Film Pendek – 10 Gram

Copyright @Scenepique

Jadi beberapa hari yang lalu saya baru aja ngobrol sama partner bisnis saya, @Leon Harita, tentang prospek bisnis streaming pascapandemi. Pandemi mungkin memang nggak terlalu ramah pada banyak bisnis. Tapi streaming film adalah salah satu bisnis yang justru meningkat pesat karena pandemi.Coba lihat Netflix, yang dalam 3 bulan sejak pandemi telah berhasil menggaet paling nggak 16 juta pelanggan baru (https://www.bbc.com/news/business-52376022). Disney, yang baru beroperasi sekitar 9 bulan, sekarang udah punya 60 juta pelanggan (https://www.nytimes.com/2020/08/04/business/media/disney-earnings-coronavirus.html).

Buat saya dan temen-temen yang memang udah berkecimpung di bisnis ini, ini udah pasti kabar gembira dong. Tantangannya: pemain besarnya cuma 2: Netflix dan Disney. Pemain lain yang beroperasi di Indonesia, kayak Viu, Maxstream, GoPlay, Vidio, MNC, Vision+, iflix, Genflix, CatchPlay, KilkFilm, dsb, bukan (atau belum jadi) lawan yang setara buat 2 raksasa tadi.

Lawan setara mereka sebetulnya cuma Google, dengan Google Play. Kalau pengguna Android di seluruh dunia dikasih program bundling film di hape mereka masing-masing, kebayang nggak gimana kewalahannya Netflix dan Disney? Untungnya, Google masih fokusin investasi mereka ke Youtube Premium. Jadi Netflix sama Disney punya kesempatan buat buru-buru menguasai pasar dunia.Itu baru Google. Kebayang nggak kalo Amazon, marketplace segede itu, fokus jualan Amazon Prime ke seluruh dunia? Atau kalau Alibaba bikin Alibaba Movies. Semua bisa nikmatin film murah (atau gratis) kalo jadi pengguna Tokopedia, misalnya. Kelimpunganlah Netflix dan Disney yang bisnis utama (dan satu-satunya) emang cuma jualan film. Ini dia salah satu alasan yang bikin Disney buru-buru majuin tanggal launch-nya di Indonesia; yang tadinya tahun depan, dimajuin ke minggu depan.

Berita baiknya, berarti perusahaan streaming ini bakal butuh kerja sama dengan rumah produksi lokal dong supaya suplai kontennya aman. Nah tapi, di awal-awal, perusahaan produksi gede kayak MD Pictures, Starvision, Rapi Film, Multivision Plus, Screenplay dll udah pasti akan dikasih kesempatan lebih dulu dibanding perusahaan produksi yang lebih kecil. Dan ini wajar banget. Perusahaan gede ini kan punya kapital yang memadai buat bikin skala produksi yang sesuai.

Tapi, buat pemilik PH yang skalanya lebih kecil, jangan cemas wahaiii teman-teman. Pandemi ini telah mengubah cara kita menonton. Pelan-pelan kita bakal terbiasa nonton dari rumah, nonton film apa aja yang kita mau. Bisnis jualan home theater mungkin akan naik lagi. Konten bakal terus dibutuhin. Dan nggak semua konten itu bakal bisa ditangani pemain yang itu-itu aja. Bakal bermunculan streaming platform lain yang memfasilitasi pasar terbatas. Kalo di China, ada Kekeyi –eh, maksud saya – Iqiyi; platform khusus film Mandarin, yang filmnya mungkin tayang cuma di situ. Tapi, jumlah pelanggannya: 119 juta aja dong! (https://traderscommunity.com/index.php/stocks/earnings-reports/2069-iqiyi-subscriber-base-grows)

Jadi saya dan Leon optimis banget bahwa pintu masih kebuka lebar banget. Makanya kami beraniin diri bikin usaha rumah produksi kami sendiri. Ini trailer karya pertama kami. Nggak ada Bu Tejo di sini. Adanya Mbak Dinia. Dan ini nggak pake Bahasa Jawa. Pakenya bahasa cinta. Ea-ea-eaaaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s