Beberapa waktu lalu, saya pulang setelah acara reuni makan malam dengan teman-teman lama. Di perjalanan, di sebuah sudut jalan, saya melihat sesosok balita berdiri di sebelah ibunya dalam kegelapan. Kalau melihat cara berpakaiannya, kemungkinan ibunya berprofesi sebagai peminta-minta pinggir jalan.
Pemandangan yang saya lihat sebenarnya sangat biasa. Kita menemukannya setiap hari di setiap sisi Jakarta. Yang membuat pemandangan itu menarik adalah karena balita itu dari jauh terlihat sama persis dengan anak saya yang paling kecil. Sama-sama kelihatan baru belajar jalan, dengan tinggi dan ukuran badan yang sama.
Namun yang paling menarik perhatian saya, kedua ibu dan anak itu sedang berpelukan dan tertawa bahagia. Entah karena apa. Dan saat itulah, ketika mobil saya melaju menjauh, saya menangis.
Saya menangis, karena saya tahu, inshAllah anak saya sedang tidur dengan nyaman di rumah. Saya tahu, inshAllah anak saya besok pagi bisa minum susu dan makan makanan bergizi. Sedangkan, pada saat yang sama, saya tidak tahu besok pagi akan bagaimana nasib anak di pinggir jalan itu – anak yang dari jauh tampak seperti anak saya itu.
Saya menangis, karena bahkan dalam ketidakpastian itu, ibu dan anak tadi masih memilih untuk tertawa.
Saya jadi takjub sendiri. Saat seseorang dalam keadaan nyaman, seorang lainnya bisa berada dalam ketidaknyamanan. Saat seseorang diuji dengan kemudahan, seorang lainnya diuji dengan kesulitan. Dan suatu saat, keadaan bisa berubah 180 derajat. Tidak ada yang mutlak. Tidak ada yang pasti. Hidup ini justru ‘hidup’ karena ketidakpastian.
Namun satu hal saya tahu pasti. Di tingkat manapun kita berada dalam kehidupan ini, kita selalu bisa putuskan untuk merasa bahagia. Karena merasa bahagia adalah sebuah pilihan.