Lupa Halaman Berapa

Menjelang Lebaran beberapa tahun lalu, banyak beredar meme dengan tulisan ini: “Pengen pulang ke kampung halaman, tapi lupa kampungnya di halaman berapa.” Meme yang lucu sekaligus miris. Sayangnya, sebagaimana berbagai drama dalam hidup, meme itu pun terlupakan oleh waktu. Tapi kalimat itu membekas terus di hati saya sampai hari ini. Pasalnya begini.

Walaupun sudah 12 tahun tinggal di Depok, saya sering keseleo lidah berkata bahwa saya ini anak Jakarta. Nggak salah juga sih, karena saya memang mukim di Jakarta selama 33 tahun. Keluarga besar saya semuanya sudah migrasi ke Jakarta sejak Jepang masih berkuasa. Hahaha. Pokoknya, udah lama bangetlah kami beranak-pinak di Jakarta. Jadi, mudik kami ya di situ-situ aja. Cuma dari Tebet Timur ke Tebet Barat. Cuma dari Cirendeu ke Pejompongan. Cuma dari Kalibata ke Pondok Cabe. Begitulah.

Setelah menikah dengan Muadzin Jihad dan pindah ke Depok, jarak tempuh mudik kami malah lebih pendek lagi. ‘Pulang-ke-rumah-nenek’ bagi anak-anak kami hanyalah sejauh menyeberangi rel kereta Commuter Line. Padahal, kata guru kami, menempuh jarak mudik yang sampai berhari-hari itu bisa dimaknai sebagai latihan pulang selamanya. Latihan ‘mudik’ ke asal. Kata si guru, “Ini simulasi, supaya saat kamu ditanya malaikat, ‘Mau ke mana lo?’, kamu bisa langsung jawab, ‘Ke Shirotol Mustaqim, Bos.’” Paling nggak, arahnya ke situ dulu kan. Masalah nanti pas nyebrang bakalan selamet atau nggak sih urusan lain ya.

Walhasil, walaupun praktis kami sudah nggak punya saudara dekat lagi di Sumatera Barat, tahun ini kami putuskan pulang. Menziarahi tempat-tempat kelahiran kakek-nenek kami di Padang, Lawang, Lubuk Sikaping, dan Suliki. Menapaki tanah yang dulu pernah mereka jejaki. Bagi kami, ini upaya melapor ke leluhur, agar mereka nggak lupa bahwa ada kami-kami ini di garis darah mereka. Agar mereka membantu mendoakan keselamatan kami. Syukur-syukur doa mereka didengar oleh para waliyullah, nabiyullah, dan Rasulullah. Allahumma shalli wa salim ‘ala Sayyidina Muhammad wa sallimni ya Allah, bijaahika ya Rasuulullah.

Kemarin, seorang teman baik saya bertanya, apa kami sekeluarga sudah beli baju Lebaran. Saya tanggapi pertanyaannya sambil tertawa dan bertanya balik, apa dia sudah membeli baju Lebaran. Saya juga bertanya, kenapa harus beli baju Lebaran sementara setiap hari pun dia bisa pakai ‘baju Lebaran’. Dengan sangat serius, ia menjawab (dan ini akan saya ingat selamanya), bahwa bukan ‘baju Lebaran’-nya yang penting, tapi momennya. “You create memorable moments for your children”, gitu katanya. Yang dikenang anakmu bukan bajunya, tapi momen berbahagianya Lebaran, yang salah satunya ditandai dengan berbaju baru.

Nah. Oke. Berhubung sekarang sudah terlambat bagi kami beli baju Lebaran, semoga momen mudik ini akan jadi satu dari banyak momen Lebaran yang bisa kami tinggalkan untuk mereka kenang kelak. Nggak, kami nggak akan naik pesawat. Naik mobil pasti lebih terkenang jerih-payahnya (dan makan-makannya).

Jadi, Alayka-Arkan-Axan kesayanganku, kalau suatu hari kamu ditanya (baik oleh teman, saudara, atau bahkan oleh malaikat penjaga Jembatan Shirat), di mana kampung halamanmu, kamu nggak akan sibuk membolak-balik ingatan karena lupa kampungmu ada di halaman berapa.

Depok, 4 Juni 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s