Category Archives: Alayka Arkana Axantara

Memeluk Sekolah Unggulan

Alayka Arkan Axan…

Ibu mau cerita tentang seorang penulis yang Ibu kagumi sejak novel pertamanya. Beliau bernama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun. Nama penanya memang tak serumit ini, tapi sama eksotisnya dengan nama aslinya.

Tapi cerita hidupnya, Nak, jauh lebih unik. Ibu tak bilang bahwa ceritanya hanya satu dari seribu, karena mungkin, dari tiap seribu orang, ada lebih dari satu yang mengalami hal persis sama atau malah lebih fantastis. Tapi beruntunglah kita, Nak, karena cerita seunik ini ia tuliskan sehingga kita bisa membacanya.

Nak, kemarin kan kita baru pulang dari perjalanan darat ke Sumatra Barat. Nah, tempat ia lahir ini, Ibu sangsi bisa kita tempuh lewat darat. Mungkin bisa, nantilah Ibu cari tau caranya. Untuk sementara ini, cukuplah kamu tau dulu bahwa penulis ini lahir di sebuah desa kecil bernama Gantong, di tengah Pulau Belitong.

Sebagai anak dari keluarga yang hidup tak jauh dari batas garis miskin, sejak awal ia tau ia tak akan bisa menikmati pendidikan di sekolah ‘unggulan’ macam yang didirikan oleh perusahaan tambang timah, tak jauh dari rumahnya. Tapi ia beruntung, Nak, karena punya ayah yang, walaupun tak bersekolah tinggi, tau pentingnya pendidikan.

Maka, dengan keterbatasan mereka, si ayah membawanya ke sebuah sekolah; sekolah yang hampir ditutup seandainya saja tahun itu mereka tak sanggup mendapat 10 murid. 10 murid saja. Lucu ya, Nak, ada sekolah yang diperebutkan sedemikian rupa, tapi ada juga sekolah yang nyaris dilupakan. Hanya karena berkat Allah saja, datanglah si murid kesepuluh. Tak jadilah sekolah itu ditutup.

Membaca ceritanya, Ibu terbayang serunya belajar di sana. Di bawah bangunan kayu yang nyaris rubuh. Di tengah padang ilalang yang jauh dari modernitas. Namun tak sanggup Ibu membayangkan ‘serunya’ menjadi guru di kelas di mana anak yang sanggup menyelesaikan soal-soal Fisika bersanding dengan anak yang membaca saja belum bisa.

Makanya ia memuja betul ibu gurunya, yang ia sebut dengan nama Ibu Muslimah. Karena bahkan dengan teman-teman belajar yang seperti itu, yang seharusnya menghambat kecepatan belajarnya, Bu Muslimah tetap berhasil mengantarnya sampai lulus.

Dengan modal seadanya itu, ia juga lulus SMP, SMA, dan universitas… Bahkan bukan sembarang universitas. Anak Gantong itu sampai juga ke jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di Eropa dan di Inggris; sesuatu yang bahkan tak berhasil Ibu capai, Nak, padahal, Ibu bersekolah di sekolah ‘unggulan’.

Andrea Hirata, novelis ini, sekarang hidup nomaden, berpindah dari satu negara ke negara lain yang ingin menyerap ilmunya. Hari ini ia mengajar di Jerman, bulan depan ia mengisi seminar di Amerika, akhir tahun sudah entah di mana lagi jejaknya. Laskar Pelangi menjadi salah satu novel Indonesia terlaris sepanjang masa.

Di novelnya, berulang kali ia memuja Bu Muslimah, guru yang membuatnya percaya bahwa ia, murid yang belajar di bawah atap reyot, boleh saja bermimpi. “Biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpi kita…” adalah kutipan masyhur dari novel itu. Kemungkinan, kutipan itu ia rangkum dari semangat Bu Mus.

Kalau kalian cukup beruntung, kalian akan bertemu guru-guru macam Bu Muslimah, yang percaya pada kemampuanmu. Kalaupun sudah kaujumpai ‘Ibu Muslimah’-mu, peluk erat kata-kata beliau. Mungkin kata-kata beliaulah yang akan membuat Tuhan memeluk mimpi-mimpimu. Karena Ibu masih percaya, Tuhan memeluk mimpi siapa pun yang ikhlas berikthiar dan bertawakal. Bahkan jika ia bukan berasal dari sekolah unggulan…

Depok, 22 Juni 2019

Pak Izzad – guru mulia

Beberapa hari lalu, di sekolah Alayka, saya berpapasan dengan guru agamanya. Profilnya sekilas mirip-mirip Ahmad Fuadi, pengarang novel national best seller – Negeri 5 Menara. Yah, kira-kira kayak gitu tampilannya: kecil, berkacamata, dan sering tersenyum tulus. Aduh, senyumnya itu lho, bikin perasaan ayem-ayem gimanaa gitu. Nggak seperti guru agama dalam bayangan saya, yang harus selalu berkopiah dan berbaju muslim, siang itu beliau mengenakan batik dan jeans.

Saya cengengesan, agak malu-malu bertanya apakah Alayka sudah hafal Al Fatihah-nya atau belum, karena saya merasa nggak rajin melatihnya di rumah. “Ah, hafal kok dia, Ma..” jawabnya singkat. “Tapi kalau arti surah Al Fatihah memang Alayka belum hafal.”

Lho, emang udah perlu menghafal artinya juga, Pak? “Ah, belum wajib dihafal kok Ma.. Yang penting anak2 tau bahwa setiap kalimat dalam surah ada artinya.. Yang penting mereka paham inti pesan yang ingin disampaikan oleh surah itu.”

Naah, lega deh saya. Dengan sok tahu, saya nyeletuk lagi, Yang lebih penting lagi aplikasinya ya, Pak.. Guru lulusan Kairo ini tergelak. “Iya Ma, bener. Yang penting bagaimana anak menerapkan budi pekertinya setelah berhasil memahami sebuah surah.” Lalu ia menyambung, “Yang merasa sudah hafal dan tau semuanya itu kan yang biasanya selalu merasa benar, Ma.”

Aih… buat saya, ideal betul guru satu ini. Bagi guru ini, yang paling penting bukan ‘hafal’, tapi ‘paham’. Yang paling penting bukan ‘sudah tau’, tapi ‘ingin tau lebih banyak’.

Dan menurut saya, sebaik-baiknya seorang guru adalah guru yang bisa membuat anak didiknya ingin tau lebih banyak, dan ingin memahami tanpa sok tau.

Pak Izzad, semoga Allah menurunkan semakin banyak guru-guru seperti Bapak, dan memberkahi guru-guru semulia Bapak dengan setinggi-tingginya kemuliaan. Aamiin.

Kembalinya Jannah dan Mulyanah :)

Ah.. akhirnya mbak-mbak tercinta datang juga. Alhamdulillah, Allah memang Maha Baik.

Nah, saya punya beberapa resolusi tahun ini (artinya, dari sekarang sampai ke Lebaran berikutnya, sampai ke waktu para mbak pada pulang lagi). Salah satunya adalah: ngurusin makan Alayka dan Arkan sendiri.

Alayka sih emang dari sananya montok, hehehe… Jadi nggak saya urusin makannya pun sbnrnya akan tetap montok. Tapi Arkan, sejak saya urusin makannya (makan besar, snack, susu dll – semua diurus sendiri), ternyata jadi gemuuk.. Senangnya…

Nah, kalo Axan, ternyata mbak Jannah-lah juara pertamanya. Sejak diurus ibunya, malah jadi agak kurus. Hehehe.. Jadi, adek Axan disuapin mamak Jannah aja yaaaaa…

Eh, udah ah, mau bayar PAM dulu nih. Hari gini bayarnya gak bisa online. Huaa..

Merinding

Saya dapet banyak pengalaman baru hari ini.

Pertama, saya terpilih jadi anggota POMG. Hehehe… Seumur hidup, baru sekali ini jadi anggota POMG. Ya eyalaaah.. anak saya yang masuk SD juga baru satu, kaleee.

Kedua, saya tiba-tiba ada dalam komunitas ibu-ibu yang anggotanya cukup banyak. Bukan berarti saya nggak pernah bergaul sama ibu-ibu, tapi nggak pernah dalam jumlah orang sebesar ini sekaligus.

Ketiga, nah ini yang paling seru, saya mulai membayangkan rasanya ‘kehilangan’.

Ceritanya gini.

Kepala Sekolah sedang sibuk memaparkan kalender kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan camping di sekolah. Judul kegiatannya: Sekolahku Rumahku. Apakah teknisnya nanti akan beneran ada tenda, atau anak-anak akan sekadar diajak tidur di kelas, saya belum jelas juga tuh.

Tapi saat sedang menyimak pemberitahuan Pak Kepsek mengenai program ini, yang pertama terlintas dalam pikiran saya adalah: Wah, Alayka pasti nggak ngerasa nyaman tuh, nanti. Mungkin dia akan kangen rumah, kangen kasurnya. Mungkin dia akan kangen ibunya..

Eh, tiba-tiba, saat pikiran yang itu aja belum selesai melintas, udah melintas pikiran lain lagi. Dan ternyata yang ini lebih ‘mengerikan’.

Saya tiba-tiba terpikir: Eh, jangan-jangan gue salah ya.. Jangan-jangan Alayka nanti malah menikmati pengalaman barunya itu. Jangan-jangan, boro-boro kangen gue, kangen kamarnya aja nggak.. Jangan-jangan, begitu mau pulang, dia malah berpikir, “Yaaah… ketemu Ibu lagi deh..

Tanpa bisa dikontrol, tiba-tiba saya merinding. Saya merinding membayangkan bahwa Alayka, cepat atau lambat, akan merasa nyaman walau tidak sedang di rumahnya. Cepat atau lambat, rumah saya bukan lagi satu-satunya rumahnya. Atau bahkan, rumah saya bukan lagi rumahnya.

Saya membayangkan seperti apa perasaan saya ketika Alayka – suatu saat nanti – bilang, “Bu, Alayka mau ngekost aja ya, biar deket sama kampus..”

Atau, “Bu, Alayka bulan depan pindah ke rumah Alayka sendiri ya..”

Atau, “Bu, Alayka minggu ini nggak bisa dateng ya, karena (siapapun nama suaminya) lagi banyak kerjaan.”

Saya nggak bisa membayangkan akan seperti apa rasanya.

Mungkin saya akan lega, atau malah bangga, karena berarti anak saya sudah mandiri. Mungkin saya akan merasa biasa-biasa aja, dan menganggap ini semua adalah proses hidup yang mau nggak mau harus dilewati.

Tapi saya nggak bisa menghilangkan secuil ganjalan, yang terus mengatakan pada saya bahwa mungkin saya akan merasa sangat kehilangan. Kehilangan kehadirannya. Kehilangan perasaan menjadi orang yang paling ia butuhkan. Kehilangan rasa hangat saat tahu hanya saya satu-satunya orang yang paling penting bagi dunianya.

Dan saya merinding..

Arkana dan ‘YaaaGituDeeeh’nya

Arkana. Pria kecil ganteng berusia 4 tahun. Kelebihannya yang paling menonjol adalah kemampuannya nyeletuk sesukanya. Ini sebagian dari berbagai ceplosannya yang masih bisa dicatat ibunya. :)

Arkana dan cita-citanya

Main balok-balokan.

Ibu: Ih, bagus banget. Apa itu, Arkan?

Arkana: Landasan pacu roket.

Ibu: Wah, Arkan pinter deh. Emang kalo besar Arkan mau jadi apa?

Arkana: Mmm… (berpikir sesaat) Penjaga Carrefour!

Ibu dapat SMS dari guru sekolah Arkana, menanyakan cita-cita Arkana untuk dibuatkan karikatur demi kepentingan acara perpisahan sekolah.

Ibu: Arkan, ditanya missnya nih, Arkan kalo gede mau jadi apa?

Arkana: (sambil menulis) Tukang bubur.

Arkana dan ‘Ah-Sudahlah’nya

 Arkana: (datang sambil berlari-lari) Bu, lucu ngga pipi Arkan?

Ibu: (sambil lalu) Lucu. Emang kenapa, Kan?

Arkana: Arkan abis pake ini (menunjukkan spons bedak neneknya yang sedang dijemur).

Tidur siang. Berempat: Ibu, Alayka, Arkana, dan Axantara. Arkana ambil posisi sebelah Ibu.

Alayka: Arkan, jangan di situ. Nanti Adek Axan nyusunya gimana?

Arkana: Adek Axan nyusu ama Kakak Alayka aja.

Tidur siang lagi. Alayka main cilukba dengan adik bayinya, Axantara. Puluhan kali. Ciluuuk baaaa!

Arkana, dengan wajah tanpa ekspresi, terlentang angkat ketek, berkata panjang: Capek deeeeeeh…

Masih dalam rangka tidur siang. Axantara, si bayi, seperti biasa, jadi mainan kakak-kakaknya.

Tiba-tiba, Arkana: Bu, ngelahirin lagi dong Bu. Arkan pengen adek lagi.

Ibu: (panik) Mmh! Bau bensin! Bau dari mana ini ya? Dari mana ya? Santer banget sih baunya.

Arkana: Iya! Santer banget nih! Mmmmm…. emang santer apa sih, Bu?

Arkana, duduk kelamaan di kloset.

Ibu: Arkan, udah belum pupnya?

Arkana: Beloooom. Baru satu nih.

Arkana belajar abjad.

Arkana: Pa. Payung. Pe. Pensil. Bu. Buku. Bu. Ibu. Ding. Dingding. Ku. Kucing. Do. Dogi busuk.

Alayka dan Arkana, main sambung kata berdua.

Alayka: Sebut nama-nama buah!

Arkana: Apel.

Alayka: Jeruk!

Arkana: Jeruk asem!

Masih sambung kata. Main bertiga dengan Ibu.

Alayka: Sebut nama makanan! Es krim!

Ibu: Pizza!

Arkana: Kue busuk!

Alayka: Sambung kata lagi yuk, Kan. Sebut nama-nama sekolah!

Arkana: (menyebut nama sekolahnya sendiri) Tunas Global.

Alayka: (menyebut nama sekolah di sekitar rumah) Tugu Ibu!

Arkana: Mmm… (berpikir), Tugu Bapak!

Arkana, sedang menonton kartun Jepang yang didubbing ke bahasa Indonesia.

Ibu: Lagi nonton apa, Kan? Film Jepang ya?

Arkana: Bukan, film Jawa.

Arkana: Bu, Arkan boleh punya dompet ngga?

Ibu: Buat apa, Kan?

Arkana: Ya buat nyimpen uang lah. Masa buat nyimpen apel.

Saking seringnya Ibu memanggil Axantara ‘Si Buncis’, Arkana jadi punya analogi sendiri.

Arkana: Adek Axan kecil kayak buncis. Arkan kurus kayak kacang
panjang. Kakak Alayka bunder kayak brokoli. Ibu kayak cabe. Pedes. Judes.

Habis makan. Arkana lompat-lompat.

Arkan: Buu, liat nih Arkan lompat-lompat. Biar nggak gendut!

Ibu: Ah, gendut juga nggak apa-apa kok. Kan lucu.

Arkan: Nggak ah, Arkan nggak mau gendut kayak Ibu.

Nonton TV. Rossa sedang menyanyi. Arkana, menonton khusuk.

Ibu: Cantik ya tantenya, Kan?

Arkana mengangguk.

Ibu: Cantikan mana sama Kakak Alayka?

Arkana: (menunjuk TV) Cantikan itu.

Ibu: Cantikan mana sama Ibu?

Arkana: (jeda, agak lama) Cantikan Om Rully.

Arkana dan ‘Lidah-Keseleo’nya

Arkana: Bu, Arkan mau ke Kipos.

Ibu: (meralat) Kidsport. Kiiidsport.

Arkana: Iya. Kisplot.

Arkana: Bu, Arkan simpen plemen di plukas.

Ibu: (meralat lagi). Peeermen. Kuuuuuulkas.

Arkana: Iya. Plukas.

Makan makaroni skotel.

Ibu: Lagi makan apa, Kan?

Arkana: Makanroni.

Makan risoles.

Arkana: Bu, mau solases ngga?

Tukang bacang, lewat depan rumah setiap pagi. Suara speakernya luar biasa kencang.

Tukang bacang: Bacang, bacang! Bacang sapi! Bacang ayam!

Arkana: Bacang, bacang. Bacang bayi. Bacang bayam.

Arkana, menyanyikan salah satu lagu Betawi yang terkenal itu: Eh ujan, gerimis aje. Tukang bawel diasinin..

Alayka, menyanyikan lagu dari sekolah (menggunakan  lagu “My Bonnie” yang liriknya diganti).

Alayka: I’m happy that I am a dooooooctor..

Ditirukan Arkana: Wet enggli wet ayam meleeeeeedak..

Lagi jalan-jalan, di depan salah satu patung.

Arkana (panggil Bapaknya): Pak, Pak! Aku mau poto sama fatung, Pak!

Sedang melukis dengan cat air. Tubenya kering dan mampet. Arkana, gagal memencet tube.

Ibu: Sini, Arkan, Ibu bantuin.

Arkana: Ngga mau.

Ibu: Ih, Arkan sok tau deh.

Arkana: Ibu juga kostau!

Ibu: Arkan, kita berangkat les drum yuk. Celana pendeknya aja yang diganti, kaosnya ngga usah.

Arkan: (lepas celana pendek dan celana dalam) Buuu, celana lademnya ngga usah kan Buuuu?

Nyanyi untuk adik bayinya.

Arkana: Pok ame-ame, belalang kupu-kupu. Siang makan nasi kalo malam minum susu. Susu kulang manis, dicampul kulang jawa. Adik jangan nangis, dicampul kulang Indonesiaaa..

Main guling-gulingan jungkir balik sama kakaknya.

Arkan: Kaaak, kita main kuncir balik yooooook!

Arkana dan cintanya

Main motor-motoran di mall.

Arkan: (teriak) Buuuu! Mau naik ojek nggaaa?

Ibu sedang makan mi instan telor dengan Arkana.

Arkana: Ibu juga makan dong telornya.

Ibu: Ngga usah. Buat Arkan aja. Biar Arkan sehat.

Arkana: Emang Ibu ngga mau sehat?

Pulang sekolah.

Arkana: Buuu, tutup mata deh!

Ibu tutup mata.

Arkana: Buka mata, Bu!

Ibu buka mata.

Arkana: Tadaaaa.. Ini bunga untuk Ibuuuu…

Sedang melipat origami.

Arkana: Buuu, ini es krim!

Ibu: Waah, makasih yaa. Buat Ibu?

Arkana: Bukan. Buat Bapak.

Malam. Ibu siap tidur dengan Adek Axan. Arkana bolak-balik masuk kamar Ibu. Mau pipis. Mau minum. Mau pipis lagi. Tiba-tiba, dia masuk lagi, untuk yang kesekian kalinya.

Ibu: Ada apa lagi sih, Kan?

Arkana: (peluk Ibu) I love you, Ibu..

Nggak berasa ya…

Kalau sudah di depan mata begini, gampang ya bilang, “Wah, nggak berasa ya, tau-tau sudah masuk SD aja..”, atau “Wah, nggak berasa ya, tau-tau udah kuliah aja. Rasanya baru kemarin dia masuk SD..”

Sehiperbolis apapun kedengerannya, kenyataannya memang kayak nggak berasa ya, tau-tau Alayka udah SD aja. Saya jadi inget 6.5 tahun yang lalu, saat dia baru lahir. Saya inget betapa paniknya saya sebagai orang tua baru, betapa nggak siapnya saya. Saya pikir, saat itu saya orangtua yang paling repot sedunia. Saya ingat, nangis tersedu-sedu saat diomelin seorang dokter anak, seorang dokter wanita super senior (alias ‘sepuh’ bener), saat beliau sedikit mencemooh kepanikan saya karena dua anak saya yang masih bayi-bayi sedang demam. Sampe sekarang saya masih inget kalimat persisnya, “Halah Ka, anak cuma dua aja bingungnya udah kayak gini. Ngga usah panik begitu lah, biasa-biasa aja.” Saya misuh-misuh, menganggap dokter itu nggak ngerti kerepotan apa yang harus saya lalui setiap hari.

Ngurus balita memang luar biasa repot. Segala keperluan dasarnya seperti makan dan mandi masih perlu terus dibantu. Nah seiring semakin besarnya ketiga anak saya, memang kerepotan ini akhirnya berkurang sedikit demi sedikit. Alayka dan Arkan sudah bisa melakukan berbagai hal sendiri. Mandi, makan, main, nonton TV, dan lain-lain. Saya tinggal ngurus adik bayi mereka aja.

Tapi ternyata ada kerepotan lain menunggu, kerepotan yang ternyata memerlukan energi lebih besar, karena kali ini tidak melulu melibatkan kerja fisik. Saya baru menyadari, bahwa memiliki anak usia SD ternyata lebih berat daripada ‘hanya’ mengurusi kebutuhan fisik balita, yang cuma perlu makan, mandi, dan main.

Saya kemarin hadir di acara briefing SD-nya Alayka. Saya pelajari lembar yang dibagikan, dan saya senewen sendiri. Lho, kok peraturannya banyak ya? Kok larangannya banyak ya? Kok bukunya banyak ya? Wah, pasti PRnya juga ikut banyak nih. Memang hal-hal ini bisa berbeda-beda, tergantung masing-masing sekolah. Mungkin ada sekolah yang jauh lebih ketat atau lebih longgar dibandingkan sekolah anak saya. Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan.

Yang ingin saya sampaikan adalah, betapa saya menganggap remeh tugas orang tua yang memiliki anak-anak yang beranjak besar. Kalau sedang jalan di mal dan melihat beberapa orang tua yang jalan-jalan dengan anak-anak usia SMP atau SMA, sedangkan saya keringetan nenteng 3 anak pricil-pricil, saya suka mikir, “Duh, kapan gedenya ya anak-anak saya ini… Enak bener sih, jalan-jalan nggak pake kemringet begitu….”

Saya lupa, bahwa orang tua dengan anak-anak remaja juga ‘keringetan’. Keringetan nemenin anak-anaknya bikin PR, keringetan ngingetin anak-anaknya belajar, keringetan minta anaknya berhenti main game karena besok ulangan, keringetan nungguin anak-anaknya pulang dari sekolah karena udah magrib tapi belum pulang juga, keringetan ngurusin anak perempuannya yang tiba-tiba banyak didatengin temen-temen cowok, keringetan memantau anak laki-lakinya yang kayaknya udah mulai belajar ngerokok, keringetan karena anak-anaknya minta dibeliin gadget baru karena temen-temennya punya yang sama, dan berbagai ‘keringetan’ lain yang nggak cuma melibatkan kekuatan fisik, tapi juga memerlukan kekuatan hati. Dan kekuatan finansial, hehehe..

Tapi toh, pada saatnya nanti, inshAllah semua itu akan bisa kami lewati. Dan pada saat itu, sehiperbolis biasa, saya akan berkata, “Duh, Alayka, nggak berasa ya, tau-tau kamu udah mau nikah aja. Rasanya baru kemarin kamu Ibu lahirkan….”

Ulang tahun Arkan (6 Juni 2011)

Ulang tahunnya udah lewat, 6 Juni kemarin. Tapi baru sempet ditulis sekarang. Maaf ya Arkan.

Karena sesuatu dan lain hal, acaranya pun diadakan tanggal 9 Juni, beberapa hari setelah ulang tahunnya. Dirayakan di sekolah, bareng guru dan temen-temennya.

Kuenya ini dipesan dari mamahoneys.blogspot.com. FYI, ternyata pemilik toko online ini emang berbakat dalam mengukir kue, karena sebetulnya contoh kue dinosaurus itu gue ambil random aja dari internet. Gue pikir tadinya ngga akan bisa sebagus gambarnya. Eh, ternyata gue underestimate beliau. Thanks ya Tante Kandy. Arkan dan temen-temennya seneng banget sama kuenya.

Dengan goodybagsnya. Looking so happy there, Arkan!

Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga Arkan semakin pintar dan bahagia. Amin.

Chef Cilik

Sejak Alayka sering ikutan nonton Master Chef Australia dan DC Cupcakes, dia jadi tertarik banget belajar bikin kue.

Karena masih libur, kita masih bisa ajak anak-anak jalan-jalan, walau cuma di seputaran Depok. Kemarin, setelah pulang dari makan mpek-mpek (oh btw, Pempek Pak Raden belum ada yang ngalahin deh..), ada plang besar di depan toko kue Kedai Coklat, Jl. Juanda. Chef Cilik, begitu tulisannya. Kursus membuat kue, cuma 15 ribu.

Wih, menarik dong. Mampirlah kita. Tanya sana tanya sini. Dapet info bahwa kursus yang cuma 15 ribu ini sudah termasuk membuat permen coklat, truffle cake, dan milkshake. Wow, oke, nice offer nih. Tapi emang harus member dulu sih untuk dapet harga 15 ribu, karena non member dikasih harga 35 ribu. Hmm, kayaknya ngga apa-apa juga deh ya. Ngga terlalu mahal sih ngeliat apa aja yang didapet.

Jadi, tadi sore, kita datang lagi. 3 gadis cilik, siap untuk belajar bikin kue. Alayka, Atifah, dan Yessika. Karena bertiga, toh bakal bayar 105 ribu kan, jadi kita putuskan untuk daftar jadi member aja. Jadi member itu bayar 100 ribu, berlaku setahun. Utk para member, setiap pembelian produk Kedai Coklat, kita akan dapet diskon 10%. Terus, nah ini nih yang akhirnya bikin saya mutusin untuk daftar aja, kita akan dapet 2 kue (yang satu birthday cake berukuran 15×15, yang satu lagi photocake berukuran 12×12). Nah, padahal satu kue itu harganya sekitar 90 ribu. Jadi, balik modal banget ngga sih.. Hehehe…

Ini mereka bertiga, mulai mencetak kue coklat mereka.

Menghias permen coklatnya. Membuat milkshake.

Dan menikmati hasil kerjanya. :)

Congratulations ya, Cantik.. Ibu doain suatu saat nanti kamu punya jaringan toko kue kamu sendiri. Yang mendunia.