Makan #dirumahaja

Menurut seorang ahli marketing, di babak baru nanti, akan semakin banyak keluarga yang hidup dalam kecemasan. Family living in anxiety, judulnya. Demi membuktikan teori itu, beberapa hari lalu, setelah hampir 3 bulan makan di rumah sepanjang hari, kami mencoba makan malam di sebuah resto. Tapi ternyata untuk bisa makan dengan nyaman, perjuangannya lumayan panjang.

Pertama, nggak banyak resto yang masih buka di atas jam 20. Setelah mendatangi dua tempat dan gagal, kami akhirnya terdampar di resto ini yang kebetulan beroperasi sampai jam 22.

Tapi begitu masuk, suasana murung langsung mengepung kami. Bangku-bangku kosong, pegawai dan pengunjung yang cuma segelintir, dan beberapa lampu yang dimatikan membuat kami ikutan masygul. Pegawai-pegawainya (yang tinggal beberapa) kelihatan betul bekerja dengan perasaan tertekan, mungkin karena terbiasa melayani tamu dengan suasana yang jauh lebih meriah.

Saat menunggu makanan datang, kami sama sekali nggak melepas masker. Ngobrol pun jadi susah. Begitu pun dengan suasana di meja lain. Semua mengenakan masker. Semua duduk berjauhan dengan gestur kencang.Lalu, saat makanan dan minuman datang, kami sibuk membersihkan ulang tepian piring saji, permukaan gelas, dan alatalat makan. Semua kerepotan itu nggak sebanding dengan durasi makan yang terpaksa disingkat supaya kami nggak berlama-lama di sana. Belum jam 21 saja rasanya seperti sudah larut sekali.

Besok-besok, ya sudahlah. Makan #dirumahaja kayaknya malah lebih meriah.

PS: Kaus kembaran kami itu Alayka yang buat. Hasil mantengin Tiktok.

Juni 10, 2020

Diambil dari posting Facebook:

Mengembuskan Puisi

“Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.”

Bukan. Itu bukan puisi saya. Itu punya Pak Joko Pinurbo.

Sebagaimana gak semua orang terlahir sebagai penyanyi, gak semua orang terlahir dengan bakat menulis. Sayangnya, gak semua penulis berbakat menulis puisi. Kalo teknis menulis itu tingkat kesulitannya antara 0 – 10, puisi ada di level 13. Itu menurut saya sih.

Tapi saya tetep mau ikut kelasnya Joko Pinurbo nih. Kebetulan beliau jadi narsum di komunitas patjarmerah. Siapa tau aja saya punya bakat, walaupun rasanya sih enggak.

Merangkum perasaan dalam cuma beberapa kata tuh kayaknya butuh lebih dari sekadar ilmu teknis deh. Butuh pengalaman batin yang jumpalitan dulu untuk bisa menghasilkan mahakarya macam yang ditulis Chairil Anwar, Sapardi DD, Taufiq Ismail, atau Emha Ainun.

—–

pujangga datang dari jiwa yang sengsara

ia menyesap nyeri

lalu dari napasnya terembus puisi

—–

Nah yang itu. Puisinya Oka Aurora. Mayanlayaaa. Bolelaya saya tetep ikutan kelas tadi itu kan. Mumpung ada yang mau bayarin.

Juli 4, 2020

Diambil dari posting Facebook:

Nulis #dirumahaja

Hari ini tepat 2 bulan saya #dirumahaja. Di kondisi normal yang lalu, itu adalah waktu yang cukup untuk nulis berbagai naskah. Tapi dalam kondisi normal yang baru, ternyata nggak semudah itu.

Saya bukan tipe penulis yang bisa kerja #dirumahaja. Pernah saya bilang ke Muadzin, saya mau nyewa kantor aja supaya nggak setiap hari keluyuran nyari tempat kerja. Eh, Muadzin malah jawab: Ngapain? Nanti kamu bosen.

Saya memang merasa lebih kreatif kalau kerja di luar, saat bebas sebentar dari kewajiban-kewajiban rumah tangga. Buat saya, dengung mesin kopi, musik kafe, dan orang ngobrol malah meditatif. Beberapa jam yang betul-betul cuma untuk menulis tanpa distraksi urusan rumah adalah kemewahan yang harus saya ganti dengan ongkos ngafe. Saya menganggap itu biaya sewa kantor, yang kantornya pindah-pindah dan teman kerjanya ganti-ganti.

Sejak beradaptasi dengan normalitas baru, ternyata saya cuma kuat nulis 4 โ€“ 5 halaman sehari. Kadang malah cuma 2. Seringnya malah nggak nulis sama sekali. Yhaaa!

Soalnya, setelah energi kocar-kacir begitu, saya cuma pengen ngaso, nonton TV, atau ngepoin sosmed dari FB, IG, sampe Twitter. Dan sejujurnya, sosmed lebih sering bikin saya sedih dan emosi ketimbang bikin semangat. Bener-bener nyedot tenaga dan kreativitas.

Walhasil, 2 bulan ini saya baru menghasilkan 35 halaman novel dan 12 halaman naskah film. Tenggatnya udah lewat dari kapan-kapan. Malah ada 1 naskah yang 1 huruf aja pun belom ditulis. Padahal biasanya cukup 3-4 hari aja untuk nulis 45 halaman.

Tapi karena nggak tau kapan ini akan berakhir, bersikeras nyalahin situasi juga nggak ada gunanya kan. Mau nggak mau saya harus beradaptasi sama kenyataan. Kenyataannya saya harus kerja di rumah. Kenyataannya saya harus berbagi waktu sama urusan Zoom anak-anak dan urusan dapur.Mangkanya saya ngurangin sosmed. Gak mau baca lagi postingan yang auranya gelap. Dan kalo lagi nggak mood nulis, waktunya saya pake buat nonton. Mending nonton scriptwriting masterclasses di youtube, yang ternyata banyak banget.

Alah bisa karena biasa. Alah biasa karena terpaksa. Karena, katanya almarhum Kangmas Didi Kempot kan: Opo wae sing dadi masalahmu, kuat ora kuat, kowe kudu kuat.

Mei 9, 2020

View this post on Instagram

Hari ini tepat 2 bulan saya #dirumahaja. Di kondisi normal yang lalu, itu adalah waktu yang cukup untuk nulis berbagai naskah. Tapi dalam kondisi normal yang baru, ternyata nggak semudah itu. Saya bukan tipe penulis yang bisa kerja #dirumahaja. Pernah saya bilang ke Muadzin, saya mau nyewa kantor aja supaya nggak setiap hari keluyuran nyari tempat kerja. Eh, Muadzin malah jawab: Ngapain? Nanti kamu bosen. Saya memang merasa lebih kreatif kalau kerja di luar, saat bebas sebentar dari kewajiban-kewajiban rumah tangga. Buat saya, dengung mesin kopi, musik kafe, dan orang ngobrol malah meditatif. Beberapa jam yang betul-betul cuma untuk menulis tanpa distraksi urusan rumah adalah kemewahan yang harus saya ganti dengan ongkos ngafe. Saya menganggap itu biaya sewa kantor, yang kantornya pindah-pindah dan teman kerjanya ganti-ganti. Sejak beradaptasi dengan normalitas baru, ternyata saya cuma kuat nulis 4 โ€“ 5 halaman sehari. Kadang malah cuma 2. Seringnya malah nggak nulis sama sekali. Yhaaa! Soalnya, setelah energi kocar-kacir begitu, saya cuma pengen ngaso, nonton TV, atau ngepoin sosmed dari FB, IG, sampe Twitter. Dan sejujurnya, sosmed lebih sering bikin saya sedih dan emosi ketimbang bikin semangat. Bener-bener nyedot tenaga dan kreativitas. Walhasil, 2 bulan ini saya baru menghasilkan 35 halaman novel dan 12 halaman naskah film. Tenggatnya udah lewat dari kapan-kapan. Malah ada 1 naskah yang 1 huruf aja pun belom ditulis. Padahal biasanya cukup 3-4 hari aja untuk nulis 45 halaman. Tapi karena nggak tau kapan ini akan berakhir, bersikeras nyalahin situasi juga nggak ada gunanya kan. Mau nggak mau saya harus beradaptasi sama kenyataan. Kenyataannya saya harus kerja di rumah. Kenyataannya saya harus berbagi waktu sama urusan Zoom anak-anak dan urusan dapur. Mangkanya saya ngurangin sosmed. Gak mau baca lagi postingan yang auranya gelap. Dan kalo lagi nggak mood nulis, waktunya saya pake buat nonton. Mending nonton scriptwriting masterclasses di youtube, yang ternyata banyak banget. Alah bisa karena biasa. Alah biasa karena terpaksa. Karena, katanya almarhum Kangmas Didi Kempot kan: Opo wae sing dadi masalahmu, kuat ora kuat, kowe kudu kuat.

A post shared by Oka Aurora (@okaaurora) on

Bahasa Cinta

Axan.

Kalau suatu hari nanti kamu punya istri, berlakulah macam bapakmu.

Bapakmu itu, dulu pernah mempelajari buku 5 Bahasa Cinta, yang ditulis Dr. Gary Chapman. Menurut dr. Chapman, setiap manusia punya bahasa cintanya masing-masing. Yaitu: Waktu. Hadiah. Pelayanan. Pujian. Sentuhan.

Jika bahasa cintanya adalah pelayanan, maka hatinya akan membuncah jika pasangannya membantu melipat seprai tanpa diminta. Jika bahasanya adalah hadiah, maka hadiah kecil semacam permen kesukaan pun sudah cukup untuk membuatnya melambung.

Tapi bahasa yang sama tak akan berlaku pada semua orang. Maka dr. Chapman menyarankan, โ€œUntuk menyelamatkan pernikahanmu, pelajari bahasa cinta pasanganmu. Itu saja dulu.โ€

Waktu pertama mendengar ilmu ini, bapakmu langsung bilang ke Ibu, โ€œBahasa cinta kamu: waktu.โ€ Menurutnya, Ibu selalu resah kalau dia terlalu sibuk. Menurutnya, Ibu merasa paling dicintai kalau ia menemani Ibu mencari sarapan di luar rumah atau menonton di bioskop. Ia tahu, gestur sesederhana duduk bersama di teras sudah cukup menenteramkan.

Tapi demi meyakinkan diri bahwa Ibu selalu merasa dicintai, ia berusaha bicara dengan SEMUA bahasa tadi. Ia rajin memberi hadiah-hadiah kecil; macam foto kami yang dipigura, novel yang sudah lama Ibu incar, atau kopi saset murah kesukaan Ibu.

Ia juga tak pernah sungkan membantu Ibu dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang โ€˜remehโ€™ macam mencuci piring, mengangkat galon-galon air, berbenah sarang laba-laba, menjemur kasur, mereparasi remote TV. Semua tugas โ€˜remehโ€™ yang Ibu minta ia bantu, tak ada satu pun yang ia tolak.

Bahasa pujian pun ia pakai Dek. Setiap hari. “Terima kasih ya udah disiapin makan,” “Makasih ya, masakan kamu enak.” “Makasih ya udah nemenin Axan belajar.” Kamu mungkin juga sering mendengarnya sendiri. Pujian dan dukungan ini tak berhenti di area domestik. Bapakmu, selain mengizinkan Ibu memilih karir sendiri, juga memuji setiap pencapaian Ibu; baik yang kecil, apalagi yang besar. Ibu tahu, kadang-kadang pujiannya basa-basi. Tapi itu tak penting. Karena bagi Ibu, yang penting ia selalu berupaya membuat Ibu merasa dicintai. Merasa berharga.

Tentang bahasa yang terakhir โ€“bahasa sentuhanโ€“ tak usahlah itu Ibu jelaskan. Cukuplah kamu percaya, dalam bahasa itu, kami baik-baik saja.

Selamat memperingati kelahiran Ibu Kartini, Dek. Kalau suatu hari nanti kamu punya istri, berlakulah macam bapakmu. Tak usah persis seperti itu. Jadi dirimu sendiri saja. Yang penting, istrimu tahu bahwa kamu selalu berupaya membuatnya merasa dicintai. Yang penting ia tahu, bagimu, ia begitu berharga.

April 22, 2020

Diambil dari posting Facebook:

โค 3 children ๐ŸŒผ 4 novels ๐Ÿ“ฝ 14 feature films โ˜€ 2 webseries ๐Ÿ’Œ okaaja@gmail.com