Category Archives: Food

Yang penting hepiiiii…

Ceritanya saya sedang kesengsem belajar membuat kue. Awalnya sih karena kepengen nyoba bikin tiramisu sendiri. Soalnya, masak harus ke Harvest dulu tiap ngidam tiramisu. Emang sih, ada Harvest deket rumah, jadi bisa bolak-balik kapan aja. Nah, tapi itu dia masalahnya. Karena kelewat deket sama rumah, jadi bisa bolak-balik ke sana nggak pake mikir macet. Nggak macet di jalan, macet di kantong.

Singkat cerita, ibu ini berbaik hati mengajarkan. Beliau bilang, mau buat apa lagi? Mmmmm… apa yaaa? Creme brulee deh!

Acara kursus gratis ini berjalan lancar, tentunya. Karena berada di bawah pengawasan ahlinya, ya semua berhasil dibuat dengan sukses. Banggaaaa banget rasanya bisa bikin semua dessert itu ‘sendiri’. Begitu sampe di rumah, saya yakin banget bisa bikin lagi semuanya sendiri.

Percobaan pertama membuat ulang creme bruleenya sendiri, berakhir mislek. Lek lek lek. Creme bruleenya bau telooooor! Ah, mengadulah saya pada sang pakar, Ceee.. kenapa iniiiiiih?? Dan setelah beliau coba troubleshoot jarak jauh (pake BBM, maksudnya), tercapailah beberapa kesimpulan.

Oke. Pantang menyerah, saya coba lagi keesokan harinya. Kali ini menggunakan tips dari ibu pakar. Berhasilkah? Alhamdulillah, berhasil. Mungkin bukan creme brulee standar Shaillendranya Marriot, tapi memang bukan itu target saya. Hehe..

Nah, berbekal pengetahuan yang segitu-gitunya itulah, saya memberanikan diri membuat berbagai penganan yang belum pernah saya pelajari sebelumnya.

Sok tau, saya karyakan sebuah cake pisang. Jadikah? Jadi sih. Tapi bantet. Sehingga, saya mengadu lagi, Ceeeee… kumahaaa.. kok banteeet?? Ibu yang baik hati ini kembali mencoba mencari masalahnya secara remote. Baiklah, saya catat semua tipsnya. Lucunya, si bantet ini malah dipuji orang serumah. Katanya, bantet-bantet enak juga, kayak lapis legit. *Lho?* Alayka malah dengan manisnya menghibur, Ini bukan bantet kok, Bu… Tapi enak! *snif snif*

Nah, besoknya, saya coba bikin bolu kukus karamel. Berhasilkah? Mmm…. bisa dimakan sih… tapiii… mmm, nempel semua di loyangnya karena saya nggak pake kertas khusus bolu kukus. :p

Besoknya, saya coba lagi balik ke resep cake pisang yang sama. Kali ini mengikuti 100% apa yang ditulis di buku resep. Apa yang terjadi? Kuenya kering, kayaknya kelamaan dipanggang. Hayah!

Nah, siang ini saya nekat membuat keju mascarpone sendiri. Langkah-langkahnya saya comot sana sini dari berbagai situs. Jadi atau nggaknya si mascarpone, saya belum tau, karena ia masih berbentuk buntalan yang ngejogrok di saringan di pojok dapur. Kita lihat aja.

Nah, meskipun berkali-kali gagal, saya betul-betul menikmati kegiatan ini. Saya layaknya menemukan hobi baru. Jujur aja saya nggak terlalu peduli dengan hasilnya, karena saya sudah senang sekali saat melalui prosesnya.

Saya jadi mengerti apa yang dikatakan Rene Suhardono dalam salah satu seminarnya, yang bunyinya kira-kira: You don’t have to be good at what you do to like what you do. Menyukai melakukan sesuatu bukan berarti harus menjadi ahli. Yang penting, kita bahagia. And isn’t that what life is all about? To find happiness. To be happy.

Dan saya pikir, dia benar sekali. Because even if the cake sucks, I’m still happy.

Yang nggak hepi yang nyuci mangkok-mangkoknya. Hahahaha!

Creme brulee

Creme brulee means ‘BURNT cream’. You can make it from the best of ingredients. But if they are not burnt with a torch, then it is not creme brulee. Somewhat the same as your passion. You can have the best of ambitions, but if they are not burned with desire, then it is not passion.

This image is taken from http://en.gourmetpedia.com/

Chef Cilik

Sejak Alayka sering ikutan nonton Master Chef Australia dan DC Cupcakes, dia jadi tertarik banget belajar bikin kue.

Karena masih libur, kita masih bisa ajak anak-anak jalan-jalan, walau cuma di seputaran Depok. Kemarin, setelah pulang dari makan mpek-mpek (oh btw, Pempek Pak Raden belum ada yang ngalahin deh..), ada plang besar di depan toko kue Kedai Coklat, Jl. Juanda. Chef Cilik, begitu tulisannya. Kursus membuat kue, cuma 15 ribu.

Wih, menarik dong. Mampirlah kita. Tanya sana tanya sini. Dapet info bahwa kursus yang cuma 15 ribu ini sudah termasuk membuat permen coklat, truffle cake, dan milkshake. Wow, oke, nice offer nih. Tapi emang harus member dulu sih untuk dapet harga 15 ribu, karena non member dikasih harga 35 ribu. Hmm, kayaknya ngga apa-apa juga deh ya. Ngga terlalu mahal sih ngeliat apa aja yang didapet.

Jadi, tadi sore, kita datang lagi. 3 gadis cilik, siap untuk belajar bikin kue. Alayka, Atifah, dan Yessika. Karena bertiga, toh bakal bayar 105 ribu kan, jadi kita putuskan untuk daftar jadi member aja. Jadi member itu bayar 100 ribu, berlaku setahun. Utk para member, setiap pembelian produk Kedai Coklat, kita akan dapet diskon 10%. Terus, nah ini nih yang akhirnya bikin saya mutusin untuk daftar aja, kita akan dapet 2 kue (yang satu birthday cake berukuran 15×15, yang satu lagi photocake berukuran 12×12). Nah, padahal satu kue itu harganya sekitar 90 ribu. Jadi, balik modal banget ngga sih.. Hehehe…

Ini mereka bertiga, mulai mencetak kue coklat mereka.

Menghias permen coklatnya. Membuat milkshake.

Dan menikmati hasil kerjanya. :)

Congratulations ya, Cantik.. Ibu doain suatu saat nanti kamu punya jaringan toko kue kamu sendiri. Yang mendunia.

Pondok Laras, Kelapa Dua – Depok

Kemarin siang kami ke restoran Pondok Laras di Jl. Akses UI, Kelapa Dua, Depok. Nomer berapa ya? Nah, coba digoogle deh. Maaf, saya nggak pernah terlalu detil kalau urusan alamat. Ancer-ancernya, kalau dari arah Jakarta, sebelum bablas ke bawah jembatan UI, ada belokan ke kiri yang menuju ke kampus Gunadarma Kelapa Dua. Nah, belok aja, terus luruuus sampai ketemu lampu merah pertama, yaitu perempatan yang muaceet. Terus sabar yaaa, sampai berhasil ngelewat kemacetan di perempatan itu. Kalau wiken, cuma sekitar 15 menit kok nunggunya. Setelah lewat perempatan, lurus aja, ngelewatin markas Brimob. Habis itu, mulai pasang mata deh, di sebelah kiri jalan keliatan plang cukup besar. PONDOK LARAS.

Kami kenal restoran ini sejak lama, sekitar 12-13 tahun yang lalu saat kami masih calon suami-istri. Mungkin restoran ini sudah berdiri beberapa tahun sebelumnya. Restoran ini adalah jenis restoran Sunda yang menjagokan berbagai menu ikan gurami. Goreng, bakar, bakar pedas, pedas, plenet. Yah tipikal restoran Sunda deh.

Awalnya, resto ini nggak terlalu besar. Cuma satu ruangan sekitar 50 m2 di depan, dan beberapa saung di belakang. Tapi makin lama, areanya meluas. Sekarang sudah ada belasan saung, yang bisa menampung entah berapa orang, serta satu lagi area berbentuk persegi panjang di belakang untuk sekitar 50 orang. Kemarin malah ada tanda-tanda sedang dibangun beberapa lokasi saung baru.

Makanannya sih nggak terlalu istimewa. Rekomendasi saya: Gurami Bakar. Ngebakarnya bisa sampai garing deh. Terus, kalau perutnya nggak kuat dengan makanan yang terlalu pedas, jangan coba tahu tempe plenetnya ya. Pedesnya berasa di perut sampai malem. Hehe.. Oh ya, dan kangkung tumisnya agak  kemanisan. Untuk minuman, es jeruknya sih kemaren enak banget, walau es kelapanya agak mengecewakan karena kurang manis dan kelapanya sedikit bener. Soalnya, saya nggak terlalu eksperimental sih ya untuk nyobain minuman ‘aneh’ yang jarang saya temui, kayak es wedang jahe, es apa lagi lah itu kemarin. Jadi nggak bisa kasih rekomendasi.

Memang kalau perkara rasa, beda-beda tipis deh dengan Restoran Mang Engking, yang berlokasi di dalam kampus UI. Sedangkan urusan harga, memang Pondok Laras sedikit lebih murah.

Tapi kebalikan dengan Mang Engking, pelayanan di Pondok Laras ini masuk kategori luar biasa. Pertama, karena penyajian pesanan nggak pernah terlalu lama. Makanan datang sekitar 10-15 menit setelah dipesan. Apalagi minuman, cepat sekali datangnya, mungkin berjarak 5 menit setelah pesanan masuk. Lalu, nggak seperti Mang Engking yang pegawainya sering confused antara pesanan dan hantaran, pegawai Pondok Laras ini jarang sekali salah antar pesanan. Yang dipesan dengan yang diantar hampir selalu tepat.

Cara mereka mengantarkan pesanan pun unik. Karena areal yang relatif luas, para pengantar pesanan disediakan beberapa sepeda ontel untuk wara-wiri dari dapur ke depan dan sebaliknya. Lucu deh, memperhatikan mereka menjinjing nampan sambil bersepeda. Kring kring!

Selain itu, pegawainya ramah-ramah sekali. Seneng deh dilayani orang-orang yang genuinely memang ramah dan senang tersenyum. Saya pikir itu hanya berlaku pada sebagian pegawai saja, tapi ternyata hampir semuanya berperilaku sama. Luar biasa nih cara pemiliknya melatih mereka.

Oh ya, areal parkirnya pun luas. Walau hampir selalu ramai, nggak pernah terlalu repot untuk cari parkir di sini. Nah, cuma di dekat parkiran ini ada kandang monyet. Monyet-monyet jenis beruk yang abu-abu gendut. Monyetnya galak-galak. Kalau kebetulan ada yang lepas, beberapa pegawai pria akan sibuk memperingatkan pengunjung anak-anak untuk menjauh saja dari kandang. Jadi, saran saya, kalau akan lewat daerah kandang ini, perhatikan dulu aja dari jauh, ada monyet yang lepas nggak. Perhatikan juga kolong-kolong mobil yang parkir di sekitar kandang. Kadang-kadang mereka suka ngumpet di bawahnya. Hehehe…

Motret makanan? Not easy, apparently.

Motret makanan itu ternyata susah ya. Ceritanya Semerbak Cafe akan menjual makanan small-bites sebagai menu pelengkap. Targetnya: harus murah, tapi nggak murahan. Jadi diputuskanlah bahwa menu yang ongkosnya nggak terlalu mahal tapi masih bisa keliatan keren adalah beef burger, chicken sandwich, egg sandwich, hotdog, dan sausage rollade.

Jadi, tadi pagi, setelah saya siapin para modelnya, dipotret deh sama Pak Fotografer. Ternyata memang motretnya nggak segampang kalau cuma ngebolak-balik gambar makanan di majalah.

Dengan rencana harga jual yang sangat bersahabat, nggak jujur rasanya kalau kita bikin gambar yang full-blown; artinya demi foto yang bagus, semuanya serba dilebihin dan dibanyakin. Giliran dijual, eh, burgernya tipis. Ketimunnya cuma seiris. Tomatnya layu. Hehehe… Nanti banyak yang protes, kok beda banget sama gambar. Sehingga, dengan segala keterbatasan, Pak Fotografer yang super berdedikasi itu 3 jam ngutek di depan kamera dan para modelnya.

Ternyata repot yaa.. Ada aja keluhannya. Mayonaissenya leleh nih! Tomatnya ketipisan! Daun seledrinya layu! Rotinya kempes! :D

Nah, inilah jadinya. Ini cuma beberapa foto mentah, sama sekali belum diotak-atik. Not bad, kan… :)

PS: Kalau dekorasinya nampak serupa walau tak sama, jangan diprotes ya. Maklum, yang ngerjain ini agak-agak kurang kemampuan artistiknya. :)




My own version of culinary treat (2nd edition)

Jadi ini edisi kedua ya. Nggak banyak sih, soalnya belum terlalu beredar lagi.

1. Takarajima Sushi. Kebetulan di Margonda ada. Yah, lumayan deh, daripada musti jauh-jauh nyari Sushi Tei ke Citos. Menunya lumayan beragam, tapi karena memang restonya versi mini resto utamanya yang di Kemang Plaza Adorama (don’t get me wrong, gue belum pernah ke sana), jadi memang rentang variasi menunya nggak terlalu lebar. Fushion sushinya secara tampilan dan rasa, ya boleh lah. Lumayan. Secara harga juga nggak terlalu mahal. Harus harga mahasiswa tentunya, berhubung didirikan persis di depan gang tempat mahasiswa UI keluar-masuk. Sashiminya seger, walaupun porsinya kecil banget. Dan porsi udonnya, alamak, keciiiiil banget. :) Selain itu, kuah si udon ini juga agak melenceng dari ekspektasi. Tapi ya secara keseluruhan, oke lah, untuk makan iseng-iseng. *biasamakansatusetengahporsiterusmasihnambah*

2. Red Bean Margo City. Apa?? Baru sekali makan di Red Bean?? Iya, abis gimana ya, tiap ke Margo City harus menggenapi kewajiban ngajak anak-anak makan mie seafood singapur di Ta’wan sih, jadi nggak pernah bisa makan di tempat yang lain. Lupa ya, apa yang kemarin lumayan enak di Red Bean, tapi rata-rata sih nggak mislek. Cuma kalau harus milih, mendingan ke Ta’wan kayaknya. Rasa dan porsi lebih bagus di Ta’wan. *tetepadaunsurporsi*

3. Bakmi Aping. Wih, namanya bikin keder nggak sih. Baru ketemu kemarin, setelah nganter Arkan les drum di Dwiki Dharmawan (ruko belakang kompleks Pesona Khayangan), dan Arkan minta makan karena kelaperan. Karena nggak bersedia makan di Soto Balap yang sebenernya ada di lantai dasarnya ruko tempat kursus – berhubung kelewat mahal dan tempatnya terlalu temaram-temaram gimanaaa gitu – akhirnya, sambil jalan kaki menuju mobil, ketemu deh sama ruko Bakmi Aping ini. Liat namanya, hmmm… Sesuai syariat nggak nih hehehe.. Tau-tau sambil selintas nyuri-nyuri pandang ke dalem, kok mbak-mbaknya pake jilbab. Hihihi.. lucu… Pasti gara-gara banyak yang batal karena urusan nama nih. Masuk deh kita jadinya. Eeh, ternyata bakminya enak, gurih banget (apa gara-gara pakeee……. ah, bukan ah!). Baso dan somaynya juga enak. Kalau harga sih masih relatif masuk akal, 40rb-an makan berdua. Jadi, ini bisa dijadiin alternatif makan iseng-iseng berikutnya.

4. Nah, kalo yang ini agak jauh nih, jadi nggak bisa masuk kategori makan iseng. Soalnya kesananya harus pake usaha. Namanya resto Seven, di jalan Cipete Raya. Kalau dari arah jalan Antasari, resto ini nggak terlalu jauh dari perempatan Antasari itu. Widih makanannya, enaaak enak! Maklum, yang punya bekas pejabat, jadi biasa makan yang enak-enak. Tapi nggak tega ngasih harga mahal, jadi harganya sangat bersahabat. Yang gue rekomen di situ apa ya… Namanya sih lupa, tapi tanya aja nasi goreng yang paling pedes itu namanya apa. Nah itu dia. Kalo nggak salah sih Nasi Goreng Bunaken (or something that sounded like that). Steak dorinya juga mmh mmh mmmmhh… must try. Steak itu dikasih side dish kentang hashbrown yang ueenak banget. Kayaknya gue makan hashbrownnya aja udah hepi. Terus dessertnya, yum yum yum. Musti cobain chocolate muffin + eskrimnya.  Sama satu lagi apa ya, kayak brownies yang dikasih eskrim juga. That’s what you call food that melts in your mouth. Karena literally lumer beneran tanpa perlu dikunyah. Bagaimana dengan harga? Waktu itu kita makan berlima (4 dewasa, dan 3 anak kecil = berarti sama dengan 1 dewasa dong ya), cuma ngeluarin 200rb tuh. Padahal udah blenger blenger. Sampe nggak tega bayarnya. :)

Ini gambar si dua dessert itu.

Hadeeh, laper lagi kan…

My own version of culinary treat (1st edition)

Kulinerwati? Me? Nope. Buat saya, semua makanan itu enak atau enak sekali. Saya nggak punya kompetensi untuk mengkritik makanan dengan cara yang classy dan anggun. Halah..

Tapi, ada beberapa tempat yang sudah pasti akan saya datangi lagi secara sengaja.

  1. Warung mie yamin kecil di sebelah kiri Hermina Depok. Menu istimewanya: ceker mercon. Cekernya direbus dulu, terus kayak disiram (atau ditumis ya?) dengan bumbu merconnya. Yang entah terbuat dari apa tapi eeennnnak banget. Harganya 10,000 per porsi dengan 6 potong ceker. Ah mantap surantap!
  2. Bebek Suryo. Ini resto bebek 2 lantai yang terletak di jalan Suryo, Kebayoran Baru. Persis di depan lapangan Blok S. Kalau kita menuju arah Tendean, adanya di sisi kanan jalan. Menu istimewanya: bebek penyet. Jadi bebeknya digoreng dulu, sama seperti bebek goreng biasa, tapi lalu digeprek sedikit sampai agak ceper, kemudian dilumuri bumbu sambal. Wuidih, ueendang nendyang! Oh ya, harganya agak mahal sih. Kalau nggak salah, hampir 30rb untuk satu porsi bebek. But, that’s alright no? For a little piece of heaven in your mouth, what’s a 30rb, right? :)
  3. Resto Ta’wan. Di Margo City ada. Di Setiabudi Bldg juga ada. Dulu saya pikir menu istimewanya bubur udangnya. Ternyata saya salah. Menu istimewanya banyak! Haha! Anak-anak saya nggak pernah alpa memesan Mie Seafood Singapore dan Lumpia Lie Hong Kian. Mienya sebenarnya direbus biasa dan ditumis dengan bumbu-bumbu biasa (saos tiram, kecap inggris, minyak wijen, tepung maizena dll), dan masih diperkaya dengan potongan cumi dan udang. Tapi jadi nggak biasa karena potongan seafoodnya banyak. Sebagai orang yang menghargai kuantitas, banyak is a must! Hehe..  Oh ya, dan lumpia lie hong kian itu lumpia udang. Sebenarnya lebih tepat disebut bakwan udang sih, yang di atasnya dilumuri saos mayonaisse. Tapi potongan udangnya besar-besar, terasa bulat-bulat saat digigit. Gurih dan empuk. Nah, yang dua itu makanan favorit anak-anak. Makanan favorit saya sih banyak. Ada ayam sapo saos cabe, kacang panjang daging cincang, kangkung terasi, scallop brokoli, apa lagi ya? Lupa. Sorriiii.. Harganya pun nggak terlalu mahal. Biasanya kalau saya makan berempat, 4 menu utama, habis sekitar 170rb.
  4. Warung Tekko. Di City Plaza ada. Untungnya di Depok Mal juga baru buka beberapa bulan yang lalu. Outlet di D-Mal ternyata milik Ahmad Dhani, katanya investasinya untuk El, karena El pecinta kuliner. Good thought, Pops! Menu istimewa: Iga penyet, tentunya. Tapi gurame goreng penyetnya juga enak. Saya lebih suka gurame goreng di sini daripada di semua resto Sunda yang bertebaran di Depok (Cibiuk, Mang Engking, Pondok Laras, Mang Kabayan. Depok kok Sunda banget sih ya? Hehehe..). Tapi saran saya, jangan pesan yang paket/set. Memang kelihatannya murah meriah sih, 3oan ribu dengan 1 potong iga, 1 potong ayam, 1 potong entah apa lagi, dan tahu tempe plus nasi. Tapi berdasarkan pengalaman, ternyata kualitas ayam gorengnya kurang bagus. Waktu itu sih, ayamnya keras, seperti ayam lama yang dipanaskan lagi. Jadi padanan itu tadi mengacaukan menu khas iganya. Tapi ya soook atuh mangga dicoba. Harga secara umum terjangkau. 30an rb untuk satu porsi iga penyet dan 40an ribu satu porsi ikan gurame.
  5. Pilihan pasta di Harvest Depok. Yes, sekali lagi, yang ada di Depok. Sori ya, habis sekarang mainnya di seputar Depok aja sih. Setahu saya, selain Depok, cabang Harvest yang lain belum menyediakan makanan ala carte. Saya suka fetuccini carbonara-nya. Porsinya banyak (tuh, bener kan, kuantitas lagi) dan rasa sausnya pas. Kadang resto yang mengusung nama Itali (Pizza Marzano, misalnya), rasa sausnya agak kurang gurih dan asin di lidah Padang saya. Harganya lupa ya saya. Mungkin sekitar 40rb an.
  6. Toko kue Majestyk. Nah, kalau yang ini banyak cabangnya kan. Untungnya di Margonda juga sudah ada. Saya kesengsem dengan singkong kejunya. Harga 2,700 per paket isi 2 potong. Kalau mau kasih hadiah kue ke orang lain, saya bela-belain beli di Majestyk, demi beli singkong keju. Padahal toko kue lain di seputaran Margonda banyak juga yang enak. Oh ya, kue roll kejunya juga lumayan enak. 35rb per roll ukuran 5X15 cm. Oke juga sih kalau untuk dibawa sebagai buah tangan, tapi jangan cuma satu ya. Dua lah..
  7. Sushi Tei Citos. Aah, tempura udonnya. Luar biasa. Gimana ya ngejelasinnya. Nggak ngerti ngomongnya ah. Pokoknya enak. Harga 30an rb juga per porsi.
  8. Sushi Groove (ada di Setiabudi Bldg, Grand Indo, dan PIM 2). Menu istimewa versi saya: Flying Geisha dan Unagi Roll. Jangan tanya komponen Flying Geisha apa ya, saya lupa. Yang saya inget, itu yang enak. Ahaha! Maaf ya, nggak kompeten banget sih ini yang kasih review.

Udah dulu ya. Mau makan dulu nih, jadi laper deh ngomongin makanan begini.