Category Archives: Movies

Why “When Harry Met Sally”?

Gue kasih tau kenapa:

  1. 3 meet-cutes! Umumnya, setiap romcom cuma punya 1 meet-cute. Sekali aja ketemuannya, terus cerita mereka berdua dimulai dari situ. Gimana ceritanya coba, di film ini, dua tokoh utamanya sampe 3 kali ketemu tapi cerita mereka berdua masih juga belum dimulai. Kereeen! Keren banget.
  2. Karakternya kuat banget, dan keduanya bener-bener di kutub yang berbeda. 2 very opposite attracts. Benturan-benturannya jadi lucu banget.
  3. Saw tool effect: kisah cintanya kayak orang yang lagi ngegergaji: giliran Harry-nya ngedeketin, Sally nggak mau. Giliran Sally kesengsem, Harry-nya nolak. Begitu terus sepanjang film, dan semuanya terjadi dengan alasan yang kuat. Bikin gemes, kok mereka nggak jadi-jadi, sih.
  4. Dialognyaaa! Ya ampun, dialognya panjang-panjang, tapi sangat nggak ngebosenin. Kenapa? Karena dialognya ‘visual’. Diceritain sama mereka serasa kita ngalamin sendiri.

Buat yang kepengen belajar nulis romcom, film ini bisa jadi salah satu referensi. :)

Life changing movies

Ini cita-cita saya: bikin film sekeren film-film ini. Temanya sederhana, nggak neko-neko, tapi cerita dan karakternya kuat banget. Bagi saya, dua film ini salah satu yang berhasil mengubah pandangan saya tentang hidup.

Children of Heaven: bercerita tentang seorang kakak (Ali) yang ikut berlomba lari demi mendapatkan hadiah sepatu bagi adiknya (Zahra). Sepatu itu tak sengaja ia hilangkan. Mereka terpaksa bertukar sepatu agar orang tuanya tak tahu. Zahra memakai sepatu kakaknya di pagi hari saat ia sekolah, lalu ia berlari pulang agar Ali bisa gantian ke sekolah dengan sepatu yang sama.

Ini trailernya:

Untuk membeli sepatu baru tak mungkin karena orang tua mereka tak punya uang. Suatu hari, ada berita tentang sebuah lomba lari. Hadiah untuk juara dua: sepasang sepatu olah raga. Ali bertekad memenangkan juara dua demi menyelesaikan masalah mereka.

Dari potongan video ini, lihat betapa kuatnya penggambaran Ali untuk meraih tujuannya. Buat yang belum pernah nonton, potongan video ini penuh spoiler. Tapi, it’s still worth to go and watch the whole movie. Please do. It’s so so so good.

 

I Am Sam: bercerita tentang ayah tunagrahita yang merawat anak gadisnya seorang diri. Si anak jauh lebih cerdas dari ayahnya, dan terancam kekurangan pendidikan jika terus diasuh sang ayah.

Ini trailernya:

Lihat betapa kuat adegan ini ketika si gadis kecil dihadirkan dalam sebuah dengar pendapat di pengadilan tertutup. Ia berbohong dengan mengatakan bahwa ayahnya mampu merawatnya.

Kenapa kita tersentuh? Karena kita merasakan betapa kuatnya relevansi antara kita dengan karakter utama. Relevansi bukan berarti kita harus pernah mengalami hal yang sama persis. Relevansi itu artinya kita ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh kita. Membuat itu, tidak mudah. Tapi itu adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh setiap film: relevansi yang kuat.

Don’t make them cry on-screen. Make them cry off-screen.

Music and Lyrics (2007)

Film ini diperankan oleh Hugh Grant (sebagai Alex), seorang bintang pop lawas yang kehilangan pamornya sesegera band-duonya bubar. Ia berusaha merangkak kembali ke dalam industri yang pernah membesarkannya dengan berbagai cara. Sebagian besar cara yang ia pakai adalah dengan menjual murah jasanya, mengerjakan karya seni yang tidak sesuai selera dan hati nuraninya. Lalu seorang yang bukan siapa-siapa, mantan mahasiswi literatur, Sophie (Drew Barrymore), secara tak sengaja masuk dalam kehidupannya dan membantu Alex mengerjakan lirik lagu untuk seorang penyanyi muda terkenal. Cora, namanya.

Filmnya adalah film komedi romantis yang santai dan ringan. Saya menyukai  kalimat-kalimat lucu yang cerdas yang banyak digunakan oleh Grant. Beliau ini memang spesialis peran-peran dengan karakter laki-laki yang bisa memancing tawa walau berekspresi wajah datar. Phlegmatic jokes specialist. Kalau yang memerankan Alex ini adalah Matthew Perry, karakter easy-going-and-down-for-anything yang diharapkan dari karakter ini mungkin tidak akan keluar.

Sayangnya, bagian akhir cerita ini jadi membosankan. Pertama karena ceritanya berakhir bahagia (Ofcourse. It’s Hollywood romcom, what do you expect?). Kedua, karena aransemen lagu yang ia ciptakan untuk Cora sebetulnya sama sekali tidak cocok dengan gaya Cora. Cora adalah karakter yang sepertinya memang dimaksudkan sebagai sarkasme lucu-lucuan terhadap Britney Spears dan usahanya memasukkan ideologi Buddha dalam hidupnya (dan mungkin dalam konser-konsernya?). Tahu dong jenis lagu-lagunya Britney Spears? Ya masak model Britney Spears dipaksa menyanyikan lagu yang bakal pas dinyanyikan oleh Franky&Jane.

Jadi, walau penulis cerita ini berusaha menetralisasinya dengan menyelipkan kalimat di mana Cora menjelaskan bahwa ia menyukai lagu ini karena berbeda, saya menyayangkan kurangnya usaha si pembuat lagu untuk mengaransirnya sehingga pas dengan nuansa konser Cora. Harusnya bisa dibuat lagu yang bertemu di tengah, antara karakter lame-old-used-to-be-a-pop-star Alex dan hip-sexy-i-think-i’m-enlightened Cora. Buat saya aneh jika lagu bernuansa seperti itu dimainkan di konser dengan lampu kelap-kelip ala kelab. Kok ya penontonnya nggak protes gitu lho.. Hehehehe…

Sebetulnya niat si penulis baik sih. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa kalau kita mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan hati kita, karya kita akan mudah diterima oleh siapa saja.  Jadi hasilkanlah karya yang ber’jiwa’. Jangan sekadar kejar uangnya. #selfnote #selfnote

Tapi yah akhirnya saya jadi sukses ketiduran di adegan-adegan terakhir itu. Bukan sekadar karena lagunya nggak cocok lho ya. Tapi terutama karena saya sudah tidak tertarik lagi untuk mengetahui akhir filmnya. Kasihan penulis film ini. Mungkin dia telanjur kelelahan menumpahkan ide demi menelurkan kata-kata  yang cerdas di awal-awal film sehingga sedikit tergesa-gesa menutup filmnya.

Forrest Gump (and my twitter followers) :)

Semalam saya menonton lagi film ini.

Dan film ini (masih) hebat luar dalam. Bayangkan, tahun 1994 ada sekumpulan orang yang mampu memproduksi film dengan gambar secantik itu, yang kualitasnya bahkan masih sangat layak jika disamakan dengan film yang baru dua tiga tahun lalu diproduksi.

Saya, yang awam ini, juga kagum sekali dengan penulisan skripnya, yang bisa berpindah dari satu adegan ke adegan lain, tumpang tindih sambil tetap mempertahankan voice over. Butuh ketelitian dan kesabaran luar biasa untuk menulis adegan per adegan yang pendek-pendek begitu. Butuh kejernihan batin untuk bisa membayangkan setiap gerak filmis yang akan muncul lalu menerjemahkannya dalam bentuk barisan kata. Dan butuh kreatifitas tinggi untuk bisa menjaga kesinambungan tiap adegan demi mempertahankan penonton duduk lekat-lekat selama hampir 2 jam. Bravo, Eric Roth. You deserved an Academy.

Kesederhanaan karakter Gump diperankan gemilang oleh seorang Tom Hanks. Tak ada lagi orang yang akan lebih pas memerankannya selain Hanks. Tapi ya apa lagi sih yang perlu dikatakan tentang akting Tom Hanks. He would do great in ANY character.

Nah, semua yang saya tulis di atas adalah tampak luarnya. Namun, yang paling saya kagumi, justru bukan tampak luar film ini. Saya justru lebih terinspirasi pada kenyataan bahwa jauh sebelumnya, tahun 1986, ada orang yang dengan sangat jenius menulis novel yang menjadi dasar dibuatnya film ini. Bagaimana penulis novel itu merekayasa kehadiran Gump dalam berbagai kejadian sejarah menurut saya sungguh di luar norma umum. Saya takjub bahwa konsep Think Outside the Box bahkan sudah diaplikasikan oleh Winston Groom saat jargon Out of Box sendiri masih berbentuk dengungan. Sedemikian cerdasnya Winston Groom sampai kalimat Life is like a box of chocolates menjadi fenomenal dan akan dengan mudah dikutip oleh siapa pun yang tiba-tiba dites pengetahuannya mengenai film Forrest Gump. 

Saya sebenarnya tidak secara sengaja mencari dan mencatat kutipan apa yang kira-kira bermanfaat untuk diingat (dan ditweet, hahaha!). Karena menurut saya (menurut saya lho, ya..) tidak terlalu banyak kalimat yang filosifikal, kecuali beberapa di awal dan penghujung film.

Tapi, menjelang akhir film, ada satu kutipan yang mengena di hati. Gump berlari keliling negara bagian AS (entah negara bagian yang mana, Alabama kalau tidak salah), tanpa alasan apapun selain kuatnya dorongan hati untuk berlari. Namun akhirnya banyak orang ikut berlari di belakangnya. Semata karena orang-orang itu terinspirasi oleh tindakan Gump, dengan tingkat pemahaman mereka masing-masing. Gump berkata, For some reason, what I was doing seemed to make sense to people.

Saya tertohok di situ. Adegannya sebenarnya tidak terlalu spektakuler. Tidak sespektakuler adegan Sylvester Stallone lari diikuti ribuan orang dalam film Rocky. Tapi adegan ini justru sangat mewakili perasaan dan keadaan saya saat ini. Bagaimana dalam usaha saya menuju impian, saya sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Ke hal-hal yang tidak mendukung saya untuk segera sampai tujuan. Walau dengan terus berharap akan banyak orang yang mendukung saya, mengikuti jejak saya. Dan alih-alih menghasilkan sesuatu, saya malah nampak sibuk tanpa pencapaian yang berarti. Tak bertambah dekat pada impian saya. Apesnya, juga tak bertambah pengikut. *Yah, curcol deh. Twitter follower nggak nambah-nambah.. Halah..*

Adegan itu menjelaskan dengan baik sekali, bahwa jika kita melakukan sesuatu karena digerakkan nurani, dan semata karena nurani, maka it would all make sense to people. No matter how senseless it may look.

—————-

Oh, and I do hope this link on that Forrest-cross-country-run still works. http://www.youtube.com/watch?v=AN8kAjbuCIA

 

The Wedding Dress (Korean – 2010)

Ini film Korea pertama yang saya tonton. Sejak entah kapan si Tau Ming Tse (begini bukan ya nulisnya?) merajai dunia perVCDan ibu-ibu rumah tangga, saya nggak pernah sekali pun tertarik untuk menonton. Tapi suatu hari, sehabis mentoring menulis dengan Titien Wattimena, saya bertanya, foreign film apa yang bagus yang perlu saya tonton. Korea, jawabnya singkat. Korea? OK. Saya sih nurut aja. She’s the expert.

Jadi merantaulah saya ke ranah-ranah tempat mendownload film asing (non Hollywood). Btw, OOT nih, download film itu legal nggak sih? Hehehe… Anyways, ketemulah saya dengan film ini. Alasan pertama saya tertarik tentunya adalah karena gambar sampulnya, karena sepertinya merepresentasikan kebahagiaan dan kejenakaan hubungan ibu dan anak. Tapi ternyata ringkasan ceritanya lebih menarik lagi. Saya tertarik mengetahui bagaimana seorang ibu yang sedang di ujung ajal mempersiapkan anaknya untuk hidup mandiri.

Yang paling luar biasa menurut saya justru akting si gadis kecil, si anak (Sora, namanya) yang diam-diam tau bahwa ibunya sedang sekarat karena sakit. Secara alami ia bisa melunturkan emosinya, adegan demi adegan. Puncaknya adalah ketika akhirnya ibunya meninggal dunia saat mereka sedang tidur berpelukan, tanpa gadis kecil itu sadari. Ia menangis sampai tersedak-sedak mencegah tim dokter RS itu masuk ke ruangan ibunya karena tau ibunya akan dibawa pergi. Saya ikut berlelehan air mata.

Film ini juga menyuguhkan gambar-gambar indah yang sederhana. Clean and neat. Warna-warna lembut bertebaran di penjuru film, sesekali ditingkahi warna hijau terang atau kuning terang. Sungguh terapi indah untuk mata. Dan hati.

Depok, 29 Maret 2011

Burlesque (2010)

Burlesque. Kalau dilihat di wikipedia maka kalau saya terjemahkan (tentunya dengan sangat terbatasnya pengetahuan kesenian saya) adalah karya drama atau musikal yang dibuat dengan penuh kemegahan walau dimaksudkan untuk menertawakan atau mengejek sesuatu. Coba dibaca sendiri ya di wikipedia :)

Saya pernah membaca sekilas entah di mana betapa Cher gusar saat Burlesque tidak diikutsertakan sebagai nominasi Academy Awards. Walau tidak tertarik mencari tahu mengapa, namun setelah menonton filmnya, saya jadi sedikit banyak mengerti.

Tentunya suara Christina Aguillera adalah pusat dari semua aktivitas film ini. Suaranya memang luar biasa. Koreografi tari-tariannya juga cantik, penari-penarinya apalagi. Jalan ceritanya, yah seperti layaknya film Hollywood, mudah diduga.

Namun akting Aguillera menurut saya belum seluwes seharusnya. Seharusnya, akan lebih enak ditonton jika karakter Ali menonjolkan dengan ekstrem gaya “good girl – bad girl”, yang sepertinya ingin dipelihara oleh Aguillera, walau tidak konsisten. Entah mengapa, menonton Ali membuat saya merasa seperti menonton Shannon Doherty di BH90210 tahun 1990an. Kadang berusaha menyebalkan (walau lebih sering nggak berhasilnya sih..), kadang terlalu manis berlebihan.

Dan Cher, kok agak expressionless ya? Bahkan saat dia sedang meluap dalam amarah pun wajahnya cenderung datar. Mungkin mata amatir saya yang kurang jeli, karena ternyata tertera di wikipedia barisan penghargaan akting yang pernah ia terima.

Tapi secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Apalagi karena ada Eric Dane. :)