Category Archives: Scribblings

Ada Surga di Rumahmu

Ini adalah kisah tentang orang tua kita. Ini adalah kisah tentang surga.

Surga mencintai kita setiap hari.

Surga bernama Ibu, Bunda, atau Ummi.

Surga menjunjung kita tinggi di bahunya.

Surga yang kita panggil Bapak, Ayah, atau Abuyya.

Kau cari surga sampai jauh. Melampaui dirimu.

Padahal surga ada di tapak Ibu. Ia ada di senyum Ayah.

SURGA kelak adalah bagaimana surgamu kini.

SURGA itu dekat. Dekat sekali.

Tapi kau mencarinya sampai jauh.

Puisi ini adalah pembukaan novel Ada Surga di Rumahmu, yang Insya Allah akan diterbitkan oleh Noura Books di bulan Ramadhan. Kisah novel ini berpijak pada jalan hidup Ustad Ahmad Al Habsyi, seorang ustad yang hampir selalu mengajarkan ilmu surga ini di setiap ceramahnya. Bahwa surga itu dekat. Surga itu tak pernah jauh.

Apakah premis ceritamu kuat?

Somebody wants something really badly but having a hard time getting it.

Premis adalah ide dasar sebuah cerita. Jika kamu seorang penulis, di sanalah keseluruhan ceritamu berpijak. Premis harus bisa dikenali, bahkan sejak di sepertiga awal ceritamu.

Contoh premis yang sangat kuat:

1. Finding Nemo (2003)

PREMIS: Marlin ingin mencari Nemo, anaknya yang hilang dicuri penyelam, namun menemukan banyak halangan dalam perjalanannya.

 

Gambar diambil dari: https://www.movieposter.com/poster/MPW-46480/Finding_Nemo.html
Gambar diambil dari: https://www.movieposter.com/poster/MPW-46480/Finding_Nemo.html

Sepanjang perjalanan Nemo, kita bisa melihat dan merasakan betapa kuatnya premis Marlin. Tujuannya cuma satu: mencari Nemo. Dan seluruh filmnya hanya berkisah tentang itu, nggak nyasar ke mana-mana.

2. Children of Heaven (1997)

PREMIS: Ali ingin menggantikan sepatu Zahra yang tanpa sengaja ia hilangkan, namun ia tak punya uang, sehingga ia berlatih keras mengikuti lomba lari yang berhadiah sepatu.

Children of Heaven
Gambar diambil dari: http://newsjid.com/haus-bacaan/film/children-of-heaven/

Sama halnya dengan Nemo, sepanjang film kita bisa merasakan betapa kuatnya tekad Ali mengembalikan sepatu adiknya. Demi menyimpan rahasia dari orang tuanya, mereka sampai harus bergiliran mengenakan satu sepatu yang sama setiap hari. Ah, sedih betul film ini.

Film atau novelmu akan jadi membingungkan dan membosankan saat kisahnya lari dari premis, atau premisnya memang kurang kuat. Penonton atau pembaca nggak tau, sebenernya apa yang sedang dikejar tokoh utama.  Misalnya, ceritanya memakai judul seorang tokoh, katakan saja, “OKA”. Di awal cerita, dijelaskan bahwa ini adalah tentang perjuangan seorang cewek bernama Oka. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba premisnya pindah ke “BAMBANG”. Dan film-film yang begini ada beberapa, bener-bener nggak sesuai judul. Walhasil, penonton dan pembacamu bosen.

Nah, jika kamu seorang penulis, apa pun tulisanmu, apakah premismu cukup kuat sebagai tempat seluruh ceritamu berpijak?

Kuning

Jum menghela nafas panjang. Ia sandarkan punggungnya lekat di dinding kusam rumah kontrakannya. Alu dan lumpang yang menguning teronggok lelah di hadapannya, letih akibat dipakai belasan tahun. Jam dinding putih bercetak nama sebuah apotik, pemberian salah satu pelanggannya, berdetak seakan lebih cepat dari seharusnya. Jam 5, batin Jum, pesanan Bu Mita saja belum sempat aku jerang.

Ia angkat tubuhnya yang berat, lalu terseok menuju kompor minyak tanah yang berjarak dua langkah dari tempat ia duduk tadi. Desis uap panas dari jerangan air di panci membubung ke langit-langit rumahnya, langit-langit yang sekelabu selaput tipis di matanya. Peluh menderasi jarik yang terkalung kuyu di lehernya yang berlipat menghitam. Terakhir ia mencuci jarik itu mungkin sekitar dua tahun yang lalu, dan jarik itu sekarang berbau asam pahit. 

Bunyi denting botol-botol yang saling beradu menyelingi sengal nafas Jum. Jari-jarinya yang gemuk dan kuning oranye perlahan mengatur letak botol itu di dalam bakul gendongnya, hati-hati sekali karena uang sekolah anaknya di kampung ditunaikan oleh isi botol-botol tadi.

Ia lingkarkan jarik kumal itu ke sekeliling bakul tadi. Dengan sekali sentak, bakul itu terangkring kencang di pinggulnya. Seiring sentakan itu, Jum merasa lantai di bawahnya sedikit bergoyang. Nanar, ia raih cepat dinding yang terdekat. Engahan nafasnya menderu. Akhir-akhir ini ia memang merasa tak sehat, entah sebab apa. Seakan tubuhnya gamang terus, terayun. Jum menguatkan tekadnya. Langkahnya lambat menyusuri jalan setapak kampungnya yang riuh rendah.

Ia tiba di gerbang sebuah perumahan. Betapa damainya lingkungan ini, pikirnya, untuk entah yang keberaparatus kalinya. Satpam-satpam di gerbang depan terlihat sibuk menyapa mobil yang lalu lalang. Ia mengangguk pada salah satu dari mereka, yang kebetulan beradu pandang dengannya, sambil mengingat-ingat, masih berapa ribu lagi sisa hutang para satpam itu padanya.

Ia berhenti di depan sebuah rumah. Rumah besar yang terdengar sungguh ramai dari luar. Suara anak-anak berkelahi dan menangis riuh di dalam tiris sampai ke tempat ia duduk di teras depan. Ia meluruskan sendi kakinya yang kaku. Jariknya yang sangit disekanya sepanjang dahinya. Ibu pemilik rumah itu keluar. Tumben, pikirnya, biasanya mbaknya yang keluar. Wah, aku bau sekali ini, pikirnya lagi.

Biasa ya, Mbok.. Ibu muda itu menyorongkan gelas mug besar berwarna putih yang bersablon foto anak-anaknya. Jum tersenyum. Pake pahitan juga, Bu? Si ibu muda mengangguk. Dalam diam, Jum menuangkan berbagai cairan ramuan ke gelas putih itu. Ibu itu memperhatikan dengan penuh minat, seakan baru sekali itu melihat seorang mbok jamu meracik ramuannya.

Mbok tangannya kuning bener, katanya sambil menerima gelas yang penuh terisi. Jum tertawa kecil, sopan. Bisa hilang nggak kuningnya, Mbok? Jum terkekeh. Yaa, selama masih nggerus kunyit ya nggak bisa, Bu.. Ibu itu tersenyum sambil meneguk habis isi gelasnya.

Berapa, Mbok? Tanyanya sambil beranjak masuk. Tiga ribu, Bu.. sahut Jum sambil membereskan isi bakulnya. Ibu muda itu tak lama keluar, menyorongkan lembar biru. Lima puluh ribu. Jum mengernyit, Waduh, saya belum ada kembaliannya, Bu.. Ibu itu menghela nafas, lalu menghilang lagi ke dalam rumah, dan tak lama muncul dengan lembar biru yang sama. Saya juga nggak ada uang kecil, Mbok.

Dengan berat, Jum akhirnya berkata, Ya udah, nggak apa-apa, besok aja Bu.. Dan dengan ringan, ibu muda tadi mengganguk, berkata terima kasih, dan meninggalkannya di teras. Membawa lembar biru tadi. Sama sekali tak sadar betapa uang tiga ribu itu sungguh berarti bagi Jum saat itu.

Ah, Tati sudah berkirim SMS padanya tadi pagi. Batas pembayaran uang sekolah Diman, cucunya, adalah Jumat ini. Berarti Kamis malam uang sudah harus sampai di tangan Tati. Berarti paling lambat Rabu siang sudah harus ia kirimkan. Dan ini sudah Senin, pikirnya, pening. Ia beranjak dari sana, menggendong bakulnya. Punggungnya letih. Hatinya lebih letih.

Jamu, Buuu…. ujarnya di depan sebuah rumah kecil yang asri. Rumah kesekian puluh yang ia singgahi sepagian itu. Rumah itu nampak sepi, hanya seorang asisten rumah tangga terlihat sedang menekuni wajan di dapur. Asisten yang manis itu melongok ke luar jendela dapur, lalu membuka pintu. Bu Mitanya kan ke kantor, Mbok, ujarnya sambil tersenyum. Ah, ya, tentu saja, ini kan Senin. Iya, sahut Jum, aku nitip ini aja Mbak, kemarin Ibu pesen, tho.. ia sorongkan sebotol cairan kuning ke asisten tadi. Si asisten menerimanya sambil masih tersenyum. Iya nanti aku sampein, Mbok. Suwun yoo..

Jum ragu. Tak yakin apakah harus menunggu upahnya. Sepuluh ribu, Mbak’e.. akhirnya ia berkata ragu. Asisten itu hanya mengangguk pendek, bersiap menutup pintu.

Uangnya udah ada, Mbak?  tanya Jum kembali, memberanikan diri. Aku nggak dititipin eh, Mbok.. Sesuk yo.. si asisten menjawab halus, menyudahi pembicaraan, dan perlahan menutup pintu dapur.

Jum termangu. Mata kelabunya redup. Namun tak lama, mata itu kembali memancarkan sedikit semangat, mengingat pangkalan ojek persinggahannya yang berikut.

Biasa, Mas? ia menyapa halus sambil mengurai jarik dari bakul dagangannya. Serta-merta sekian pengemudi ojek itu meriung di sekitarnya. Sebagian besar berharap jamu kuat. Sebagian butuh ditolak anginnya. Maklum, Mbok, sering masuk angin, kekeh salah seorang dari mereka sambil melepas kacamata hitamnya, namanya juga tukang ojek.., lanjut pria itu, menenggak habis gelasnya.

Duh, kok ya ada aja yang masih kas-bon, keluhnya pilu dalam hati. Nggak wong kaya, nggak tukang ojek kok ya sama aja suka ngutang.. Mungkin aku perlu punya buku hutang ya..

Ia menyeret tubuh gemuknya perlahan meninggalkan perumahan itu, kembali menuju pos satpam yang ia lalui tadi. Beberapa satpam menghampirinya.

Biasa, Mas? sapanya tersenyum. Jum sibuk menuang dan mengaduk.

Ngebon lagi ya, Mbok, seru seorang dari mereka. Jum merasa nafasnya sesak. Kan yang kemarin aja belum dibayar, Mas.. ia memberanikan diri menolak.

Ya udah, kalau nggak boleh ngebon, situ bayar bulanannya sekarang deh, sahut pria itu tanpa beban. Tengkuk Jum terasa panas. Lho, piye tho? Ini kan baru tanggal tiga, Mas. Biasane boleh sampe tanggal sepuluh kan.. 

Terdengar seseorang dari kejauhan berseru, Peraturan baru, Mboook! Masa nggak boleh bikin peraturan baru, ujar pria itu, sayup tergelak.

Jangan gitu dong, Mas, kita kan sama-sama orang kecil, sama-sama susah… Jum mendengar dirinya menghiba, suaranya tercekat di pipa lehernya.

Dikalahkan telak, Jum beranjak berdiri, pasrah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan haknya. Terbayang SMS Tati yang belum jua bisa ia balas karena belum ada dana untuk pulsa.

Bakul gendongnya terasa lebih berat dari pagi tadi, walau botolnya sudah banyak yang kosong. Jari-jari kakinya yang kering dan berkerak sekuat tenaga mencengkeram tali sandal jepitnya yang meregang hampir putus. Urat-urat di tengkuknya mengeras, menjalar bertimbulan hingga ke pelipis. Kerongkongannya kering, sekering sakunya. Terik matahari tajam menghunjam rambut tuanya yang keperakan. Selapis kelabu di matanya mengerut menghalau silau.

Aspal yang ia pijak terasa bergoyang. Jalan raya lebar itu didesingi ratusan mobil dan motor. Sepasang sandal usang itu melangkah maju, lemah dan gugup. Kelebat berbagai warna logam yang bising di hadapannya mendadak membuat Jum panik. Dunianya sekonyong berputar. Matanya berkerjap nanar. Tak sadar, jemarinya menggapai mencari pegangan. Tanpa hasil. Dan tiba-tiba, dalam dunia Jum, semua warna mengelam. Semua suara teredam. Gelap. Hening.

Berbagai suara. Logam-logam berhantam. Tulang-tulang berderak. Jerit tinggi dalam berbagai frekuensi. Klakson adu gaduh. Berbagai warna. Aspal abu-abu. Rambut keperakan, merah dan basah. Ponsel kuno hijau, pecah. Dan jemari gemuk yang kotor, tergeletak kaku di sebelahnya. Kuning.

Senda

Sen berlari sepanjang jalan panjang yang menurun itu. Beberapa kali kaki kecilnya yang telanjang tersandung aspal yang tercungkil di sana sini. Adiknya, Da, seorang bayi laki-laki berusia 1.5 tahun, terlontar-lontar di punggung kecil Sen. Kain batik kumal yang mengikat pantat Da bergeser sedikit setiap kali Sen terjegal jalan.

Maaf ya Da! nafas Sen memburu, tapi kita harus tetap lari. Belasan orang yang tadinya berada di belakang Sen, berhasil lari mendahuluinya. Sama terengahnya. Sama paniknya. Ada yang menggendong anaknya. Ada yang menggendong buntalan pakaian. Ada yang menggendong seekor kambing.

Suasana kacau balau. Riuh. Ayam kampung berkotek pating serabut, menghambat penduduk kampung yang lintang pukang melindas mereka. Leteran bebek terdengar bersahutan dengan teriakan panik manusia dan tangis bingung para bayi. Geraman motor yang dipacu kaki-kaki tak sabar berusaha mengalahkan kegaduhan lainnya.

Sen terus berlari. Sesekali menengok ke sekitar, seakan mencari sesuatu. Atau seseorang. Da sudah mulai menangis panjang di punggung Sen, ketakutan dengan berbagai kekacauan di sekitarnya. Sen berhenti, memutar belitan kainnya sehingga sekarang posisi Da berada persis di bawah ketiaknya. Ssh ssh.. bujuknya tergesa, sabar ya Da.. Sebentar lagi kita sampai di bawah. Dan dengan Da dalam pelukannya, Sen berlari lagi.

Cepet! Cepet! teriak seorang ibu yang menggandeng dua orang anak lelaki kecil, Asap panasnya sudah makin deket! Sen mempercepat pacuannya. Lengan kirinya, tempat adiknya bersandar sepenuh beban, mulai tak terasa. Ujung kain batik yang terlalu panjang untuk tubuh kecilnya, terseret-seret di belakangnya. Butiran peluh yang besar-besar luruh di sepanjang sisi-sisi wajahnya. Demikian keras dadanya berdentam, Sen merasa jantungnya bisa pecah kapan saja.

TONG TONG TONG TONG TONG! Terdengar talu kentongan yang datang dari sebuah tempat di ujung jalan menurun itu. Beberapa truk kecil terlihat berkejaran ke arah atas, ke arah datangnya Sen. Tak lama, truk-truk itu disusul ambulans dan truk tentara yang sama gaduhnya. NGUING NGUING NGUING… WIING WIING WIING WIING! Da yang tadi sudah hampir berhenti menangis, sekarang menjerit lebih kencang.

Mata Sen mulai terasa panas. Sebagian karena sesak asap yang mulai memadati udara, sebagian karena jalaran ketakutannya. Ia ingin sekali, saat itu juga, berhenti berlari, dan duduk melesak di atas aspal rusak itu. Ikut menangis bersama Da, meringkuk memeluknya. Dan menyerah pada apapun saja yang  akan terjadi pada mereka. Tapi ia ingat perkataan mendiang ayahnya, satu-satunya nasihat ayahnya yang ia ingat, bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Ayahnya bilang, itu janji Allah. Dan Allah tak pernah ingkar janji. Bisa ditepati sekarang, bisa ditepati nanti. Tapi pasti ditepati. Maka, lari Sen yang tadi sempat melambat, mulai berkejaran lagi.

Alam nashrah laka sadrak.., lafaz bibir kecilnya. Wawada’na anka wizrak.., Sen terus berlari.

ALLAHU AKBAAAAAAR! lengking seorang Bapak. Sen menengok ke belakang. Bapak itu sedang jatuh tersungkur. Puluhan manusia di belakangnya tak satupun peduli, tak satupun berhenti dan membantunya berdiri. Mereka terus berlari, menghindar dari tubuh yang terguling itu. Menginjak kakinya. Menginjak dadanya. Menginjak tangannya. Menginjak kepalanya. ALLAHU AKBAAAR! teriak Bapak itu lagi, sesaat sebelum dua pasang kaki meretakkan tulang kepalanya. Sen menutup matanya ngeri. Meneruskan larinya. Ia tak tahu, mana yang lebih memedihkan. Mati tergilas alam, atau mati tergilas manusia-manusia yang mungkin pernah jadi tetangga kita.

Alladhi an kada zahrak.. warafa’na laka dhikrak..

Sen! Da! panggil seorang ibu yang menggendong seorang perempuan kecil. Ibu Tarni, tetangga Sen. Suaminya, Jono, memburu di belakangnya, membopong seekor kambing betina yang sedang bunting. Ayo, cepat! Asap panasnya sudah satu kilo di belakang kita. Sen mempercepat langkahnya. Tak mungkin lagi. Kakinya sudah lelah dibebani tubuh adik bayinya dan tubuhnya sendiri, berlarian sejauh 3 kilometer.

Ibumu tadi kena asap panas, Sen, teriak Ibu Tarni sambil terus tergopoh. Nggak jauh dari sawah.., suara Tarni lagi, tersedak karena berlari dan karena menelan isaknya. Maaf aku nggak bisa nolong ibumu Sen..

Fa inna ma’al usri yusran.. Gadis 6 tahun itu terus melafaz. Berlari. Terpental-pental. Tersedan. Inna ma’al usri yusra..

Gunung Merapi yang agung masih mengamuk di belakang mereka.

Citos, Jul 9, 2011

Karaoke

Umurnya sudah tidak terlalu muda. Tidak muda, jika batas mudanya seorang wanita adalah 35 tahun. Dora namanya; sebuah nama yang tidak terlalu ia sukai, terutama sejak duabelas tahun terakhir, saat sebuah filem kartun anak-anak menggunakan nama itu sebagai nama tokoh utamanya. Ia membayangkan bahwa jika seseorang sekarang mendengar namanya disebut atau menyebut namanya, maka yang pertama terlintas dalam benak mereka adalah gambar si karakter kartun tadi.

Sudah tigabelas tahun terakhir ia merasa hidupnya terombang-ambing. Antara ada dan tiada. Ada, berbagai rutinitas yang membuatnya lintang-pukang setiap hari. Namun tiada tujuan. Tiada makna. Begitu selesai kuliah dan masuk ke dunia kerja, ia merasa hidupnya melompong. Seperti setangkup kulit kacang; kosong dan kering setelah ditinggalkan isinya.

Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Ia tak tahu apa namanya. Ia hanya tahu dari berbagai isyarat tak enak yang digeletarkan oleh tubuhnya bahwa apapun yang sedang ia jalani sekarang bukan sesuatu yang ingin ia lakukan dengan hidupnya. Orang-orang menyebutnya ‘gairah’. Ada yang menyebutnya ‘semangat’. Tapi bukan itu. Bukan itu tepatnya yang menghilang dari kesehariannya.

Sudah lima belas tahun ia bekerja, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Bukan mencari sesuatu yang hilang itu. Bukan. Ia tahu sesuatu ‘itu’ tak akan ia temukan selama ia masih mengerjakan yang ia kerjakan. Ia berpindah semata karena yakin, yah – separuh yakin, bahwa dengan berpindah ia akan bisa menghapus sedikit jejak rasa kehilangan itu dengan imbalan uang yang sedikit lebih besar.

Tapi toh akhirnya akan sama saja. Setelah beberapa bulan di tempat yang baru, ia merasa semakin tersesat. Ingin pergi, tapi tak ingin pergi. Ingin lari, tak tak mau lari.

Maka ia putuskan untuk tidak mengambil keputusan.

Suatu hari, suatu sore yang tidak istimewa. Ia duduk di ruangan kantornya yang tidak istimewa. Memandang dengan kening berkerut pada sebuah diagram di hadapannya. Ia membenci diagram-diagram seperti ini, gambar-gambar kecil yang tidak ia mengerti, yang memaksanya duduk diam berpikir dan pada akhirnya hanya memperdalam rasa tidak percaya dirinya. Setelah beberapa menit, ia menyerah, melemparkan pena di tangannya dengan putus asa ke atas meja kerjanya.

Ia melirik jam tangannya. Sudah lewat waktu pulang, dan ia masih berkutat dengan diagram itu. Langit malam merangkak masuk melalui celah-celah jendela.

Seorang pria, teman kantornya, mengetuk pintu ruangannya. Ia tersenyum kecil, memberi temannya isyarat untuk masuk.

“Bu, tolongin gue dong,” temannya tersenyum. Senyuman yang biasa disunggingkan oleh orang-orang yang butuh bantuan di saat-saat terakhir.

“Ada apa?” sahut Dora, tak bersemangat.

“Malem ini gue nggak bisa nemenin orang-orang itu, Bu.. Gue ada acara.”

“Waduh.. ya gue juga nggak bisa dong. Masak gue yang nemenin?”

“Ada Pak Toro, kok,” lanjutnya. “Lo tinggal dateng aja sebentar, pastiin semuanya terbayar.”

Ia melenguh kesal. “Kenapa nggak Pak Toro aja yang bayarin dulu terus klaim balik ke kita? Jadi kan gue nggak harus ke sana.”

“Nggak bisa, Bu. Kali ini bujet Pak Toro nggak diappove sama bossnya. Jadi harus kita yang tanggung.”

“Ya kalo gitu besok aja lah, pas elo bisa.”

“Waduuh.. itu kastemer udah bolak-balik reschedule terus, Bu. Kalo dijadwal ulang lagi, gue takut mereka keburu kabur…”

Dora membuang nafas panjang, sengaja lebih keras dari biasanya, menunjukkan keberatannya terang-terangan. Aroma kekesalannya menggulung-gulung di ruangan kecil itu.

——-

Jam delapan, malam itu. Sebuah mobil hitam meluncur masuk ke dalam pekarangan panjang sebuah gedung berkelip yang penuh ditumbuhi pohon palem. Mobil itu berhenti di depan lobi yang ditunggui sepasang pemuda pribumi berpakaian gaya seribu-satu-malam, dengan sepatu lancip dan sorban emas. Dora memperhatikan semua itu dari balik jendela mobilnya, dan mengeluh dalam hati. Selintas terbayang betapa akan senangnya kedua anak balitanya jika melihat pemandangan ajaib yang disajikan dua pemuda itu.

Sesaat terbersit pikiran untuk menepuk pundak sang supir dan mengajaknya menjauh dari sana, namun ia urungkan. Ia minta sang supir menunggunya. Lalu dengan enggan, ia buka pintu mobilnya. Perlahan menaiki tangga menuju lobi.

Kedua pemuda tadi menatapnya dengan pandangan aneh. Namun, dengan gaya sopan yang berlebihan, salah satu dari mereka mengantarkannya masuk lebih dalam. Lagu gurun pasir menyambutnya. Bau sesak dari puluhan batang rokok yang menyala menyekat tenggorokannya.

Dora mengedarkan pandang sekilas ke sekeliling area lobi yang ia lewati. Beberapa lelaki paruh baya sedang berkumpul di salah satu meja di sudut, berlomba mengepulkan asap rokok ke udara sembari tertawa lepas. Selarik asap tipis menggantung melapisi langit-langit. Di tengah ruangan, di atas sesuatu yang nampak seperti podium kecil, bertahta sebuah bangku panjang berkain keemasan, yang dipenuhi bantal merah dan hitam dalam berbagai ukuran. Seorang lelaki tua, ternyata teman rombongan pria yang tadi, sedang tergolek di atasnya, tertawa-tawa. Dua gadis dengan kostum penari perut dan cadar tipis sedang mengipasinya dengan kipas besar dari bulu sintetis berwarna ungu cerah. Dora mengalihkan pandang. Bukan karena jengah. Tapi lebih karena khawatir akan menyesal jika melihat wajah yang ia kenal di antara para pria itu.

Di sepanjang lorong, ia berpapasan dengan beberapa wanita dengan kostum yang sama. Semuanya bercadar. Semuanya  mengenakan celana gembung dan sepatu lancip keemasan. Semuanya  menampakkan sedikit kulit di dada dan perut. Semuanya berambut dengan poni. Ia menghembuskan nafas diam-diam, menggerutu dalam hati menyesalkan betapa miripnya rambut mereka dengan rambut tokoh kartun yang menyandang namanya.

Pemuda bersorban tadi mundur dengan sopan setelah menghantarnya ke depan pintu yang dimaksud. Setengah berteriak, Dora memintanya kembali, memohon untuk memanggilkan orang yang dicarinya yang ada di dalam ruangan tertutup itu.  Kami tak bisa mengganggu privasi tamu, Ibu, tolaknya halus dengan senyum manis yang entah kenapa membuat Dora merasa tersinggung. Silakan ditekan saja belnya, ujarnya dengan kesopanan palsu, mengulang instruksinya tadi, sambil sekali lagi menunjuk bel  di pintu dengan ibu jarinya.

Sekali. Dua kali. Seseorang mengintip dari kaca kecil bulat yang ditempel di tengah-tengah pintu. Dora membuang wajahnya dengan gaya menyebalkan. Seorang lelaki kecil berkacamata, dengan rambut yang menipis di atas dahi, dan pipi yang sedikit bergelambir, melongokkan kepalanya, sedikit terengah. Suara beberapa pria yang sedang menyanyi ke dalam sebuah mikrofon menyelinap dari sisi-sisi pintu. Sumbang. Terdengar cekikik geli dari beberapa wanita muda.

Dora mengulurkan selembar amplop coklat yang agak tebal pada lelaki kecil itu. “Tolong tanya sama boss kamu, komisi sepuluh persennya dikemanain aja?”

Lelaki itu tersenyum lebar. Giginya yang menghitam karena racun tembakau berjajar rapi. “Yah, jangan galak-galak Bu, nanti situ saya bagi juga deh”, candanya sambil menutup pintu bersamaan Dora  memutar badannya pergi. Dari dalam, terdengar seseorang berteriak parau, Udaaaah, lanjutin di kamar mandi sanaaaa…, yang disambut pekikan kecil seorang wanita.

Sambil bergegas menjauh, Dora membetulkan posisi tas cangklong di pundaknya. Ia hampir bertumburan dengan seorang pria. Wajah pria itu yang ia kenal baik membuatnya hampir saja tersenyum sopan. Refleks bersiap menyapa, saat ia ingat bahwa ia seharusnya ‘tak kenal’ siapa pun di situ. Pria tadi bersikap seakan tak melihat Dora atau mengenalnya, dan bergegas menyusup melalui pintu ruangan tadi, setelah menekan belnya cepat berkali-kali.

Duduk kaku di jok belakang mobilnya, Dora menunduk memegangi telepon genggamnya yang bercahaya redup di kegelapan. Suaminya. Meneleponnya lagi. Tadi ada panggilan masuk yang beberapa kali terabaikan olehnya. Ya Sayang.. jawabnya lembut. Habis meeting. Maaf ya.. 

Dora menempelkan telinganya di telepon itu dalam diam, mendengarkan tanpa kata, lelah. Matanya kosong menatap punggung kursi di depannya. Di seberang telpon, ia bisa mendengar suara bayinya yang menangis hilang timbul di sela-sela pertanyaan cemas suaminya. Wajah pria yang berpapasan dengannya tadi berkelebat di  matanya.

Ia kenal istri pria itu. Ia kenal anak-anaknya. Anak-anak pria itu bersekolah di sekolah yang sama dengan anak sulungnya. Istrinya mengaji di pengajian yang sama dengan mertua Dora. Dora tak terkejut, ia tahu sejak awal siapa dan bagaimana pria itu. Tapi melihatnya di tempat tadi, mengkonfirmasinya secara langsung, membuat kaki Dora lemas. Seakan sebuah simpul besar yang berpusat di perutnya menarik lepas otot-otot kakinya. Wajah sederhana seorang wanita cantik dengan hidung mancung, berkerudung sedikit acak-acakan, melintas berganti. Wajah istri pria itu.

Saat merebahkan dirinya di tempat tidur malam itu, memeluk perut bayinya yang turun naik dengan irama yang teratur, menghirup harum rambut halusnya yang tanpa dosa, Dora diam-diam menangis. Sebuah buku kecil, belum terjamah, masih dalam bungkus plastik toko, ditumpuk paling atas di meja sebelah tempat tidurnya. Rapi. Berdebu. Lampu kamar yang temaram menjatuhkan sinarnya dengan lembut di atas plastik buku itu, memantul sehingga tulisannya yang hitam tebal terbaca: Your Job is NOT Your Career.

Sebelum jatuh tertidur, ia teringat bahwa esok pagi, pukul 9, ia sudah harus mengirimkan revisi diagram tadi siang yang sama sekali belum sempat tersentuh.

Depok, pertengahan Maret 2011