik diam-diam ke arahnya. Saat mata mereka bersitatap, wanita itu menyalurkan senyum. Sedikit terpaksa.

Sambil memeras lap handuk kecil di atas baskom, Astri ikut menatap ke arah TV. Bagus ya, mas Ardi? Ada berapa banyak sih monsternya? Tak ada jawaban.

Astri mengulurkan tangannya ke dalam kantong handuk kecil itu, mengangkat anak itu di ketiaknya agar duduk lebih tegak, lalu membasuhnya seksama di sekujur bagian atas tubuhnya. Tangannya bergerak lebih pelan saat berputar di perut membuncit anak itu, warna kulit di sekitarnya agak abu-abu.

Kalo tante paling suka sama monster yang putih kecil. Mata bulat pria kecil itu menatap sekilas padanya, tak acuh. Masih dengan sinar wajah tak acuh yang sama, ia mengalihkan pandangannya kembali ke tayangan dua monster berbentuk aneh yang berkelebatan di layar kaca.

Astri tersenyum. Sekarang buka celananya yaa.. Si kecil yang ia panggil Mas Ardi itu merajuk, menggeleng keras. Ibunya bergegas menghampiri, lalu berdiri di jarak yang cukup dekat untuk menjangkau tubuh anaknya, namun cukup jauh untuk tak bersinggungan dengan Astri. Sambil berbisik membujuk, celana si kecil berhasil dilepas si Ibu. Lalu ibu itu mengangguk kecil pada Astri, tanpa melihat, mempersilakan Astri untuk melanjutkan pekerjaannya.

Astri melanjutkan membasuh bagian bawah tubuh anak itu. Ibunya masih memegangi celana anak itu dengan air muka yang tidak bisa dimengerti Astri. Seperti disadarkan sesuatu, si Ibu lalu melipat celana itu sambil menunduk dalam-dalam.

Dua hari lagi boleh pulang katanya, suster.. tiba-tiba si Ibu bicara padanya. Ardi boleh istirahat di rumah aja. Tapi minggu depan harus balik untuk transfusi lagi. Astri mengangguk ramah. Memasangkan kancing demi kancing dengan cekatan, menyadari betapa kurusnya dada di depannya yang bertulang-tulang itu. Makan yang banyak ya… ia berujar dalam hati.

Ia meraih sebuah sisir kecil di atas meja dan menyusuri rambut semrawut itu seteliti mungkin, meyakinkan tidak ada lagi rambut yang tergumpal. Sambil meletakkan sisir itu kembali ke atas meja, ia menatap sekilas ke atas meja, di mana sebuah boneka kecil, salah satu karakter monster Ben 10 yang penuh tonjolan, berdiri kekar.

Tante pamit dulu ya mas Ardi.. ia menyorongkan kakinya ke roda troli itu, mendorongnya keluar. Tak sengaja matanya tertumbuk pada acara Ben 10 yang masih bergulir. Monster kecil putih sedang membisikkan sesuatu ke telinga pria kecil berkaos putih dengan garis hitam, dan bercelana hijau tua.

Permisi, bu.. ujarnya, menatap wajah si Ibu demi kesopanan, namun terburu-buru mengalihkan matanya, menunduk di atas baskom-baskomnya. Roda-roda berisik itu kembali menimbulkan suara bergelontangan saat tersendat bergulir di lantai.

Saat pintu sudah hampir tertutup sempurna di belakangnya, anak itu tiba-tiba bersuara. Mama, tante suster tadi mukanya kayak monster Ben 10 ya Ma..

—-

Depok, pertengahan Maret 2011

USG

Sebuah becak tua bergulir masuk ke halaman parkir sebuah klinik kecil. Bapak tua pengemudi becak itu turun dari sadelnya, berhati-hati menunggingkan sedikit roda belakang agar si penumpang bisa turun tanpa harus melompat. Sambil melongok ke depan, bapak tua itu memastikan beban di bagian depan becaknya berkurang dan menurunkan kembali roda belakangnya.

Seorang perempuan, perut membundar, kehamilannya mungkin di awal trimester ketiga, menjejakkan kaki berhati-hati. Rambutnya diikat jadi satu, tinggi di belakang kepalanya, teruntai-untai saat kepalanya sibuk menunduk mengais-ngais tas. Setelah beberapa lama, saat pengemudi becak tadi selesai menenggak air dari botol plastik besar bekas kemasan air mineral, wanita itu berhasil mengeluarkan dompet dari tas tangannya yang besar. Ia menarik keluar beberapa lembar lima ribuan dan mengangsurkannya kepada si Pak Tua. Ini buat besok sekalian, ia berkata dengan suara agak nyaring, berusaha mengalahkan desing knalpot motor dan derum mobil yang melaju di depan klinik itu. Pakde, demikian wanita itu selalu memanggilnya, mengangguk tanpa suara, mendorong becaknya keluar halaman.

Ia lalu melangkah masuk ke dalam klinik itu sambil tertatih-tatih. Bengkak di pergelangan kakinya semakin hari semakin bertambah. Di kehamilan pertamanya, jika di malam hari ia angkat kakinya tinggi-tinggi menjejak dinding selama 10 menit, maka keesokan harinya lingkarnya akan kembali normal. Dan menjelang sore, walau ia sudah bergerak berpindah dari satu lantai ke lantai lainnya di kantornya yang berlantai tiga dan tidak menggunakan lift, pertambahan lingkar pergelangan kakinya masih bisa dikatakan normal. Namun di kehamilan kedua ini, ia tak mengerti mengapa, mungkin juga karena usianya sudah bertambah enam tahun sejak melahirkan si sulung, lingkar pergelangannya membesar terus. Padahal ia sudah mengurangi makan garam. Ia juga minum banyak air seperti disarankan bidannya. Mungkin harusnya aku tidak makan singkong goreng itu tadi siang, pikirnya sambil meringis.

Setiap keping lempengan tulang-tulang belakangnya tersiksa saat ia mengusung perut bundarnya menuju sebuah meja. Dinding di belakang meja itu bertempelkan plat putih bertuliskan ADMINISTRASI. Meja bercat coklat itu kecil. Seperti meja-meja di SD Nara, pikirnya lagi. Ia tersenyum saat teringat kuncir rambut gadis kecilnya itu.

Seorang lelaki, duduk di belakang meja, tubuhnya kurus hitam, mengangkat kepalanya dari majalah kumal yang sedang dibacanya. Wajah tirusnya menunjukkan raut enggan yang luar biasa, seakan pekerjaan itu menderanya setiap hari. Lelaki itu mengulurkan tangannya yang kering, meraih buku kecil bersampul merah muda yang disodorkan wanita hamil itu. Nomor 5 bu, silakan tunggu di sana, gumam lelaki itu, menunjuk sebuah pintu. Suaranya seakan tersumbat oleh sebuah katup, hanya sedikit yang dengan malas berhasil merembes keluar. Sambil kembali menunduk pada majalahnya, lelaki itu menggeser sepotong kertas di sepanjang meja tadi, tak peduli bahkan jika perempuan di depannya tidak mengambilnya.

Wanita hamil itu menyambut kertas tadi tanpa ekspresi, dan beringsut menuju ke depan pintu yang dimaksud. Setengah terhempas, punggungnya terjajar di salah satu bangku lipat yang berbaris. Itu bangku dengan lapisan yang terbaik. Sebelum duduk, ia sudah menilik tiga buah bangku kosong, dan menjatuhkan pilihannya pada yang ini. Yang tidak terlalu banyak nodanya. Yang tidak ada bekas sundutan rokoknya. Ia meraih kembali ke dalam tasnya, mencari-cari sesuatu tanpa melihat. Sambil merogoh-rogoh, ia mendelik pada lelaki yang duduk di seberang. Lelaki itu sedang santai menghembuskan asap rokoknya, tak peduli banyak wanita hamil yang duduk berbagi udara yang sama. Persis di sebelah lelaki itu, seorang wanita hamil muda sedang duduk dengan wajah hampa, diam.

Akhirnya kipas yang ia sejak tadi ia cari berhasil terenggut keluar. Ia lalu sibuk berkipas, dengan demonstratif berusaha menghalau asap rokok pria tadi. Kibasan angin sia-sia menguapkan peluh yang berbulir lengket di dahinya, sia-sia pula mengusir asap rokok itu. Tiba-tiba, pintu terbuka. Nomor 4. Lelaki perokok tadi dengan wanita yang sedang hamil muda itu masuk. Ia memperhatikan mereka masuk, sambil melotot berharap pria itu akan menatapnya, menerima konfrontasi yang ia tawarkan. Tapi tidak. Mereka masuk begitu saja, dan ia merasa sedikit kecewa. Ia kemudian bersandar dan menyadari punggung bangku itu ternyata berkeriut jika disandari. Mungkin baut dan sekrupnya sedang berkeluh kesah karena sudah ribuan kali dihempas sekian banyak bobot-bobot yang tak peduli.

Kali ini tangannya sibuk menggapai tas lagi, mencari telepon selulernya. Ia menarik ponsel itu beberapa kali, tak keluar juga. Mungkin celah kecil di ujung ponsel itu tersangkut lagi pada benang-benang yang terburai ke segala arah di dalam tasnya. Ia menyentakkan tangannya, dan ponsel itu melompat keluar jatuh ke pangkuannya, berhambur bersama benang-benang tipis yang lalu mengulai lesu di sisi-sisi tasnya. Sebelum sempat ia tangkap, ponselnya jatuh berkelotakan ke ubin tegel. Tutup punggung ponsel itu terlepas, dan melenting ke bawah bangku di seberangnya. Ia mendecak kesal, bangkit sedikit terengah, menghempaskan tasnya ke bangku yang menerbangkan partikel debu ke udara, dan menunduk meraih potongan ponselnya. Kulit di pergelangan kakinya yang tertekuk kala ia menunduk seperti itu terasa perih.

Setelah berhasil merangkai ponselnya utuh kembali, ia menyalakan dan menatap layarnya. Berharap segera menemukan pesan dari suaminya. Suaminya seharusnya menemuinya di sana sejak setengah jam yang lalu, bersama-sama menghadap bidan. Ia menggeser tombol ke atas ke bawah,  memikirkan kemungkinan adanya pesan-pesan baru yang terselip entah di mana. Tapi saat pintu kamar itu kembali terbuka, dan asisten bidan mengumandangkan nomornya, ia masih belum bisa menemukan pesan apapun dari suaminya.

Selamat malam ibu Ani, ujar bidan itu ramah. Ada juga yang ramah di tempat ini, pikirnya sarkastik sambil menurut saat dibaringkan di atas ranjang besi yang kakinya berkarat. Ia membiarkan tangannya diraih oleh asisten sang bidan, merasakan kain velcro itu menegang pada lengan atasnya saat si asisten mengukur tekanan darahnya. Wah, kok tensinya tinggi sekali? ujar asisten itu dengan suara yang tidak mengandung sedikitpun rasa peduli. Rasanya apa bu? tanyanya lagi. Ia menjawab, bingung, tak siap dengan pertanyaan sederhana berbasa-basi itu. Apa ya? Mual sedikit..  Dalam hati ia menimpali, apa pedulimu? Aku sakit punggung, kakiku perih berdenyut-denyut, tanganku semutan sampai ke pundak, kepalaku berat, suamiku brengsek. Suami kurang ajar, sampai sekarang belum juga datang. Ia terus merutuk.

Bayinya sungsang nih, bu, mungkin bayi laki-laki, bidan tua itu berkata sesaat meraba-raba perutnya yang telanjang. Jika tidur terlentang seperti ini, nafasnya terasa sesak. Ia mengangguk. Ya, nggak apa-apa kan, sahutnya dalam hati, nanti juga balik sendiri, dan, oh, laki-laki ya? Namun yang keluar dari mulutnya malah, Oh ya? Wah, terus gimana dong Bu Bidan? Bidan itu tersenyum, menenangkan. Ia merasa mendengar bidan itu berkata ‘ah nggak apa-apa kok bu’ bersamaan dengan pikirannya yang melayang pada suaminya, berpikir bagaimana ia akan pulang jika suaminya tidak jadi datang.

Ia menurunkan blus kaosnya yang terlipat ke atas, dan perlahan duduk di bangku di depan meja Bu Bidan. Kalau sampai bulan depan saya rasakan masih sungsang juga, Ibu harus diUSG ya bu. Ia terdiam. Terlintas di benaknya berapa lembar uang yang harus ia keluarkan untuk keperluan itu. Suaminya mungkin tak akan setuju. Ia mengangguk saja sambil memaksakan sebuah senyum. Suaminya pernah bertanya, buat apa USG kalau hanya untuk tahu jenis kelamin bayinya. Kami tak ingin tahu jenis kelamin bayinya, Bu Bidan, biar jadi kejutan. Begitu pernah ia sampaikan ke bidan tua itu, sebulan yang lalu, saat belum ada alasan kuat untuk melakukan USG.

Sambil menyeret sandalnya keluar kamar bidan, langkahnya pasang surut. Lantai di bawahnya mendadak terasa bergelombang. Matanya nanar, bintik hitam kuning berangsur memenuhi pandangannya. Ia langsung menempelkan telapak tangannya pada dinding, khawatir tersungkur. Engsel di lutut-lututnya terasa melemah. Akhirnya tubuhnya luruh, terantuk pada tempurung lututnya. Ia tak mengerti mengapa, namun pandangannya semakin gelap, kepalanya terasa berputar, dan ia merasakan desakan yang kuat untuk memuntahkan isi perutnya saat itu juga. Tanpa dapat ia tahan lagi, gelegak cairan mendorong katup di kerongkongannya, menekan lidahnya ke bawah dengan daya tinggi, dan semburan cairan kuning kental bergelembung menderas bergumpal-gumpal melalui bibirnya yang kering. Udara yang keluar dari mulutnya bersurukan dengan cairan pekat, menghasilkan suara gemetar yang tersangkut di belakang lidahnya, terpukul-pukul oleh tonjolan amandelnya.

Tolong, suaranya tak bisa keluar. Tolong. Ia mengkerut di lantai. Segumpalan cairan meluncur keluar lagi. Lelaki bertangan kurus tadi tiba-tiba sudah berjongkok di sampingnya. Ia mengangkat kepalanya dengan susah payah. Keringat dingin membasahi punggung dan telapak tangannya. Saat pria itu berusaha mengangkatnya bangun, tangannya tergelincir, terlepas dari genggaman kurus pria itu. Beberapa tangan lain terasa membantunya bangun, mendudukkannya di bangku yang terdekat. Ia melirik sekilas, sambil duduk bertanya-tanya apakah ini bangku yang ternoda bekas sundutan rokok.

Lalu tiba-tiba ia sudah kembali ke ruangan bidan tadi, terkapar di atas ranjang besi yang sama. Dadanya naik turun, nafasnya semakin sesak. Bintik hitam kuning memenuhi langit ruangan yang terlihat berputar. Ia mendengar suara-suara, jauh sekali. Bayangan bidan wanita tua berkelebat di seputaran ruangan. Dokter, geragap sang bidan, terdengar sayup-sayup, ini ada pasien gawat. Ya, ya, ya, katanya lagi, lalu menutup telepon.

Mana suami saya, ia dengar suaranya tercekik dan lolos dari lehernya. Suami saya, katanya lagi. Handphone saya, ia terengah, menggapai-gapai tasnya. Asisten bidan tadi tergesa membongkar tasnya, sebagian isinya terjatuh, dan ponselnya tergantung-gantung, tersangkut pada benang-benang tas itu, langsung direnggut oleh sang asisten. Ponselnya diutak-atik oleh si asisten, mungkin mencari nomor suaminya. Ia mengulurkan tangan, hendak melakukannya sendiri, tapi tiba-tiba perutnya membuat dorongan demikian dahsyat sehingga ia terlontar dari ranjang dan mulutnya terbuka lebar dengan sendirinya dengan suara parau yang basah dan lengket. Ember hitam kecil di bawahnya langsung terisi separuhnya. Ia sempat melihat betapa jeleknya ember hitam itu dan merasa janggal dengan begitu acaknya pikirannya yang sempat mencatat hal tak penting seperti itu bahkan di saat-saat krisis. Lalu tiba-tiba semuanya gelap.

Saat terbangun, wajah pertama yang samar-samar dilihatnya adalah bapak tua pengemudi becak langganannya. Keheranan membersit, bukannya tadi sudah aku bayar sekaligus untuk besok, pikirnya. Lalu terlihat wajah bulat seorang dokter pria, berkacamata, sedikit berjenggot, dan ternyata agak gagap. Suamiku mana, ia merasa berbisik, belakangan menyadari bahwa ia sedang bicara dalam hati. Kepalanya seperti dipukul-pukul oleh palu dari dalam, berdentam-dentam bahkan setiap ia hanya mengedipkan mata.

Preeklamsia, ia dengar dokter itu berkata. Kenapa.. kenapa belum dirujuk juga? Ini bisa.. fa.. fa.. fatal, gagap dokter itu. Sayup ia dengar bidan tua itu menjawab, baru, dan hari ini, dan bulan lalu. Ia tak mengerti mengapa suaminya masih belum datang juga.

Tiba-tiba ia merasakan tarikan begitu kuat di bagian bawah perutnya, sedemikian sehingga ia mencengkeramkan kuku-kukunya tanpa sadar ke besi di pinggiran tempat tidur itu. Ia mendengar salah satu jarinya, mungkin kelingking, berderak patah. Sakitnya luar biasa, tapi tak sesakit perutnya. Ia merasakan asin akibat darah yang menetes di bibir bawahnya, sobek oleh benaman giginya. Rasa sakit itu menjalar menjadi rasa panas, membakar, yang bermula dari atas tulang ekornya, melebar ke pinggang, lalu ke punggung. Ia merasakan darah meluncur turun meninggalkan wajahnya, dan hembusan kipas angin di ruangan itu menguapkan keringatnya yang dingin. Perutnya serasa diremas dan dilindas oleh sesuatu dari dalam.

Tiba-tiba, entah ditarik oleh kekuatan apa, kedua bola matanya tersentak ke atas, hilang di balik kelopak matanya yang terus berkerjapan. Ia merasa kedua tangan dan kakinya mengejang tanpa bisa ia kendalikan. Bahkan mendadak ia tak bisa merasakan kakinya lagi. Di tengah kepanikannya, ia mengeluarkan suara seperti tercekik, memohon bantuan. Pakde memburu ke ranjangnya. Suster, suara Pakde, berat dan serak karena terlalu banyak merokok. Langkah kaki berderapan mendekat. Kembali sebuah daya maha kuat menguras otot-otot perut bawahnya, seakan ingin menarik kencang-kencang bayinya dan seluruh kantung rahimnya keluar, dan ia berteriak. ALLAHUAKBAR!

Tiba-tiba, begitu saja, ia kehilangan rasa sakit di perutnya. Rasa sakit yang tadi menjalari seluruh tubuhnya hilang tanpa bekas. Ia tak merasakan lagi pergelangan kakinya yang perih. Tak ada lagi rasa mual yang menekan. Tak ada lagi betotan otot di seputar pinggang. Rasanya hanya kosong. Hampa. Kehampaan yang menenangkan. Hanya rasa tenang. Dengan cara yang tak ia mengerti, tubuhnya menyatu begitu saja dengan kehampaan yang melingkupinya.

Tapi tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tak bertubuh lagi. Dengan heran ia cari-cari tangannya, ia menunduk berusaha melihat pada perutnya yang membuncit. Namun yang dilihatnya malah dirinya sendiri, terkulai di ranjang besi yang tak nyaman itu, dengan mata sedikit membuka. Diam. Darah hitam bergumpal-gumpal di antara kedua kakinya. Ia dengan takjub memperhatikan betapa bengkak di pergelangan kakinya ternyata sudah naik sampai ke betis.

Ia melihat Pakde berdiri kebingungan. Ia melihat bolak-balik pada dokter dan bidan yang berseliweran dengan panik. Pintu terbanting membuka, dan suaminya berlari masuk. Ia berteriak, berusaha memanggil suaminya, tapi suaminya malah sedang jatuh terjajar ke belakang, meraung, dipegangi oleh Pakde, tak mendengarnya. Dokter gagap itu sedang sibuk dengan stetoskopnya. Bidan tua berlari kecil membawa alat tensi darah. Asisten sang bidan sedang berdiri kaku di belakang mereka, menahan nafas dengan mata terbelalak.

Seseorang menyentuhnya. Menyentuh, pikirnya aneh, aku kan tak bertubuh. Tapi ia bisa merasakan sentuhan itu. Begitu jelas. Begitu hangat. Begitu dekat. Seakan menjadi bagian dari dirinya. Ia menoleh. Menoleh, sebuah kata aneh lagi, pikirnya geli. Dan di dekatnya, seorang bayi kecil, gemuk dengan rupa persis seperti suaminya, melayang dengan sepasang sayap yang tipis. Sedemikian tipis sampai ia bisa melihat gurat-gurat sayap itu. Bayi kecil itu tersenyum. Sayapnya terkepak-kepak halus tanpa suara.

Dengan kesadaran yang tak bisa dijelaskan, ia langsung memahami bahwa bayi itu adalah bayinya. Ia menjangkaukan tangannya, walau tangan itu tak kasat mata. Pelan ia sentuh wajah bayi kecil itu. Hmm, hidung bapaknya, ia bergumam. Mataku, lanjutnya. Bibir siapa ini ya, pikirnya lagi. Dan bayi kecil itu tersenyum semakin lebar.

Ia melihat lagi ke kesibukan di dunia di bawahnya, di ruang bidan tua itu. Suaminya sedang memegangi tangannya yang kaku, menangis tergugu, tertunduk-tunduk menciumi wajah pucatnya. Pakde memegangi pundaknya dari belakang, seluruh sendi di wajah tuanya terkunci rapat. Ia melihat bidan tua itu menekan perutnya, dan sang dokter menarik pelan bayinya keluar dari tengah kedua kakinya. Laki-laki. Benar kata ibu bidan itu, pikirnya senang. Ia mengamati wajah bayi yang sudah tak bernafas itu lalu menoleh pada bayi kecil bersayap di sebelahnya, dan senang karena ternyata mereka memang bayi yang sama.

Lalu ia menyaksikan dokter dan bidan membersihkan dirinya, dibantu asisten muda yang masih pasi. Mereka mengatupkan kedua tangannya di atas dada, mengatupkan matanya. Menutup seluruh tubuhnya dengan seprei putih yang berbercak darahnya. Suaminya terisak kencang, menutupi wajah yang belum sempat dicukur. Tangannya yang kotor terkena minyak rem dan oli dirembesi air matanya. Ah, pasti motornya mogok lagi tadi….

Bayinya kembali menggamitnya. Ia tersenyum. Direngkuhnya sayap sang bayi yang mengepak lembut, dan ia terkejut sendiri saat menyadari bahwa ia pun sekarang memiliki sayap. Atmosfir di sekitarnya bergetar ritmis oleh kepak sayap mereka. Matanya terpicing melihat sebuah sinar maha terang di kejauhan. Berdua, mereka terbang ke sana. Ke arah sumber segala cahaya.

****

Depok, pertengahan Maret 2011