Memilih Bahagia

6 May

Beberapa waktu lalu, saya pulang setelah acara reuni makan malam dengan teman-teman lama. Di perjalanan, di sebuah sudut jalan, saya melihat sesosok balita berdiri di sebelah ibunya dalam kegelapan. Kalau melihat cara berpakaiannya, kemungkinan ibunya berprofesi sebagai peminta-minta pinggir jalan.

Pemandangan yang saya lihat sebenarnya sangat biasa. Kita menemukannya setiap hari di setiap sisi Jakarta. Yang membuat pemandangan itu menarik adalah karena balita itu dari jauh terlihat sama persis dengan anak saya yang paling kecil. Sama-sama kelihatan baru belajar jalan, dengan tinggi dan ukuran badan yang sama.

Namun yang paling menarik perhatian saya, kedua ibu dan anak itu sedang berpelukan dan tertawa bahagia. Entah karena apa. Dan saat itulah, ketika mobil saya melaju menjauh, saya menangis.

Saya menangis, karena saya tahu, inshAllah anak saya sedang tidur dengan nyaman di rumah. Saya tahu, inshAllah anak saya besok pagi bisa minum susu dan makan makanan bergizi. Sedangkan, pada saat yang sama, saya tidak tahu besok pagi akan bagaimana nasib anak di pinggir jalan itu – anak yang dari jauh tampak seperti anak saya itu.

Saya menangis, karena bahkan dalam ketidakpastian itu, ibu dan anak tadi masih memilih untuk tertawa.

Saya jadi takjub sendiri. Saat seseorang dalam keadaan nyaman, seorang lainnya bisa berada dalam ketidaknyamanan. Saat seseorang diuji dengan kemudahan, seorang lainnya diuji dengan kesulitan. Dan suatu saat, keadaan bisa berubah 180 derajat. Tidak ada yang mutlak. Tidak ada yang pasti. Hidup ini justru ‘hidup’ karena ketidakpastian.

Namun satu hal saya tahu pasti. Di tingkat manapun kita berada dalam kehidupan ini, kita selalu bisa putuskan untuk merasa bahagia. Karena merasa bahagia adalah sebuah pilihan.

To forgive. To move on.

4 May

Ada kejadian kecil di sekolah anak saya baru-baru ini. Seorang anak, sebut aja Atika, terjepit tangannya di pintu mobil jemputannya. Pasalnya, temannya, Denaya (bukan nama aslinya) nggak sengaja menutup pintu dengan tergesa. Akibatnya, jari-jari Atika bengkak.

Kenapa saya bisa tau? Karena ibu Denaya meminta maaf dengan tulus dan terbuka di BBM grup kami. Mama Atika, tadi Denaya cerita kalau jari Atika kejepit. Denaya minta maaf ya ma, katanya dia nggak sengaja..

Terharu nggak sih, anak kelas 1 SD sudah berani jujur mengakui kesalahannya dan minta maaf. Tapi yang lebih terharu lagi adalah saat ibunya Atika menjawab, Nggak apa Ma. Atika juga bilang Denaya nggak salah, karena dia nggak sengaja..

Hangat rasanya hati saya. Anak-anak 6 tahun ini sudah bisa saling memaafkan. Tak menyimpan dendam.

Saya jadi ingat kutipan dari film Georgia Rule (diperankan Lindsay Lohan): To forgive is to move on with your life.

Saya termasuk yang masih suka memelihara kesumat pada orang-orang yang ‘bersalah’ pada saya. Kadang, bertahun-tahun saya masih sebel, eh yang disebelin sudah dengan santainya minta maaf dan melanjutkan hidupnya. Nggak enak sekali kan rasanya?

Karena esensi dari memaafkan sebetulnya bukan agar kita berdamai dengan orang lain. Memaafkan adalah berdamai dengan diri sendiri.

So forgive. And move on.

Saat ‘musibah’ datang minta dipelajari..

18 Mar

Seorang teman sedang ditantang ujian. Anak se-matawayang-nya  – setelah melalui berbulan-bulan rangkaian tes – didiagnosa mengidap leukemia. Seorang gadis kecil 5 tahun, seusia Arkana saya, sekarang sedang menghadapi puluhan jadwal kemoterapi.

Sejak saya mendengar berita ini beberapa hari yang lalu, sampai saat ini, saya bahkan belum menanyakan kabarnya. Boro-boro menelpon. Saya bahkan belum sekedar mengirimkan SMS.

Karena sungguh, apa yang bisa saya katakan? Apa yang bisa saya katakan tanpa merasa bersalah?

Apa yang bisa saya sampaikan? Bahwa ia harus bersabar? Tidakkah ia tau bahwa ia memang SEDANG bersabar? Tidakkah ia geram mendengar saran bertubi-tubi dari berbagai orang yang isinya sama. Sabar ya.... Betulkah kalimat penghiburan standar seperti ini bisa menghibur? Bisa meringankan beban? Mungkin bisa. Saya nggak tau.

Saya ingin bersyukur bahwa kejadian ini tidak saya alami.  Tapi sungguhkah perlu bersyukur di atas kejadian sedih yang dialami orang lain? Betulkah ‘musibah’ yang sedang ia alami ini benar-benar sekedar musibah? Atau jangan-jangan itu semua justru penghargaan terbesar yang bisa Allah berikan padanya? Saya betul-betul nggak tau.

Yang akhirnya saya lakukan adalah berdoa. Agar teman baik saya ini dikuatkan. Agar anaknya dikuatkan. Agar apa pun hasil perjuangan mereka akan membawa mereka lebih dekat padaNya. Agar siapa pun yang disentuh oleh kejadian ini bisa belajar sebanyak apa yang sedang mereka pelajari.

Saya janji, saat saya (akhirnya memberanikan diri) menjenguknya dan anaknya, saya janji, saya hanya akan memeluknya. Mungkin saya akan menangis. Mungkin juga tidak. Tapi saya akan memeluknya. Agar ia tau ada orang yang sedang ikut belajar bersamanya.

Is it really never too late to learn?

2 Feb

Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya siang ini: Apa udah terlambat untuk mulai menulis di usia gue ini?

Saya sempet terkesima. Kalau sekedar saya jawab tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, walaupun memang bener, tapi klise banget kan ya.

Saya jadi mikir, saya juga nggak muda-muda amat sih waktu mulai belajar menulis skenario film. Umur saya 36 tahun waktu itu. Saya sih nggak merasa tua, tapi jelas 36 tahun itu sedikit lebih senior dibandingkan temen-temen seperjuangan saya yang usianya 20an tahun.

Malah, guru saya, Titien Wattimena (@tinut) memperkenalkan saya ke koleganya sambil cekikikan, Kenalin nih, penulis tua berbakat, sebagai pelesetan dari ‘penulis muda berbakat’. Oh ya, btw, berbakat atau nggaknya, sepenuhnya bukan saya yang menilai ya, tapi orang lain. Walau sebenernya buat saya nggak penting sih penilaian orang lain, yang penting cuma penilaian bu guru saya yang baik hati itu.

*tiba-tiba pengen nyinyir hehehe*

Owwkeeyy.. jadi kembali ke pertanyaan teman saya ini tadi, saya jadi tiba-tiba teringat sama David Seidler, penulis The King’s Speech. Skenarionya menang di Oscar 2011. Dan berapa usianya saat mendapat penghargaan ini? 73 tahun!

Barusan saya baca lagi profilnya di wikipedia. Kalau saya nggak salah ngerti, beliau baru mulai mengejar mimpi Hollywoodnya di usia 40. Beliau menulis berbagai film, tapi baru dengan film The King’s Speech-lah beliau memenangkan Oscar.

Perjuangan beliau dalam menulis TKS pun nggak main-main. Sejak 1970an beliau sudah bercita-cita menuliskan film ini dan mulai melakukan berbagai riset. Tapi di tahun 1981, Ratu Inggris memintanya melupakan ide itu. Dan proyek itu pun resmi ditutup di 1982.

Ibu Ratu meninggal di 2002. Tapi Seidler tidak langsung memulai penulisan filmnya, sampai akhirnya di tahun 2005 ia didiagnosa mengidap kanker tenggorokan. Diagnosa itu malah membuatnya teringat bahwa ada mimpinya yang belum terlaksana, yaitu menulis tentang Raja George VI (si tokoh dalam film tsb).

Dan kita semua tau akhir cerita ini. Ia adalah pemenang Oscar dengan usia tertua, kategori penulis skenario.

Inspiratif? Sangat.

Apakah saya bisa seperti beliau? Yah… Kalau saya bisa mencapai sepersepuluh saja dari apa yang beliau capai, saya anggap diri saya penulis skenario yang berhasil.

Tapi apakah saya jadi merasa muda? Udah pasti.. :)

Jadi, apa bener tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar? Bener. Kecuali buat yang merasa tua dan memang sengaja mengizinkan dirinya terlambat. :)))

 

 

 

Tags:

Ibuku dan segala kualitasnya

22 Dec

Satu hal yang saya yakini dilakukan oleh Ibu saya selama menjadi seorang ibu adalah mempertahankan sikap besar-hatinya. Saya yakin itulah yang membuatnya bisa menjaga kewarasannya saat membesarkan kami berdua. :) Karena saya tahu bukan usaha mudah untuk membesarkan dua perempuan keras kepala yang sering mau menang sendiri dan ‘bersumbu pendek’, alias cepet meledak. Perlu hati yang sangat besar dan pemaaf untuk bisa terus hidup dengan anak-anak seperti kami.

Hatinya sedemikian besar dan pemaaf saya tahu bahwa setiap saat saya butuh ditenangkan dan dihibur, saya selalu bisa mengetuk kamarnya dan membuangi apapun ‘sampah’ yang memenuhi hati saya. Jika saya mengeluh sakit hati pada seseorang, beliau akan dengan entengnya bilang, Udahlah.. Nggak usah terlalu dibawa ke hati. Maafin aja. Ngapain kamu sebel sendiri padahal orang itu santai-santai aja. Gampang banget kan nasehatnya? Saya juga tau kalo cuma begitu aja sih. Tapi rasanya tetep lain kalau itu keluar dari bibir ibu saya. Lain rasanya.

Kelebihan Ibu saya yang lain adalah beliau sangat friendly. Gampang sekali mendapat teman baru. Saya, bahkan sampai saat ini, saat sedang jalan bareng Ibu, pun masih sering mencetus, Ibu ih, semua orang diajakin ngomong. Iseng banget sih kayak nggak ada kerjaan aja. 

Tapi saya tahu persis, kelebihannya inilah yang membuat kami sering diberi ‘fasilitas lebih’ oleh orang-orang yang baru kita kenal. Misalnya: harga yang lebih murah, kualitas barang yang lebih baik, jumlah yang lebih banyak, barang-barang bonus. Hahahahaha.. Mangkanya, bahkan sampai saat ini, kalau saya butuh orang untuk menawar harga reparasi jok sofa, misalnya, saya akan minta tolong Ibu saya. Udah nyela, masih minta tolong lagi. Dasar kur’at. Hehe..

Oh ya, dan satu lagi. Ini kualitas utama beliau, menurut saya. Beliau sangat berorientasi pada solusi. Saat buku Don’t Sweat the Small Stuff  baru keluar dan jadi salah satu best-seller, saya udah tau dari awal kalau ibu saya nggak butuh buku ini. Prinsip beliau: kalau masalahnya belum ada di depan mata, ya nggak usah dipikirin. Tapi kalau udah di depan mata pun, pikirin jalan keluarnya. Dan kalo masalahnya kecil, aduh nggak usah lah digede-gedein.

Misalnya, kalau saya terbentur masalah, saya akan berkeluh-kesah panjang lebar. Itu kebiasaan saya. Kikikikikkk.. Nah, ibu saya akan dari utara ke selatan, timur ke barat, nawarin berbagai solusi. Dan saya akan dari utara ke selatan, timur ke barat, nyari alasan kenapa solusi apapun yang beliau tawarin nggak akan berhasil.

Tapi pernahkah saya akhirnya dengar beliau mengeluh, Jadi kamu maunya gimanaaa?? Nggak. Hampir nggak pernah. Yang saya dengar justru adalah solusi berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya. Sampai saya nggak nemu celah apapun untuk berkeluh-kesah lagi. Hahahahaha..

Jadi bener deh, kalau aja saya bisa jadi separuh sehebat ibu saya, itu udah akan jadi pencapaian yang luar biasa.

I love you Bu. Always.

Love the game, and you’ll be happy

17 Nov

Alhamdulillah, film pertama yang skenarionya saya tuliskan mulai ditayangkan hari ini. Saya berhutang banyak sekali pada banyak orang dalam perjalanannya, dan selamanya saya akan berterimakasih.

Apakah saya bangga? Ya, tentu saja. Tapi kebanggaan bisa berbeda tipis sekali dengan kesombongan. Dan saya harus belajar untuk bisa membedakannya.

Jadi, pelajaran pertama saya adalah untuk membatasi rasa bangga itu sampai di rasa bangga saja. Tidak lebih.

Apakah saya siap dikritik? Hahaha… kemungkinan besar nggak. Tapi saya tau, tak mungkin saya menyenangkan hati semua orang.

Maka pelajaran kedua saya adalah untuk bisa menerima kenyataan dengan besar hati bahwa akan ada pihak yang berbeda pendapat dengan saya. Dan itu biasa. Itu wajar.

Apakah saya jadi lebih bisa menghargai karya orang lain? Ya, akhirnya saya bisa. Karena pada saat kita menilai sebuah karya, kita tak selalu 100% mengetahui apa yang terjadi dalam proses penciptaannya. Bisa saja sebuah karya dihasilkan dari usaha yang asal-asalan. Tapi tentu saja sangat mungkin sebuah karya dihasilkan melalui proses perjuangan – terlepas dari apapun hasilnya.

Maka pelajaran ketiga saya adalah untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat saya tentang apapun. Tentang siapapun.

Pelajaran terakhir saya dari peristiwa bersejarah ini adalah bahwa pada akhirnya tak penting apa yang dipikirkan dan dikatakan orang lain tentang kita. Yang terpenting adalah apa yang kita pikir tentang diri kita. Apakah kita sudah menjadi diri kita sendiri? Dan apakah kita bahagia menjadi diri kita sendiri?

Karena sejauh ini, jawaban saya dari kedua pertanyaan tersebut adalah: Ya.

Then, nothing else matters.. (maklum, penggemar Metallica.. hehehe…)

Mentor saya, Mbak Titien Wattimena, mem-BBM (duh, ngga bener banget nih tata bahasanya mem-BBM, halah..) saya malam ini. Isinya:

Jose Morinho, pelatih sepakbola terhebat saat ini, memulai karir dengan menjadi penerjemah bahasa Portugis untuk seorang pelatih legendaris Inggris – Sir Bobby Robson. Yang paling ia ingat dari semua nasihat Sir Bobby adalah: When you win, you shouldn’t assume you’re the team. And when you lose, you shouldn’t think you’re rubbish. The truth is, you just need to love the game. And you’ll be happy.

-So, love the game. Love yourself. Love your life. And you’ll be happy.-

Pak Izzad – guru mulia

15 Sep

Beberapa hari lalu, di sekolah Alayka, saya berpapasan dengan guru agamanya. Profilnya sekilas mirip-mirip Ahmad Fuadi, pengarang novel national best seller – Negeri 5 Menara. Yah, kira-kira kayak gitu tampilannya: kecil, berkacamata, dan sering tersenyum tulus. Aduh, senyumnya itu lho, bikin perasaan ayem-ayem gimanaa gitu. Nggak seperti guru agama dalam bayangan saya, yang harus selalu berkopiah dan berbaju muslim, siang itu beliau mengenakan batik dan jeans.

Saya cengengesan, agak malu-malu bertanya apakah Alayka sudah hafal Al Fatihah-nya atau belum, karena saya merasa nggak rajin melatihnya di rumah. “Ah, hafal kok dia, Ma..” jawabnya singkat. “Tapi kalau arti surah Al Fatihah memang Alayka belum hafal.”

Lho, emang udah perlu menghafal artinya juga, Pak? “Ah, belum wajib dihafal kok Ma.. Yang penting anak2 tau bahwa setiap kalimat dalam surah ada artinya.. Yang penting mereka paham inti pesan yang ingin disampaikan oleh surah itu.”

Naah, lega deh saya. Dengan sok tahu, saya nyeletuk lagi, Yang lebih penting lagi aplikasinya ya, Pak.. Guru lulusan Kairo ini tergelak. “Iya Ma, bener. Yang penting bagaimana anak menerapkan budi pekertinya setelah berhasil memahami sebuah surah.” Lalu ia menyambung, “Yang merasa sudah hafal dan tau semuanya itu kan yang biasanya selalu merasa benar, Ma.”

Aih… buat saya, ideal betul guru satu ini. Bagi guru ini, yang paling penting bukan ‘hafal’, tapi ‘paham’. Yang paling penting bukan ‘sudah tau’, tapi ‘ingin tau lebih banyak’.

Dan menurut saya, sebaik-baiknya seorang guru adalah guru yang bisa membuat anak didiknya ingin tau lebih banyak, dan ingin memahami tanpa sok tau.

Pak Izzad, semoga Allah menurunkan semakin banyak guru-guru seperti Bapak, dan memberkahi guru-guru semulia Bapak dengan setinggi-tingginya kemuliaan. Aamiin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 308 other followers