Korupsi adalah korupsi. Berapa pun jumlahnya. Apa pun niatnya.

Dalam beberapa hari ini, saya melihat sendiri betapa pedulinya masyarakat Indonesia pada kejadian Kompol Novel Baswedan (moga-moga nggak salah sebut, ini) yang ditangkap polisi. Penangkapan ini berhubungan dengan penyidikan kasus korupsi yang dicurigai dilakukan pihak polisi.

Saya bangga, begitu banyak lapisan masyarakat yang mendukung aksi  #SaveKPK, baik offline maupun online. Saya sendiri termasuk yang bersemangat menandatangani petisi offlinenya.  Tapi setelah tandatangan, saya jadi berpikir lagi, saya sendiri bersih korupsi nggak ya? Kayaknya sih nggak. Nilainya memang nggak milyaran sih, tapi, walau malu, saya harus jujur, saya juga sering melakukan korupsi.

Saya pernah ngantor selama belasan tahun. Fasilitasnya banyak. Salah satunya, ponsel dan pemakaiannya. Saya beruntung dibebaskan menggunakan ponsel sesuka saya. Bisa dibilang, nyaris tiap bulan penggunaan pulsanya berlebih dibandingkan yang seharusnya. Karena saya menelpon rumah, menelpon teman, mengundang presentasi MLM, dan lain-lain menggunakan telpon kantor itu. Pernah ada satu masa di mana para pegawai diminta membayar sendiri pemakaian pribadi. Walhasil, beramai-ramai kami mencontrengi mana-mana saja pemakaian telpon yang bukan tentang urusan kantor. Tapi toh laporan kami ini nggak pernah bener-bener diperiksa juga. Jadi sebenarnya itu hanya untuk formalitas. Akhirnya, ya kami sesuka hati juga mengakuinya. Dan setelah sekian bulan, mungkin karena admin kantor jadi lebih repot akibat tugas tambahan ini (baca: terpaksa nyediain uang kembalian), kegiatan ini berhenti.

Apa lagi yang dikorupsi? Oh, banyak. Printer kantor dipakai untuk mencetak berbagai hal di luar urusan kantor. Nyetak undangan ulang tahun anak-anak, misalnya. *gedumbreng*

Mesin foto kopi, dipakai untuk fotokopi entah apa aja. SIM, KK, KTP, sertifikat rumah. :p

Internet kantor, dipakai untuk browsing online shopping dan friendster. Iya, masih ada friendster waktu saya ngantor, hehehehe…

Mobil kantor. Ini juga seru nih. Pakai mobil kantor untuk urusan pribadi. Nganter pulang ke Serpong (bukan, ini bukan saya, karena dulu rumah saya deket kantor). Nganter ke mal padahal masih jam kantor. Nganter interview ke kantor lain. Hohoho… Hebat kan? Eh, tapi, ini juga bukan saya. Dulu kalau saya interview di jam kantor, naik taksi. Soalnya takut ketauan. ;p

Nah, jam kerja pun juga dikorupsi dong. Saya sekarang udah nggak ngantor. Dan kalau saya ada di mal di bilangan jalan TB Simatupang, pagi-pagi sekitar jam 10, malnya juga baru buka, berapa sering saya ketemu mbak-mbak berpakaian kantor berseliweran di shoes and bag department? Sering banget. Kalau dibilang mereka mau brunch meeting, ya nggak juga, wong nggak bawa apa-apa selain ponsel dan dompet. Kadang-kadang ada yang cuma bersandal pula.

Dulu, saya sering tuh sampai kantor jam 10, tapi pulang tetap jam 5 teng. Atau datang dan pulang tepat waktu. Jam 8 sampai jam 5. Tepat waktu sih, tapi udah kabur makan siang dari 11.30 dan baru sampai di kantor lagi jam 14.00. Ini saya. Ini saya banget.

Saya beruntung akhirnya diPHK. Bukan, bukan karena korupsi kecil-kecil ini, tapi karena perusahaannya bangkrut. Eh, tapi bangkrutnya mungkin juga gara-gara rame-rame dikorupsi pegawainya kali ya. Hehehehehehe… Setelah diPHK, nggak ada lagi kan yang bisa saya korupsi.  Eh, kata siapa?

Ceritanya, kami kan punya usaha laundry kiloan nih. Lho, itu kan nggak bisa dikorupsi? Masak bisnis sendiri dikorupsi? Hehehe… Jangan salah. Kadang tergoda juga lho untuk ngelondriin baju sendiri (yang berkilo-kilo itu) dan nggak bayar. Padahal, toh kalo bayar ya sama aja dengan mindahin uang dari kantong kanan ke kantong kiri juga sebenarnya, kan. Alias, sama aja gitu. Yang nggak sama justru ya itu tadi, memakai jasa pegawai-pegawai kita untuk kepentingan pribadi, dan NGGAK BAYAR. Atau pakai uang laundry dulu untuk keperluan lain, dan NGGAK DIBAYAR-BAYAR. Kalau jangka pendek, mungkin nggak akan berasa efeknya. Tapi jangka panjang?

Pertama, lama-lama kita akan pusing dengan cashflow kita sendiri. Kita akan selalu merasa punya uang, padahal sebenarnya itu uang bisnis kita. Ah, tapi kan jumlahnya kecil. Bayarnya nanti-nanti ajalah. Nah, ini masalahnya dengan mengentengkan hal yang kecil-kecil. Kita jadi tergoda untuk melakukan yang lebih besar. Sering menunda membayar yang kecil-kecil akan membuat kita berani meminjam dalam jumlah lebih besar. Lama-lama kita nggak segan lagi menunda bayar ‘pinjaman’ yang lebih besar. Akhirnya? Begitu terus, kayak bola salju yang digulingkan. Kecil awalnya, tapi kalau diluncurkan terus, makin lama akan makin besar.

Kedua, pegawai-pegawai juga jadi nggak respek sama kita. Gue kerja keringetan capek-capek, dia yang enak-enakan nikmatin profitnya. Sekarang, tenaga gue nggak dibayar, lagi. Coba, jika pegawai kita udah berpikir seperti ini tentang kita, kualitas kerja seperti apa yang kita harapkan bisa dia berikan untuk bisnis kita?

Orang dengan integritas tertinggi yang pernah saya temui adalah @muadzin. Beliau kerja kantoran 14-15 tahun, dan nggak pernah sekali pun dia memakai telpon kantor untuk urusan pribadi. Dulu, kalau dia telpon saya, dia telpon pakai handphonenya sendiri. Setiap terpaksa numpang fotokopi di kantor, beliau bayar sendiri. Dan, yang saya tau, sejak beliau sibuk menjalankan bisnisnya @SemerbakCoffee sambil masih tetap ngantor, beliau hampir nggak pernah tidur di bawah jam 2 pagi setiap malamnya. Kenapa? Karena @muadzin ini menyelesaikan hutang kerjaan bisnisnya malam setelah anak-anak tidur. Setelah istrinya tidur. ;)

Selama di kantor, waktunya ya untuk kantor. Suami saya ini nyaris nggak keluar makan selama istirahat kantor, karena dia mengerjakan urusan bisnisnya ya selama jam istirahat itu. Untuk makan siang, dia pesan dibelikan Office Boy. Beliau makan sambil mengerjakan tugas bisnisnya. Begitu istirahat selesai, bisnis pun selesai, dan kembali lagi ke pekerjaan kantor.

Dulu, kita ke kantor naik kereta. Dan jadwal kereta itu aneh sekali. Dari Depok, satu-satunya jadwal kereta yang memungkinkan kita sampai di kantor sebelum jam 8 adalah kereta 06.25. Jadi, jam 6 pagi, suami saya sudah terbirit-birit ke stasiun untuk sampai di kantor sekitar jam 7 lewat sedikit. Pagi banget kan? Pagi banget. Mestinya bisa dong, pulangnya nggak persis jam 5? Ya nggak bisa. Karena jam kantornya kan selesai jam 5.

Dan Pak Muadzin ini nggak peeeeeernah sekali pun pulang di bawah jam 5, kecuali kalau ijin sama bosnya. Padahal, dulu nih, jadwal kereta pulang dari Sudirman ke Depok yang di bawah jam 6 sore itu cuma ada 3. Kalo nggak salah nih ya.. 16.57, 17.21, dan 17.50. Ah, lupa deh. Ya kira-kira jam segitu. Nah dua yang terakhir, yang setelah jam 5, itu penuh minta ampun. Sedangkan yang 16.57 biasanya lebih kosong. Maksud saya nih, kan nyampe kantornya juga jam 7 gitu lho. Masak sih pulang lebih cepet sedikit dari jam 5 aja nggak boleh. Supaya masih sempet dapet yang kereta awal. Tapi nggak, lho. Nggak pernah suami saya ini mau pulang sebelum waktunya. Jadi, walhasil, kita sering deg-degan karena beliau sering hampir ketinggalan yang 17.21. Sebel nggak sih?

Tapi itulah integritas.

Sekarang, beliau kan udah resign tuh dari kantornya. Cerita lengkapnya ada di sini. Sekarang nih, walau baru jalan ke head office @SemerbakCoffee sekitar jam 10, tapi beliau ini di rumah udah utak-utek utak-utek kerjaan sejak jam 8. Kira-kira beberapa menit setelah anak-anak dijemput mobil jemputan masing-masing.  Dan nggak pernah, sekali lagi yaaa, NGGAK PERNAH, setiap malam, sebelum tidur, dilewatkan tanpa mengerjakan dulu apa-apa yang berhubungan sama bisnisnya. Entah balas email, entah ngurusin facebooknya SemerbakCoffee, entah ngeblog di http://muadzin.com . Pokoknya ada aja.

Jadi, apa saya bangga sama integritas bapak yang satu itu? Iya.

Apa saya malu dengan korupsi-korupsi kecil yang dulu saya lakukan? Mmm… iya juga, sih. Tapi berhubung banyak temennya, jadi ya nggak terlalu malu.

Kalau disuruh balik lagi ke masa lalu, apa itu semua masih akan saya lakukan? To be really, really, honest… I don’t know. *tutupmuka* *bukalagi*

Apakah itu berarti saya nggak mendukung gerakan #SaveKPK? Ya nggaklah! Masak korupsi ratusan milyar didiemin aja? Saya sudah tandatangan petisi offlinenya di sini: http://www.change.org/id/petisi/serahkan-kasus-korupsi-polri-ke-kpk-hentikan-pelemahan-kpk

Kenapa saya nggak ikutan demo di mana pun yang lagi ramai berkumpul orang-orang untuk #SaveKPK? Ya bukan karena saya nggak peduli, tapi karena saya ini pemalas. Dipanggil meeting urusan kerjaan aja masih suka ngeles, apalagi diajak demo. Saya salut banget sama kelas-kelas menengah yang begitu peduli sama masalah ini dan bersedia turun ke jalan. That takes courage. That shows responsibility.

Tapi bagi saya, yang nggak seneng panas-panasan ini, demo ke jalan adalah salah satu cara untuk membersihkan Indonesia. Salah satu cara kecil yang bisa saya pribadi lakukan dari rumah sebagai warga negara ini adalah mengajarkan anak-anak saya untuk meniru integritas bapaknya. Iya, hanya bapaknya. Karena ibunya udah terbukti nggak punya integritas sebesar itu. Sulit, pastinya. Sulit dong, ngajarin orang lain sesuatu yang nggak pernah kita lakukan sendiri. Nggak pernah practice what I preach. Tapi ya itu aja target jangka menengah saya sekarang ini. Ngajarin anak-anak untuk jujur, untuk nggak mengambil apa pun yang bukan haknya.

Karena korupsi adalah korupsi: nggak bersih. Berapa pun jumlahnya. Apa pun niatnya.

2 thoughts on “Korupsi adalah korupsi. Berapa pun jumlahnya. Apa pun niatnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s