Memeluk Sekolah Unggulan

Alayka Arkan Axan…

Ibu mau cerita tentang seorang penulis yang Ibu kagumi sejak novel pertamanya. Beliau bernama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun. Nama penanya memang tak serumit ini, tapi sama eksotisnya dengan nama aslinya.

Tapi cerita hidupnya, Nak, jauh lebih unik. Ibu tak bilang bahwa ceritanya hanya satu dari seribu, karena mungkin, dari tiap seribu orang, ada lebih dari satu yang mengalami hal persis sama atau malah lebih fantastis. Tapi beruntunglah kita, Nak, karena cerita seunik ini ia tuliskan sehingga kita bisa membacanya.

Nak, kemarin kan kita baru pulang dari perjalanan darat ke Sumatra Barat. Nah, tempat ia lahir ini, Ibu sangsi bisa kita tempuh lewat darat. Mungkin bisa, nantilah Ibu cari tau caranya. Untuk sementara ini, cukuplah kamu tau dulu bahwa penulis ini lahir di sebuah desa kecil bernama Gantong, di tengah Pulau Belitong.

Sebagai anak dari keluarga yang hidup tak jauh dari batas garis miskin, sejak awal ia tau ia tak akan bisa menikmati pendidikan di sekolah ‘unggulan’ macam yang didirikan oleh perusahaan tambang timah, tak jauh dari rumahnya. Tapi ia beruntung, Nak, karena punya ayah yang, walaupun tak bersekolah tinggi, tau pentingnya pendidikan.

Maka, dengan keterbatasan mereka, si ayah membawanya ke sebuah sekolah; sekolah yang hampir ditutup seandainya saja tahun itu mereka tak sanggup mendapat 10 murid. 10 murid saja. Lucu ya, Nak, ada sekolah yang diperebutkan sedemikian rupa, tapi ada juga sekolah yang nyaris dilupakan. Hanya karena berkat Allah saja, datanglah si murid kesepuluh. Tak jadilah sekolah itu ditutup.

Membaca ceritanya, Ibu terbayang serunya belajar di sana. Di bawah bangunan kayu yang nyaris rubuh. Di tengah padang ilalang yang jauh dari modernitas. Namun tak sanggup Ibu membayangkan ‘serunya’ menjadi guru di kelas di mana anak yang sanggup menyelesaikan soal-soal Fisika bersanding dengan anak yang membaca saja belum bisa.

Makanya ia memuja betul ibu gurunya, yang ia sebut dengan nama Ibu Muslimah. Karena bahkan dengan teman-teman belajar yang seperti itu, yang seharusnya menghambat kecepatan belajarnya, Bu Muslimah tetap berhasil mengantarnya sampai lulus.

Dengan modal seadanya itu, ia juga lulus SMP, SMA, dan universitas… Bahkan bukan sembarang universitas. Anak Gantong itu sampai juga ke jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di Eropa dan di Inggris; sesuatu yang bahkan tak berhasil Ibu capai, Nak, padahal, Ibu bersekolah di sekolah ‘unggulan’.

Andrea Hirata, novelis ini, sekarang hidup nomaden, berpindah dari satu negara ke negara lain yang ingin menyerap ilmunya. Hari ini ia mengajar di Jerman, bulan depan ia mengisi seminar di Amerika, akhir tahun sudah entah di mana lagi jejaknya. Laskar Pelangi menjadi salah satu novel Indonesia terlaris sepanjang masa.

Di novelnya, berulang kali ia memuja Bu Muslimah, guru yang membuatnya percaya bahwa ia, murid yang belajar di bawah atap reyot, boleh saja bermimpi. “Biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpi kita…” adalah kutipan masyhur dari novel itu. Kemungkinan, kutipan itu ia rangkum dari semangat Bu Mus.

Kalau kalian cukup beruntung, kalian akan bertemu guru-guru macam Bu Muslimah, yang percaya pada kemampuanmu. Kalaupun sudah kaujumpai ‘Ibu Muslimah’-mu, peluk erat kata-kata beliau. Mungkin kata-kata beliaulah yang akan membuat Tuhan memeluk mimpi-mimpimu. Karena Ibu masih percaya, Tuhan memeluk mimpi siapa pun yang ikhlas berikthiar dan bertawakal. Bahkan jika ia bukan berasal dari sekolah unggulan…

Depok, 22 Juni 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s