Hidup itu persis dorong mobil di tanjakan

Gambar diambil dari: http://www.langitberita.com/wp-content/uploads/2014/01/12MENIT0121.jpg
Gambar diambil dari: http://www.langitberita.com/wp-content/uploads/2014/01/12MENIT0121.jpg

 

Tara diam menatap tanah. Matanya berkedip-kedip.

“Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil di tanjakan,” jelas Opa, “Susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, Insya Allah akan sampai.”

Tara masih diam. Dia tak tahu ke mana arah pembicaraan itu menuju. Dia memutuskan untuk tak bekerja sama.

“Nah, sekarang,” lanjut Opa, “kamu punya pilihan. Mau terus dorong sampai lewat tanjakan, atau mau lepas saja?”

Mata Tara lurus ke tanah. Tak berkedip; menandakan kekerasan hati. Tak lama, dia angkat kepalanya. Dia tatap Rene lurus-lurus, lalu dia tatap Opa. Tatapannya melembut. Dia tersenyum kecil. Jemarinya meraih sesuatu di balik kerudungnya: alat bantu dengarnya. Alat itu dia lepas dan letakkan di tanah.

“Aku lepas saja,” jawabnya. Singkat. Dingin.

(dari Novel 12 Menit, halaman 160)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s