Category Archives: Books

Jika seumur hidup hanya boleh baca 1 novel

Katanya Mbak Pangestu Ningsih, CEO Penerbit Noura Books, kalau kita hanya diizinkan baca 1 novel dalam seumur hidup kita, maka novel inilah yang harus dibaca.

Saya juga pernah baca, entah siapa yang nulis, bahwa kalau kita hanya bisa nerbitin 1 novel seumur hidup kita tapi novelnya sebrilian ini, ya nggak apa-apa juga.

Ibu Harper Lee, penulis novel ini, agak misterius dan sangat tertutup. Pernah ada yang tanya kenapa dia nggak pernah mau diwawancara. Jawabnya cuma satu kalimat: I have said what I needed to say (atau yang semacam itu, lah). Jadi, buat beliau, bukunya ini sudah mewakili seluruh misi hidupnya. Gilaaaak. Keren, ya.

Saya mau ngaku (nggak usah ngaku sebenernya juga nggak apa-apa, soalnya, udah ketauan juga) kalo saya belum pernah baca buku ini. Baru sampe halaman 15, udah berhenti. Waktu denger judulnya, saya pikir ini novel misteri semacam karya Agatha Christie. Ternyata, bukan sama sekali.

Insya Allah (doaiiiiin!) saya akan selesaikan buku ini di tahun ini. Catet! Hehe..

Gambar diambil dari: http://www.mizanstore.com/ecommerce/bookcatalog/sastra-fiksi/novel/to-kill-a-mockingbird-gold-edition.html#.U25GK_mSySo
Gambar diambil dari: http://www.mizanstore.com/ecommerce/bookcatalog/sastra-fiksi/novel/to-kill-a-mockingbird-gold-edition.html#.U25GK_mSySo

Eye in the sky

Something really weird happened to me about three days ago.

So I was scrolling down my BBM list in the middle of the night to send out holiday greetings, and realised some people have changed their avatars. One of them caught my eye, for whatever reason. I initially glazed through it, but then came back and stared at it for about a minute. It looked like a spiritual symbol which I was not familiar with. The picture was simply attracting me for ‘no reason’.

But then again, nothing really happens for no reason. The day after, I was reading a book by Dewi Lestari (Akar – Supernova). It took me a while to finally came to the last pages of this not-so-exhaustively-thickish-book. It’s only about 200 pages, but for weeks, I dawdled and dawdeld. Until that day, when I managed to push myself to reopen the book.

I flipped open the few last pages, and there it was. That symbol again. Black and bold. Staring right back at me. The Eye in the Sky. OM.

TM Bookstore

So last weekend I did something I’ve been procrastinating since the past 3 weeks, that is going to the bookstore. And my destination, as always: TM Bookstore, Detos.

For one and more reasons, this book store is just fun.

First of all, they give all-year-round discount to ALL their books! And yes, the normal price is the same as other stores. I’ve checked. Many times. :)

Secondly, when your purchase is the first 100 books of the day, you’ll get additional discount. Normally, the total is 20-25% cut. To be honest with you, it’s common that I get 25% off of all purchase. Nice, yes? And this also does not mean that I need to rush my way to the cashier with hundreds other people, struggling to be part of the 100-batch, because this almost never happens. Ofcourse I need to arrive right after the gate opens (That’s 10 AM, to be exact). But usually, even on weekends, around that time of day there will only be 20-30 people in the bookstore. Tops.

Oh, and they have pretty much major discounts on non-popular books. 30, 40, 50%. Sometimes 70%. Sometimes IDR 5K for a book. And we’re not just talking about books that only sold like 2 copies in whole of its publishing career (mind the hyperbolism). This is true. Because I once found a hard-covered Ayat-Ayat Cinta in one of these piles. Sold for only IDR 50K. How amazing!

And then, books of min. IDR 20K will get a plastic-covering service. FREE of charge.

Regardless of the air conditioning that almost does not work properly all the time, and dusty books on deserted corners, I love this place. Love it. It also does not matter that they usually sell new releases a bit later then the bigger stores, and sometimes they even don’t sell them at all. But, with the 15%++ discount on available items, I’ll settle. :)

Oh and btw, last weekend we saved IDR 131,250 on 8 purchases. Not bad at all.

PS: No, this is not an advertisement. Although I really don’t mind being their buzzer for 60% price-cut every time. :p

Ayahku (bukan) Pembohong

Terus terang, yang paling menarik dari buku ini buat saya adalah judulnya. Saya baru saja kehilangan Ayah, jadi saya pikir, oke, ini buku dan waktu yang tepat untuk bersikap sentimental. Yang akhirnya membuat saya akhirnya memutuskan untuk membelinya adalah nama pengarangnya. Tere-Liye.

Saya pernah membaca salah satu bukunya, Hafalan Shalat Delisa. Buku itu bagus. Plotnya sedikit overwhelming untuk saya, tapi secara keseluruhan, buku beliau sangat menghibur saya. Ia senang menggunakan pengulangan kata-kata saat berusaha mengilustrasikan secara dramatis. Saya senang gaya penceritaan seperti itu. Selain itu, saya berasumsi, semakin tinggi jam terbang, semakin berkualitas penulisnya. Mestinya, buku barunya lebih bagus lagi.

Jadi, dengan 2 alasan sederhana tadi, saya ambil lagi bukunya, setelah sebelumnya saya letakkan dengan ragu.

Entah kenapa, sampai di rumah, dari 5 buku baru saya, buku ini adalah buku terakhir yang saya putuskan untuk baca. Rasanya, kok maleees aja ya, lihat buku itu. Tapi akhirnya, karena sudah kehabisan buku baru, terpaksa buku ini saya angkat juga.

Ah, dan ternyata, saya memang tidak salah pilih. Tere-Liye masih Tere-Liye dengan gaya menulisnya yang saya sukai, hanya lebih matang. Bukan teknik menulisnya. Kalau teknik menulis, saya nggak bisa komentar. Nggak kompeten soalnya.

Yang semakin matang dari Tere-Liye itu adalah isi kepalanya dan pemahamannya tentang hidup. Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca bab tentang ‘danau sufi’. (Oh ya, seperti biasa, saya nggak akan memerinci resensinya ya, karena informasi resensi bertebaran di google. Saya cuma ingin berbagi kesan saya setelah membacanya.)

Danau sufi ini berkisah tentang lelaki yang mencari sumber kebahagiaan sejati. Guru sufinya menganjurkannya untuk membuat sebuah danau untuk mengetahui jawabannya. Yes, MEMBUAT danau. Danau yang bening. Bening.

Tahun pertama, ia gali tanah luaaas. Ia aliri air dari sungai. Eeeh, sungainya kena hujan, sungainya jadi kotor, danaunya ikut kotor.

Tahun berikutnya, sungai ia saring, supaya kotoran tidak masuk. Berhasil. Danaunya bening. Eeeh, tanah di dasar danau diaduk-aduk, tanahnya naik, air danaunya kotor lagi.

Akhirnya ia gali lagi danau itu lebih luaaas, lebih dalam. Sampai ia membentur batu. Nah, saat sudah terbentur batu itulah, keluar air dari sumbernya. Air yang bening. Bening.

Moral cerita beliau itu adalah bahwa untuk mendapatkan jiwa yang bahagia, yang perlu kita lakukan adalah memperluas dan mendalamkan hati. Agar kita menemukan pusat diri kita. The center of our soul. Karena kebahagiaan hakiki tidak datang dari luar. Kebahagiaan hakiki datang dari pemahaman hidup yang bening, yaitu pemahaman hidup yang muncul dari pusat diri.

N5M. R3W. MJWJ. MSZ. (????)

No, it’s no typo. And no, it’s not a link error. And no, it’s not your eyes (although wouldn’t harm you to go see an eyedoctor anytime soon).

Runtutan singkatan tadi itu datang dari trilogi (sekarang masih.. mmm.. biologi? duologi? apa sih kalo baru terbit dua buku? hehehe..) bukunya A. Fuadi. N5M adalah Negeri 5 Menara (Apaaaa?? Baru baca buku N5M???? Ssssshhhhhh!). Dan R3W dari Ranah 3 Warna.

Nah MJWJ dan MSZ itu quotes dari bahasa Arab yang dipopulerkan oleh buku ini, Man Jadda Wa Jada dan Man Shabara Zhafira (Untuk tau artinya, atau kalau belum pernah baca bukunya, sok atuh tanya kang Google).

Tulisan saya ini bukan untuk menceritakan resensi detil buku-buku ini, karena di dunia pergooglean pasti banyak artikel resensi yang jauh lebih lengkap dan bagus. Jadi tulisan ini lebih mengenai kesan saya setelah membaca kedua buku tersebut.

Buku pertamanya, si N5M itu, bagus banget. Gaya berceritanya mirip-mirip gayanya Andrea Hirata. Rendah hati, jenaka, penuh dengan phlegmatic jokes. Bahkan untuk seorang awam seperti saya, kejujuran hati si penulis terpancar di setiap halamannya. Selain itu, tata bahasanya rapi dan enak dibaca. Walaupun kalimatnya panjang-panjang, bacanya nggak mumet.

Pemilihan katanya juga bagus-bagus; banyak kata yang baru pertama kali saya dengar (misalnya: Ligat. What? Ligat? What? What’s that? Sampai sekarang, saya masih belum google juga arti kata ligat itu.) Juga ada kata mencangkung. Iya, mencangkung adalah salah satu kata yang baru pertama saya dengar. Dan I assume, mencangkung kira-kira sama dengan posisi berjongkok.

Nah, berkat analisa tajam yang mendalam itu tadi (hehehe..), jadilah ia penulis lokal kesekian yang masuk dalam daftar penulis favorit saya.

Cuma sayangnya, buku keduanya agak bertele-tele. Menurut saya lho ya..

Tulisannya sih masih tetap rapi, kata-kata pilihannya masih tetap cantik, tapi ceritanya cenderung ngelebar, apalagi menjelang bab akhir saat dia cerita panjang lebar dan kecil-mengecil tentang homestaynya di Kanada.

Bab-bab pertamanya ia tulis pakai hati, apalagi sampai bab di mana ayahandanya meninggal dunia. Emosi penulis berhamburan di tiap halaman. Tapi menjelang 5-6 bab terakhir, wah, agak susah payah saya ngabisinnya. Sudah terlalu berpanjang-panjang. Mungkin memang begitu maksudnya, biar bisa jadi trilogi. Hehehe.. sori yang bang Fuadi, just my unworthy two cents.

Tapi all in all, beliau tetap saya nobatkan sebagai salah satu penulis lokal terbaik. Salah satu yang bisa menulis dengan jujur, sederhana, dan rendah hati. Jadi inshAllah saya akan beli buku ketiganya.

Hats off, Bang! Learnt lots from you.

(not just the) Chaiyya, Chaiyya!

So I have been busy the past 2 weeks. It started out with my infant catching up measles/morbilli, and it got spread allover the house, and ended with one of our househelps suffering the same. So I did go back and forth the nearest hospital for almost 3 weeks now. I won’t bore you with all the details, since anyways it’s a happy ending at last.

Want I want to share with you is that I managed to find time to read, no matter how chaotic the past weeks were. And it was quite a number of books; I would not lie to you by saying I’m not proud being able to finish 4 freakishly-thick books (in my definition, 500page is quite thick). So it’s around 100pages a day. Not bad for such a lazy-bum like me.

Two of the 4 books are:  The Marriage Bureau for Rich People (by Farahad Zama) and The Palace of Illusions (by Chitra Divakaruni). Both very good books. Both from Indian authors.

Lately, there’s this ‘suddenly-(youtube)celebrities’ phenomenon in Indonesia (probably happened ages ago with Bieber, but with us, well, just recently..). And the last one came from this local police officer impersonating Shakrukh Khan. The officer’s popularity rocketed, so did the “Chaiyya, Chaiyya” he lip-synced from Khan’s Dholna.

After that, came out several articles discussing the strength and consistency of Indian movies and songs, regardless western influence. Very true. But apparently, Indians are not just great in dancing and singing.

I find Indian authors’ descriptiveness and intelligence: awesome! They can deliver such intense and profund stories, widely ranging from comedies on arranged-marriages to heavy epic histories, with humble words. These authors did not try too hard to sound impressive or smart, yet the depth of their knowledge are sculptered all over the pages.

I have not too many references, but I suppose reading 6-7 books from 4 different Indian authors made a strong impression on myself about how advanced Indian literacy is. Ofcourse this kind of knowledge came from a person who not once in her life touched her hands on any of the famous Mahabharata (or Kamasutra ;p) series. Therefore, pardon the naivety. :)

So if you think Indians are only experts in the “Chaiya, Chaiya” department, well do check these books out.

The Unknown Errors of Our Lives (Chitra Divakaruni)

Karena pernah baca beberapa buku dari seorang penulis India, Jhumpa Lahiri, saya tertarik dengan tulisan-tulisannya yang, dibilang gelap ya nggak juga sih, tapi cenderung skeptikal. Selain itu, saya senang dengan kecenderungan Lahiri mengikutsertakan pikiran-pikiran yang berlalu lalang dalam karakter utama saat mereka sedang berhadapan pada sesuatu yang bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan apapun yang melintas di pikirannya. Bingung ya? Sama..

Nah, terdoronglah saya untuk mencari bukunya Divakaruni ini. Konon, Sister of My Heart-nya bestseller. Tapi yang berhasil saya temukan ya si Error ini. Saya langsung tertarik dengan resensinya, karena benang merah dari 9 cerita pendek dalam buku ini adalah tentang wanita. Wanita India yang sedang atau pernah tinggal di India. Dan semuanya punya cita-cita yang sama: ingin keluar dari India.

Ternyata penulis India yang ini pun sama ya gayanya. Berbelit. Dengan banyak sekali aksen pikiran-pikiran liar yang berlompatan di kepala para karakter utama. Dengan alur bolak balik antara masa sekarang, masa lalu, dan masa datang dalam satu paragraf yang sama. Kerja keras lah saya bacanya. Kening berkerut. Sama berkerutnya saat dulu sering meeting dengan tim dari India yang semuanya aduhai pintarnya berkata-kata dan memutarbalikkan kejadian. Tim India itu, udah ngomongnya cepet banget, logatnya bergumpal-gumpal pula. Jadi lah tim Indonesia kalah terus. (Eh sori, OOT.)

Tapi saya justru menyukai tulisan-tulisannya. Saya justru belajar sangat banyak dari ibu Divakaruni ini. Malah sempat terpikir untuk meniru gayanya. Malah sempat berusaha mempraktekkannya (tolong garisbawahi kata “berusaha” ya). Tapi mungkin nggak lagi deh, bu Diva. Pusing, nulisnya. :)

Depok, 28 Maret 2011